Comscore Tracker

Go Digital, Cara UMKM Tak Bangkrut dan Gulung Tikar

Suka atau tidak, UMKM perlu melek teknologi agar selamat

Palembang, IDN Times - Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan sektor terpenting Tanah Air. Sebanyak 120 juta angkatan kerja di Indonesia bekerja di sektor UMKM, sehingga bisa menghasilkan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 61,7 persen. 

Pandemik yang terjadi sejak tahun lalu, menjadi pukulan keras bagi pelaku usaha sektor UMKM. Daya beli masyarakat menurun ditambah pembatasan oleh pemerintah; Idul Fitri 1442 Hijriah misalnya. Ketika lebaran sebagai momen UMKM meraup cuan yang banyak, justru terkendala oleh larangan mudik.

Bagi UMKM yang sudah lama berkecimpung di dunia digital, mereka tetap bisa memasarkan produk mengingat dunia internet yang tak berbatas. Pelanggannya dari mana saja, dan bisa membeli serta mengirimkan barang kapan saja.

Tapi ada beberapa UMKM yang bergerak lamban, belum melihat peluang besar dari dunia digital hingga akhirnya gulung tikar. Sejumlah pemerintah daerah sudah mendorong agar UMKM yang terpuruk tak makin banyak. Mereka memberi bantuan dan kemudahan. Begitu juga perusahaan swasta maupun plat merah yang mulai rutin memberi pelatihan sebagai bekal pelaku UMKM go digital.

1. Digitalisasi sebagai sebuah harapan

Go Digital, Cara UMKM Tak Bangkrut dan Gulung TikarIDN Times/Dhana Kencana

Rina Jayanti, pelaku UMKM di Palembang menceritakan, awalnya ia yang menjajakan produk lewat kios depan rumah. Rina menjual aksesori perempuan seperti pernak-pernik hijab. Ketika pandemik tahun lalu, ia harus menutup kios karena sepi pembeli.

Rina sama sekali tak pernah terpikir untuk berjualan melalui online. Sebab kata dia, faktor minim kemampuan dan pengetahuan teknologi menjadi alasan. Ia kemudian "terpaksa" belajar media sosial (medsos) saat bergabung komunitas Crafter.

"Saya diajarkan teman buat Instagram biar bisa jualan online. Terus diajarkan untuk memanfaatkan momen, jualan masker juga akhir tahun lalu. Dijual lewat Facebook dan Instagram," katanya, Minggu (23/5/2021).

Sherlly Novresta, pelaku usaha 3A D'Art di Jalan Swadaya Pakjo, Palembang, juga mengaku mendapat manfaat besar ketika berjualan online. Menurut dia, dunia digital membantu pelaku usaha mendapat pesanan.

"Saya jualan kerajinan craft seperti aksesori khas Palembang, gantungan kunci songket, mahar songket, dan barbie Aesan Gede lewat offline. Setelah mulai jualan online, pesanan meningkat 80 persen," jelasnya.

Suka atau tidak, pandemik COVID-19 membuka mata setiap orang jika berjualan tak selamanya bisa dilakukan secara offline. Melalui digitalisasi, mendekatkan diri kepada pelanggan bisa dilakukan dengan mudah.

Pemilik Giowari Put ra Craft (GWP Craft) asal Sleman, Stefanus Indri Sujatmiko mengungkapkan, dirinya merasakan dampak sejak awal pandemik COVID-19. Bahkan, GWP Craft sempat tidak melakukan produksi hingga empat bulan karena cash flow yang minus.

"Cash flow usaha minus untuk bayar tenaga kerja keluar terus, pemasukan mulai seret. Kemarin sempat lancar terus ada PSBB se-Jawa jadi seret lagi," ungkapnya, Jumat (21/5/2021).

Pengusaha yang memanfaatkan bonggol jagung sebagai basis kerajinan ini mengatakan, omzetnya sempat minus 70-80 persen. Bahkan momen lebaran yang biasa digunakan untuk meraup banyak keuntungan, menjadi sepi lantaran peniadaan mudik. Bukan hanya itu, pembatalan pesanan pun juga sangat banyak.

"Sangat besar penurunannya, daya beli masyarakat rendah, produk kita (craft) juga bukan kebutuhan pokok masyarakat," kata pengusaha yang berbasis di Sendangagung, Minggir.

