Kasus Super Flu Masuk Sumsel, Bahaya Mana dari COVID-19?

- Kasus Super Flu masuk Sumsel, 5 dari 62 kasus di Indonesia berasal dari Sumsel.
- Super Flu tidak lebih ganas dari flu biasa atau COVID-19, gejalanya mirip flu musiman.
- Pencegahan melalui penggunaan masker, daya tahan tubuh, dan kewaspadaan di tengah musim penghujan.
Palembang, IDN Times - Kasus Influenza A subclade K atau yang dikenal sebagai Super Flu sudah masuk wilayah Sumatra Selatan (Sumsel). Sebelumnya, Kementerian Kesehatan mencatat total 62 kasus Super Flu di Indonesia dan lima di antaranya dari Sumsel.
Berdasarkan informasi Dinas Kesehatan Sumsel, kasus Super Flu telah ditelusuri dan dari Balai Biologi Kesehatan (Biokes) tercatat ada lima orang positif Super Flu pada Oktober 2025 lalu dengan hasil laboratorium merupakan sampel kiriman RSUP Dr Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang.
1. Gejala Super Flu sama dengan flu biasa

Kementerian Kesehatan merilis, kasus super flu pertama kali terdeteksi di Jawa Tengah, sedangkan temuan terbaru terjadi di Jawa Barat. Pola penyebaran ini menjadi dasar penguatan kewaspadaan di wilayah dengan mobilitas penduduk tinggi.
Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A(H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan. Gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan.
2. Kasus Super Flu naik relatif tak signifikan di Indonesia

Sementara dari pernyataan Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, kasus Super Flu tidak memiliki tingkat keganasan yang lebih tinggi dibandingkan influenza biasa maupun COVID-19.
Namun yang penting saat menderita Super Flu, pasien harus menjaga kondisi kesehatan dan daya tahan tubuh. Sehingga ketika terinfeksi, pemulihan dapat berlangsung dengan baik seperti flu umumnya.
Kemudian, masyarakat juga diminta untuk tidak berlebihan dalam menyikapi kemunculan Super Flu, sebab karakteristiknya berbeda dengan COVID-19.
Subclade K merupakan salah satu varian dari virus influenza tipe A subtipe H3N2, serupa dengan kemunculan berbagai varian pada virus COVID-19 selama masa pandemi. Sedangkan H3N2 merupakan virus influenza yang secara global cenderung meningkat tiap tahun, terutama di negara empat musim saat musim dingin. Namun, di Indonesia peningkatan kasus relatif tak signifikan.
3. Super Flu tidak memiliki tingkat fatalitas tinggi

Terkait pencegahan, Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa penularan influenza, termasuk subclade K, terjadi melalui udara dan penggunaan masker dianjurkan bagi individu yang mengalami gejala flu, terutama saat berada di ruang publik.
Selain itu, daya tahan tubuh dinilai sebagai faktor utama dalam melawan infeksi influenza. Serta dengan asupan gizi cukup, istirahat memadai, serta aktivitas fisik teratur, sistem imun tubuh umumnya mampu mengatasi infeksi flu mandiri.
Hal penting perlu digarisbawahi adalah Super Flu tidak memiliki tingkat kematian tinggi dari penyakit menular berat lainnya.
4. Masyarakat diminta tetap waspada kasus Super Flu

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel, Ira Primadesa mengatakan, meski tak berbahaya dan tidak memiliki tingkat kematian tinggi, masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan serta daya tahan tubuh.
Ira juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi merebaknya kasus Super Flu terutama di tengah musim penghujan.
"Kewaspadaan tetap diperlukan dengan pendekatan edukatif dan berbasis risiko," jelasnya.


















