TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Adik Kandung Brigadir J Pernah Diminta Tanda Tangani Dokumen

Tawaran pindah dinas mendadak berdatangan ke adik Brigadir J

Brigadir Polisi Nofriansyah Yosua Hutabarat (kanan) ketika bersama atasannya mantan Kadiv Propam Irjen (Pol) Ferdy Sambo (www.facebook.com/@rohani.simanjuntak)

Jambi, IDN Times - Keluarga mendiang Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J, hingga saat ini belum menerima bahkan melihat hasil autopsi jenazah pria yang bakal berusia 28 tersebut.

Kuasa hukum keluarga Brigadir Yosua, Kamaruddin Simanjuntak mengatakan, ibu, ayah, dan kakak korban tak pernah dimintai izin oleh pihak kepolisian untuk autopsi terhadap jenazah Brigadir J.

Namun adik Brigadir J yang juga anggota polisi bertugas di Mabes Polri, pernah diperintah untuk menandatangani sebuah dokumen.

"Setelah saya selidiki, adiknya mengatakan kalau dia diperintah oleh Karo Provos untuk menandatangani kertas, tapi tidak tahu apakah itu izin autopsi atau tidak," kata Kamaruddin, Minggu (17/7/2022).

Baca Juga: Keluarga Brigadir J: Pahit Atau Manis Asal Sesuai Fakta

Baca Juga: Guru SD Brigadir J Mengenang Sosok Anak Sekolah yang Sopan dan Pintar

1. Adik kandung Brigadir J tak bisa melihat jasad kakaknya

Suasana rumah Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo di kompleks Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan, Jumat (15/7/2022). (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Adik Brigadir J kata Kamaruddin, tak pernah melihat kondisi kakak kandungnya setelah menandatangi kertas atau dokumen tersebut.

"Tidak pernah melihat mayat abang saya, baik sebelum atau sesudah saya tanda tangani," kata Kamaruddin menirukan pernyataan adik Brigadir J.

Dia, kata Kamarudin, cuma melihat peti mati sang kakak dan tidak bisa membukanya.

Baca Juga: Ada Hubungan Keluarga, Alasan Kamaruddin Dipercaya Jadi Pengacara

2. Tawaran pindah berdatangan

Peta Kasus Penembakan Brigadir Yosua (IDN Times/Aditya Pratama)

Pasca kejadian penembakan itu, adik Brigadir J mendapat banyak tawaran dari berbagai pihak. Termasuk tawaran untum pindah tugas ke Jambi.

"Ada yang menawarkan pekerjaan, ada yang menawarkan hadiah, ada yang menawarkan untuk tidak lagi bertugas di Mabes dan pindah ke Jambi. Biar dekat dengan ibu dan ayah, penawaran yang berhamburan di sana. Tiba-tiba polisi berubah menjadi sinterklas," kata Kamaruddin.

Baca Juga: Kompolnas Minta Penembak Brigadir J Harus Dilindungi, Ada Apa?

Berita Terkini Lainnya