Indri memperkecil keterpurukan dengan memanfaatkan teknologi digital. Ia meminta para karyawan untuk membuat akun di lokapasar atau e-commerce untuk mendongkrak penjualan. "Saya minta anak buah saya buka akun di e-commerce sama bikin design baru," terangnya.

Menurut Indri, teknologi digital ini sebenarnya tidak asing bagi GWP Craft, di mana pada tahun 2017 sudah mulai menggunakan berbagai layanan digital. Seperti layanan yang ada di beberapa lokapasar, medsos, serta di platform Google.

"GWP berdiri 5 Januari 2016. Pemakaian digital sekitar tahun 2017, setelah banyak pembinaan dari dinas terkait seperti Disperindag kabupaten dan provinsi, Dinkop kabupaten dan provinsi dan lain-lain seperti banyak ikut event lomba harus berbasis industri 4.0," jelasnya.

Menurut Indri, jika dibandingkan dengan direct selling, penjualan secara digital memang masih kalah signifikan. Namun demikian, pemanfaatan teknologi digital untuk pemasaran produk juga turut berpengaruh terhadap produk.

Baca Juga: Digitalisasi UMKM Palembang: Produk Tenar, Jangkau Pembeli Luar

2. Terbantu oleh kehadiran lokapasar

Go Digital, Cara UMKM Tak Bangkrut dan Gulung TikarLokapasar pasar Pandansari, Balikpapan melalui aplikasi pandansari.id. Dok. pandansari.id

Perkembangan teknologi dan informasi mengubah pola dan gaya hidup masyarakat, termasuk dalam berbelanja melalui internet. Lokapasar atau yang biasa dikenal sebagai e-commerce tidak hanya dimanfaatkan oleh perusahaan besar, tetapi juga UMKM Tanah Air.

Cake Salakilo, UMKM di Balikpapan misalnya. Usaha milik Riswahyuni, asal Kota Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), sudah tiga tahun belakangan memanfaatkan lokapasar sebagai sarana memasarkan produk.

Yuni, sapaannya, menggunakan platform Shoppee dan Bukalapak. Dengan dua aplikasi ini, pembelinya tak cuma sebatas warga Balikpapan saja. Bahkan hingga ke Medan, Bandung, Jakarta, dan kota-kota lainnya.

"Kecenderungannya pelanggan asal Balikpapan pun malah lebih memilih beli di marketplace. Kata mereka banyak promo. Padahal sudah saya tawari pakai ojek online. Dia pilih lewat marketplace," terangnya.

Berbagai platform lokapasar memang memberi beberapa kemudahan dan keuntungan. Seperti pembeli yang tak harus memilih ekspedisi, namun bisa menggunakan jasa pengantaran melalui kurir online. Belum lagi sistem bayar nanti atau paylater.

Pada momen lebaran kemarin, produk Yuni yang paling banyak dibeli adalah hamper seharga Rp1 jutaan. "Kami kemas menggunakan box kayu. Isinya ada kue kering, kerajinan tangan, ada lilin aroma terapi. Makanya bukan cuma kue kering," terang Yuni.

Yuni merasakan perbedaan jika hanya berjualan di offline store dan medsos, dibandingkan dengan berjualan di lokapasar juga. Sejak menggunakan marketplace, pendapatannya naik hingga 30 persen. "Kan ada kelasnya. Jadi kami tidak hanya dibiarkan mendaftar saja. Tapi ada pembinaan juga dari mereka. Kami diajak ikut kelas mereka," kata Yuni.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) membantu pelaku UMKM untuk bertransformasi ke digital. Salah satunya menyediakan platform perdagangan elektronik lokal untuk UMKM yang ada di daerahnya.

Terbaru, Pemkot Bogor menggandeng PT Bawa Indonesia Global untuk membuat platfom bernama Bogor Hitz. Wali Kota (Wako) Bogor, Bima Arya menuturkan, perjanjian kerja sama ini menjadi upaya Pemkot membantu pengembangan potensi UMKM.

"Saya minta kalau hari ini tanda tangan, saya minta betul ini dijadikan program prioritas. Saya paham UMKM itu tidak mudah (promosi). Tapi Bogor ini potensinya dahsyat. Untuk itu saya ingin sukses untuk kemaslahatan, economic recovery, economic rebound, dan untuk pendapatan bagi warga yang bisa kita banggakan lagi," ungkapnya, Rabu (19/5/2021).

