Peserta liga debat dari UGM
Jason Valentino dari UGM menambahkan, sebenarnya Indonesia mendapatkan keuntungan dari target NZE 2060 menuju transisi energi hijau. Yakni keuntungan tidak hanya ekonomi, tetapi juga berdampak pada lingkungan. Harapannya, transisi hijau bisa mencegah kenaikan suhu bumi maksimal dua derajat celcius.
"Kita tahu, Indonesia turut berkontribusi pada upaya global mencegah krisis iklim. Komitmen ini sudah dituangkan dalam kebijakan resmi melalui Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022 termasuk soal PLT EBT (Pembangkit Listrik Tenaga Energi Baru Terbarukan) dan kendaraan listrik," jelas dia.
Namun kata Jason, target NZE 2060 juga tidak bisa dilihat secara idealistik semata. Melainkan secara realistis dan horizontal mencakup semua sektor. Seperti dari sisi mengapa pertumbuhan ekonomi harus diperhatikan dalam konteks NZE.
"Karena berdasarkan roadmap, biaya mitigasi yang dibutuhkan mencapai Rp200–300 triliun per tahun. Angka yang sangat besar jika dibiayai dengan cara menaikkan pajak atau menurunkan subsidi. Ini bisa berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi dan berpotensi meningkatkan pengangguran," kata dia.
Jason menyampaikan, solusinya adalah mendorong investasi hijau berkelanjutan menggandeng Kementerian Keuangan untuk mendorong perusahaan untuk mengadopsi energi ramah lingkungan dan pengelolaan limbah lebih baik.
"Strategi menuju NZE harus didorong dengan kesadaran bahwa bumi kita, pada 2032, bisa mencapai penurunan suhu hingga 1,5 derajat celcius. Ini bukan sekadar isu lingkungan, tetapi soal keberlangsungan hidup," katanya.
Meski terlihat egois karena menargetkan pencapaian NZE sesegera mungkin, Jason komitmen untuk tetap mempertahankan ekonomi konvensional di tengah realisasi NZE di 2060. Yakni tetap mendukung NZE keberlanjutan dan pertumbuhan ekonomi dengan selaras.
"Harus berjalan beriringan sebagai instrumen masa depan," jelas dia.