Oknum polisi yang kedapatan membawa sajam dan mengancam pengemudi di jalanan (Dok: istimewa)
Diberitakan sebelumnya, korban pengancaman Bripka Edi yakni, Dodi mengatakan kejadian pengancaman bermula saat dirinya terlibat perselisihan dengan anak pelaku di kawasan Simpang Polda. Saat itu, seorang perempuan muda turun dari mobil dan memarahi korban usai bersenggolan mobil.
"Saat itu juga seorang penumpang perempuan turun dari mobil dan langsung marah-marah kepada saya dan teman-temannya. Sehingga saat itu juga saya menepi karena kondisi jalan yang macet," jelas dia.
Dodi awalnya mengajak berbicara baik-baik dengan sang pengemudi dan menanyakan Surat Izin Mengemudi (SIM), namun sang pengemudi tidak memilikinya
"Setelah tahu yang membawa mobil tidak ada SIM. Saya langsung menasehatinya pak, untuk tidak membawa kendaraan kalau tidak ada SIM, namun anak terlapor masih tetap marah-marah sambil menelpon orang tuanya,” ungkap dia.
Tak lama berselang, terlapor Bripka Edi datang. Bukanya melerai kejadian, yang bersangkutan justru memarahi pelapor dan mengaku dirinya seorang anggota polisi.
"Seketika, itu saya langsung mengajaknya ke Polda sumsel namun terlapor malah mengatakan kalau tidak punya SIM tidak masalah bawa mobil di jalan," jelas dia.
Karena pertikaian yang terjadi dipinggir jalan dan membuat kemacetan korban pun mengajak kasus ini diselesaikan di Polda Sumsel. Keduanya sempat sepakat namun terlapor justru melarikan diri ke arag Talang Buruk (Sukarami).
"Saat itu saya masih berpikir positif karena mau menyelesaikan masalahnya di rumah. Ketika saya turun hendak menyalami, dia mendorong dan mencekik. Saat itu juga dia memegang pisau yang disembunyikan di belakang badan," tutur dia.