Komisaris PT Bawa Indonesia Global, Eka Lorena Soerbakti menuturkan bahwa kerja sama ini merupakan upaya Lorena Grup untuk memberi kemudahan akses bagi UMKM menjaring pembeli. Melalui platform Bogor Hitz, UMKM bisa berjualan tanpa syarat administrasi apa pun seperti platfom lainnya.

"Kita juga ada pelatihan-pelatihan kepada mereka. Berbeda dengan e-commerce lain yang hanya untuk jual beli. Kita akan bantu UMKM dari nol hingga mampu memproduksi produk berkualitas," ujar Eka.

Selain Bogor Hitz, Pemprov Jabar juga sudah meluncurkan Borongdong.id, platform lokapasar yang menghimpun para pelaku usaha berbagai sektor. Tujuannya tak lain untuk akselerasi transformasi digital UMKM, memperkuat kelangsungan usaha, mempercepat siklus ekonomi, mendorong semangat bangga produk lokal, hingga mendorong nation branding produk lokal menjadi unggulan.

Lebih dari 260 mitra UMKM tergabung dalam Borongdong.id. Gubernur Jabar, Ridwan Kamil mengatakan, Aparatur Sipil Negara (ASN) juga diminta berbelanja berbagai kebutuhan melalui Borondong.id. Menurutnya, ASN bisa menjadi golongan ekonomi tidak terdampak pandemik COVID-19.

"Karena pandemik COVID-19 ini perang, semua harus bela negara. Yang punya ilmu bela negara dengan ilmu, yang punya harta bela negara dengan belanja. Kenapa kasih judul 'Bela Negara dengan Belanja', supaya semangat kebangsaan kita muncul," ujar Emil.

3. Gratis UMKM dan daftar izin usaha

Go Digital, Cara UMKM Tak Bangkrut dan Gulung TikarMal Pelayanan Publik di Jakabaring, Palembang. (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Cara yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi untuk membangkitkan gairah UMKM patut ditiru. Mereka memberi layanan gratis ongkos kirim (ongkir) untuk pelaku UMKM. Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani mengatakan, Pemkab bekerja sama PT Pos dan mengalokasikan dana khusus untuk ongkir UMKM.

"Kami siapkan anggaran dari APBD untuk program tersebut. Agar para pelaku UMKM bisa terus berproduksi dan menjual produk mereka," katanya saat menjadi narasumber program Salam Ramadan, Cerita Indonesia by IDN Times, Senin (26/4/2021).

Ipuk mengatakan, sektor ekonomi mikro menjadi fokus Pemkab Banyuwangi. Apalagi sejak pandemik COVID-19, para pelaku UMKM sangat terdampak. "Ini upaya kami untuk bisa membantu agar UMKM bisa bangkit dan kembali produktif," tambahnya.

Ia mengakui pelaku UMKM tak bisa berbuat banyak. Larangan mudik oleh pemerintah membuat UMKM mencari cara agar menjual produk mereka, padahal lebaran merupakan momen yang paling dinanti karena produk oleh-oleh banjir pesanan.

"Biasanya kalau momen mudik, para pelaku UMKM menambah stok cukup banyak. Tetapi karena ada larangan mudik, maka pelaku UMKM tidak bisa menyiapkan stok banyak," sambungnya.

Pelaku UMKM olahan makanan De Rilief Jaya, Awalul (36) mengatakan, ia memaksimalkan pemasaran produk olahan ikan pedas, tahu krispi, sambal petis, dan sale tepung secara online.

Ia mengatakan, biaya ongkir ke luar kota sedikit memberatkan pelanggan. Belum lagi produk yang dikirim ke luar kota harus dikemas sedemikian rupa untuk menjaga kualitas. Akibatnya, harga jual kembali meningkat.

"Sebelumnya karena dampak pandemik saya sempat tidak produksi camilan, hanya dititipkan ke warung dengan kemasan lebih ekonomis. Saat denger ada gratis ongkir ini, seneng banget, karena ke konsumen gak mikir ongkir lagi. Kalau ongkir kan berat," ujar Awalul saat dihubungi, Minggu (23/5/2021).

Awalul saat ini sering mengirimkan paket makanannya ke Surabaya, Bali, Malang, dan Cirebon. Untuk mendapatkan program gratis ongkir dari Bupati Banyuwangi itu, ia cukup menunjukkan KTP dan Nomor Induk Berusaha (NIB), atau surat keterangan usaha dari kelurahan bagi yang belum memiliki NIB.

Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang memberi kemudian bagi UMKM yang ingin mengurus surat izin usaha. Tak perlu lagi datang ke  Mal Pelayanan Publik (MPP) Jakabaring, tapi akses ke aplikasi dan menyertakan beberapa syarat,

"Tidak saja untuk UMKM, usaha skala besar juga bisa mengakses Online Single Submission (OSS) untuk izin usaha," ujar Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Palembang, Akhmad Mustain, Kamis (11/3/2021).

Mustain menjamin OSS bisa mempercepat proses membuat izin usaha, seperti waktu yang lebih singkat untuk mengurus perizinan restoran. Sebab biasanya butuh waktu enam sampai delapan hari. "Tapi dengan one click di OSS, urus perizinan satu hari pun bisa selesai," kata dia.

Berbeda halnya yang dilakukan oleh Pemkot Balikpapan, Kalimantan Timur. Menurut Kepala Dinas Koperasi UMKM dan Perindustrian (KUMKMP) Kota Balikpapan, Adwar Skenda Putra mengungkapkan, banyak hal yang perlu dipersiapkan dan dibenahi agar UMKM lebih mudah bertransformasi ke digital.

"Jadi pelaku usaha ataupun produk pelaku usaha ini kami kurasi kembali. Walaupun saat ini sudah ada beberapa produk unggulan. Ada 20-lah yang secara produksi bisa dikatakan baik," ungkapnya saat dihubungi IDN Times, Kamis (20/5/21).

Setidaknya ada sekitar 27 ribu UMKM di Balikpapan. Pemkot setempat berupaya memaksimalkan branding produk UMKM di Balikpapan. Mulai dari kemasan dan kualitas serta hasilnya. Selanjutnya, Dinas KUMKMP Balikpapan mendorong pelaku usaha ke pemasaran online atau daring.

"Sementara ini perhatian kami masih di situ. Selain itu juga pelatihan untuk kemasan dan kemitraan. Di 2020 yang tidak jalan, kami laksanakan di 2021," imbuhnya.

Baca Juga: Kisah UMKM Lampung, Fokus Digital Jual Produk hingga ke Mancanegara 

4. Pamer produk ke luar negeri

Go Digital, Cara UMKM Tak Bangkrut dan Gulung TikarPertamina berkreasi membuat pameran UMKM secara virtual dalam kegiatan Pertamina SMEXPO. IDN Times/Anggun Puspitoningrum.

Sheyla Taradia Habib, pemilik sebuah produk perawatan kulit bagi ibu dan bayi bernama Beeme Indonesia, paham betul peran digitalisasi terhadap perkembangan UMKM. Tak cuma eksis di pasar nasional, Beeme buatannya bisa dikenal oleh orang-orang di luar negeri.

Produk UMKM asal Provinsi Lampung ini diformulasikan dari bahan-bahan alami, khususnya bahan turunan lebah yang mengatasi berbagai macam permasalahan pada kulit. Niat awal berbagi informasi melalui medsos, justru pelembap itu mendapat banyak respons positif.

"Awal mulai sebelum pandemik Mei 2019, buka penjualan dengan sistem preorder modal awal hanya Rp180 ribu. Tapi Alhamdulilah, langsung laku 100 pieces," imbuh dia.

Seriring berjalan waktu, Beeme makin banyak diminati. Sheyla memberanikan diri menemui Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Sandiaga Uno, saat melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Lampung.

"Alhamdulillah pak Sandi menyambut positif dan menjadi salah satu UMKM asal Lampung yang dibawa dan diperkenalkan ke Mesir pada Desember 2020 kemarin," papar dia.

Berkat itu, Sheyla mengaku konsumen pelanggan Beeme tidak hanya dari dalam negeri, namun juga luar negeri.

"Mungkin umumnya mereka mengalami kulit kering saat musim salju. Jadi mereka pakai Beeme, karena skincare ini untuk melembabkan dan merawat kulit, bukan skincare produk kecantikan," terangnya.

Menurutnya, digital mampu menyediakan pasar bagi para pengusaha dalam jumlah banyak dan luas, sehingga menjanjikan serta membuka peluang besar.

"Misalnya pemasaran Beeme, semua murni mengandalkan via digital dan ketika seluruh sektor kebingungan karena pandemik. Alhamdulillah, penjualan Beeme tidak ikut berdampak dan malah semakin melonjak. Baru-baru ini saja kita pasang baliho di jalan protokol Kota Bandar Lampung," terang Sheyla.

Yadi Robyan Noor, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM Kaltim mengungkapkan, UMKM yang sudah go digital mampu mencatat transaksi ekspor hingga Rp428,2 miliar selama pandemik.

Kaltim memiliki 307.343 UMKM aktif. Jumlah tersebut tersebar di 10 kabupaten dan kota. Terdiri dari 297.207 usaha mikro, 9.440 usaha kecil dan 696 usaha menengah. Jenis usaha beragam. Paling banyak sektor kuliner mencapai 83.996 unit, selanjutnya perdagangan 169.142 unit, jasa sebanyak 28.711 unit, industri pengolahan 13.921 unit dan industri kerajinan hingga 1.573 unit.

Sebanyak 1,5 juta tenaga kerja terserap dari sektor informal ini. Bahkan selama pandemik, Instansi Penerbit Surat Keterangan Asal (IPSKA) mencatat ada 15 UKM dari Kaltim yang sukses menembus pasar internasional.

“Tahun ini sudah ada 21 UMKM, semoga bisa bertambah terus sehingga target 100 pelaku UMKM merealisasikan ekspor bisa tercapai pada 2023 mendatang,” sebutnya.

Ratusan miliar total ekspor tersebut, lanjut Yadi, berasal dari ragam komoditas. Misalnya, olahan dari kayu, minyak jelantah hingga asam lemak bebas. Khusus olahan kayu diminati Singapura, Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, Taiwan, Jerman, Italia, Belanda, Islandia, Afrika Selatan dan Amerika Serikat.

Sedangkan, lidi nipah dan sawit digemari India. Khusus minyak jelantah dikirim ke Belanda dan Malaysia. Ada juga komoditas udang yang dikirim ke Jepang, Inggris, dan Taiwan. Rumput laut ke Korea Selatan. Merica diekspor ke Singapura, Amerika, Afrika Selatan, dan Islandia.

Tak hanya itu, kata Yadi, UMKM Kaltim juga sukses mengekspor barang-barang dari industri kreatif. Jumlahnya mencapai Rp7,6 miliar. Sukses menembus pasar luar negeri juga tak lepas dari konsistensi para pelaku UMKM menjaga kualitas produk.

5. Pasar tradisional dan petani juga bertranformasi ke digital

Go Digital, Cara UMKM Tak Bangkrut dan Gulung TikarCara Belanja Online di Pasar Tradisional Palembang, Mudah Tanpa Ribet (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Pasar Kebon Semai di Kawasan Sekip Palembang telah menerapkan program belanja online. Para pembeli kini hanya tinggal pesan kebutuhan via WhatsApp yang langsung terhubung ke pedagang.

Selain aplikasi mainstream itu, pembeli juga bisa memesan kebutuhan rumah tangga seperti sembako lewat aplikasi PasarDHD. Calon pembeli tinggal install di smartphone melalui. Wakil Wali Kota (Wawako) Palembang, Fitrianti Agustinda atau Finda berharap, transaksi jual beli online bisa terus berjalan maksimal di pasar tradisional.

"Kita berharap pasar-pasar lain bisa cepat terealisasi. Apalagi saat corona, program online semacam ini sudah wajar dilakukan karena menyangkut kesehatan orang banyak," ujarnya.

Direktur Utama Perusahaan Daerah (Dirut PD) Palembang Jaya, Abdul Rizal menambahkan, belanja online diterapkan merata di 18 kecamatan se-Palembang. Menurut Abdul, program ini sudah disiapkan sejak lama sebelum pandemik.

"Program ini bukan karena pandemik corona, kita sudah lama merencanakan. Tapi kebetulan baru efektif di kondisi sekarang, jadi kondisinya sangat mendukung," tambah dia.

Bagi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jabar, Herawanto, pandemik COVID-19 yang diiringi dengan penerapan protokol kesehatan mengakibatkan perubahan perilaku masyarakat yang lebih digital (digital lifestyle). Herawanto menyebut hal ini bagian dari fase new normal.

"Salah satu perubahan yang terjadi adalah inovasi dan pemanfaatan teknologi digital yang meningkat begitu cepat dalam berbagai sektor ekonomi, di antaranya sektor pertanian. Hal ini tentunya merupakan tantangan sekaligus peluang bagi berbagai para pelaku usaha di sektor pertanian dalam melakukan pengembangan bisnisnya," ujar Herawanto.

Dia menuturkan, pengembangan laman ini merupakan suatu prestasi yang luar biasa yang digagas oleh kelompok petani muda dengan nama 'Agri Muda' yang merupakan bagian dari Gapoktan 'Lembang Agri', peraih Juara 1 Klaster Championship Bank Indonesia Tahun 2018, dan Juara 1 Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Terbaik Tingkat Nasional pada tahun 2019.

Bukan hanya menghasilkan komoditi dengan kualitas ekspor seperti brokoli, buncis, buncis kenya, dan lettuce head, namun Gapoktan Lembang Agri juga menghasilkan berbagai inovasi pemanfaatan teknologi yang terus dikembangkan untuk mendukung kegiatan digital farming dari sisi hulu dan hilir.

"Dalam proses pemasaran yang dilakukan melalui platform e-commerce yang dibangun oleh Gapoktan 'Lembang Agri' melalui website dan aplikasi Android, juga mendukung implementasi transaksi non tunai di masyarakat yang sangat adaptif di era new normal dan berkontribusi terhadap percepatan digitalisasi ekonomi dan keuangan di Indonesia," ujarnya.

Baca Juga: Pandemik COVID-19, UMKM Kaltim Sukses Ekspor Produk ke 14 Negara

6. Menunggu infrastruktur dan dukungan yang lebih besar

Go Digital, Cara UMKM Tak Bangkrut dan Gulung TikarIDN Times/Dhana Kencana

Mendorong UMKM merambah ke dunia digital memang tidak mudah. Dibutuhkan edukasi secara mendalam dan kontinu agar mereka paham jika adaptasi terhadap kemajuan teknologi sebagai pondasi masa depan sebuah usaha.

Perwakilan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Lampung, Balqis Thalita Ardila mengatakan, sudah seharusnya UMKM beradaptasi dan menerapkan konsep Society 5.0. Menurutnya, pemerintah dan pihak swasta berperan menyosialisasikan hal itu pada pelaku UMKM.

Kepala Penelitian Bidang Ekonomi dari Central for Urban and Regional Studies, Erwin Octavianto mengatakan, digitalisasi UMKM adalah hal yang wajib di situasi dan kondisi saat ini. Pada masa pandemik COVID-19, digitalisasi merupakan sebuah solusi atau cara menghindari gelombang kebangkrutan.

Mau tidak mau, pelaku UMKM  harus beradaptasi dengan kecanggihan dunia digital. Tapi edukasi kepada UMKM tak melulu soal betapa penting dan manfaatnya, tetapi strategi dan analisis. UMKM yang ingin menarik minat calon pembeli, harus mengemas produknya dengan visualisasi yang baik.   

Ketua Asosiasi Asesoris, Kerajinan, Kaos, Kuliner, Batik (Akrab) Banyuwangi, Syamsudin menyebut, masih banyak pelaku UMKM yang gagap teknologi, dan harus belajar dari awal untuk menyesuaikan diri.

Belum lagi masalah infrastruktur. Menurut Direktur Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Ahmad M. Ramli, sebanyak 12.548 desa di Indonesia belum tersentuh oleh sinyal Internet. Ahmad harus mengakui, pemerataan jaringan internet bukan perkara mudah mengingat wilayah Indonesia sangat luas dengan kondisi geografis yang beragam.

Namun bukan tidak mungkin hal itu bisa dilakukan. Dengan jaringan internet yang dibangun merata, transaksi digital hari ini mencapai 65 persen dari jumlah masyarakat di Tanah Air bisa meningkat.

Kepala Grup Departemen Penyelenggaraan Sistem Pembayaran (DPSP) Bank Indonesia, Rahmad Hernowo mengatakan, pandemik COVID-19 membuat volume transaksi digital meningkat drastis.

"Hal ini dipengaruhi penggunaan sistem cashless atau non tunai merupakan usia produktif dan paham teknologi. Secara keseluruhan, 66 persen pengguna digitalisasi adalah millennial dan dewasa," terangnya.

Baca Juga: Wow! Beli Sembako di Pasar Tradisional Palembang Bisa Lewat Online

Penulis: Feny Mauli Agustin, Tama Wiguna, Alfi Ramadana, Zumrotul Abidin, Siti Umaiyah, Ervan Masbanjar, Fatmawati, Yuda Almerio, dan Debbie sutrisno.

Baca Juga: Program Gratis Ongkir Bangkitkan UMKM di Banyuwangi

Topic:

  • Deryardli Tiarhendi

Berita Terkini Lainnya