Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Fakta SFC: Krisis Finansial, Tanpa Sponsor, Terancam WO-Degradasi

Sriwijaya FC vs PSPS Pekanbaru
Sriwijaya FC vs PSPS Pekanbaru (Instagram/Sriwijaya FC)
Intinya sih...
  • Sriwijaya FC (SFC) mengalami krisis finansial dan tanpa sponsor, terancam walk out hingga degradasi ke Liga Nusantara.
  • Tim internal mengalami masalah, termasuk minimnya persiapan dan dukungan teknis serta tekanan berat di luar aspek teknis.
  • Klub hanya mendapat dana patungan dari manajemen, tidak lagi mendapatkan suntikan dana dari pemilik saham terbesar, dan terancam Walk Out jika tidak melanjutkan persiapan di laga berikutnya.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Sriwijaya FC (SFC), klub legendaris asal Sumatra Selatan (Sumsel) kini dalam kondisi makin terpuruk. Usai tak pernah menang sepanjang Pegadaian Championship 2025/2026, kini Laskar Wong Kito terancam walk out hingga potensi degradasi ke Liga Nusantara.

Tak hanya krisis finansial dan tanpa sponsor sepanjang musim berlangsung, diketahui kabar terbaru Skuad Elang Andalas tidak lagi menerima dorongan dana dari PT Digi Sport Asia yang selama ini menyokong tim.

1. Sriwijaya FC tanpa pelatih kiper

Sriwijaya FC vs Sumsel United
Sriwijaya FC vs Sumsel United (Media Officer)

Selain persoalan keuangan, internal tim pun mengalami masalah. Salah satunya, selama pertandingan berjalan, Sriwijaya FC tidak mendapat latihan khusus dari pelatih kiper. Sebab, Laskar Wong Kito hanya memiliki Pelatih Kepala Budi Sudarsono.

Fakta tersebut disampaikan kiper utama Sriwijaya FC, Muhamad Zaenuri Azhar. Dia secara terbuka mengungkap kondisi internal tubuh Skuad Elang Andalas. Ia menyebut minimnya persiapan dan dukungan teknis sebagai faktor utama keterpurukan tim.

Akibat pengakuannya, kini Sriwijaya FC kian mendapati sorotan luas. Apalagi dengan absennya pelatih kiper di level kompetisi profesional seperti Liga 2, jadi bukti kondisi yang tim sangat tak ideal dan mencerminkan masalah serius di struktur kepelatihan.

2. Sriwijaya FC terdampar di dasar klasemen

Persiraja Banda Aceh melawan Sriwijaya FC.
Persiraja Banda Aceh melawan Sriwijaya FC. (Dokumentasi Media Office Persiraja Banda Aceh untuk IDN Times)

Tak saja soal performa, tekanan berat yang dihadapi Sriwijaya FC ini juga terjadi pada dalam situasi finansial yang buruk dan persoalan kian membelit di luar dari aspek teknis dan kualitas pemain.

Bahkan kini, Sriwijaya FC terdampar di dasar klasemen. Hingga pekan ke-14, klub kebanggaan Sumsel itu hanya mampu mengoleksi dua poin dari 14 pertandingan. Kekalahan telak 2–5 dari PSPS Pekanbaru di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring pada Minggu (4/1/2026) lalu adalah kondisi nyata rapuhnya tim yang pernah double winner itu.

Terbaru, masalah utama Sriwijaya FC adalah tidak lagi mendapatkan suntikan dana dari pemilik saham terbesar. Sejak 31 Desember 2025, dukungan keuangan dari Alexander Rusli melalui PT Digi Sport Asia resmi setop.

Keputusan tersebut menjadi titik balik yang sangat memilukan, karena sejak saat itu Sriwijaya FC praktis kehilangan sumber dana utama. Klub kini berjalan tanpa sponsor, tanpa investor, dan tanpa pendanaan tetap.

3. Keterpurukan Sriwijaya FC terasa di berbagai lini

Sriwijaya FC
Sriwijaya FC kontra Persikad (Dok. Media Officer)

Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, diketahui Sriwijaya FC kini hanya mendapati dana patungan dari struktural manajemen. Direktur Olahraga PT SOM, Anggoro Prajesta menyatakan kebenaran jika Digi Sport Asia telah menarik dukungan untuk operasional klub.

SFC sekarang dalam beban sangat berat dan disebut tak bisa lagi bangkit dan kemungkinan paling dekat, Sriwijaya FC tak bisa tegak lama lagi. Sebab kata Anggoro, mengelola klub sepak bola profesional tanpa sponsor merupakan beban yang nyaris mustahil ditanggung secara individu.

Imbas terhentinya dukungan dana dari Digi Sport Asia pun langsung terasa di berbagai lini. Aktivitas latihan tidak berjalan normal, gaji pemain tersendat dan ketidakpastian menyelimuti ruang ganti.

4. Manajemen telah menyampaikan kondisi klub secara terbuka kepada pemain

Persiraja Banda Aceh melawan Sriwijaya FC
Persiraja Banda Aceh melawan Sriwijaya FC. (Dokumentasi Media Office Persiraja Banda Aceh untuk IDN Times)

Kabarnya sekarang, pelatih kepala Budi Sudarsono memilih kembali ke Jakarta karena tidak adanya kejelasan terkait operasional tim. Situasi ini membuat Sriwijaya FC praktis lumpuh di tengah kompetisi, meski masih menyisakan 13 pertandingan yang harus dijalani.

Sementara dari pernyataan Manajer tim Fidesia Noor, dirinya telah menyampaikan secara terbuka soal finansial tim kepada para pemain. Dia mengungkap kondisi keuangan klub dalam situasi sangat negatif.

Dalam pengumuman internal manajemen, disebutkan bahwa investor yang sebelumnya ingin membantu SFC dan dijanjikan mendukung, batal melanjutkan proses pendanaan akibat tekanan eksternal. Meski sampai sekarang klub masih melakukan renegosiasi, namun manajemen belum bisa menghasilkan kepastian.

Manajemen mengakui bahwa harapan terbesar SFC sekarang adalah masuknya investor baru. Namun, iklim yang tidak kondusif, termasuk tekanan dan konflik di ruang publik, menjadi penghambat utama.

5. Sriwijaya FC masih berupaya terhindar dari WO

Persiraja Banda Aceh melawan Sriwijaya FC
Persiraja Banda Aceh melawan Sriwijaya FC. (Dokumentasi Media Office Persiraja Banda Aceh untuk IDN Times)

Keterpurukan yang dialami Laskar Wong Kito ini pun membuat Wakil Presiden nonaktif Sriwijaya FC, Mohammad David menyuarakan kelelahan. Apalagi dia sempat ingin membantu dan mendorong investor yang berniat membantu klub.

Namun niat positifnya, justru jadi sasaran serangan personal di media sosial dan situasi itu berbahaya bagi klub. Kini dirinya juga pasrah menerima keadaan dan kenyataan, karena tidak bisa berbuat apapun.

Kemerosotan SFC tak berhenti di masalah keuangan, sekarang klub terancam Walk Out (WO) jika tidak melanjutkan persiapan di laga berikutnya kontra Persekat Tegal.

Tetapi di tengah krisis, rombongan tim masih berusaha berangkat ke Tegal menggunakan bus klub untuk menghadapi laga ke-15 Pegadaian Championship 2025/2026. Langkah ini jadi simbol komitmen terakhir klub untuk tetap bertahan, meski dengan sumber daya yang sangat terbatas.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hafidz Trijatnika
EditorHafidz Trijatnika
Follow Us

Latest Sport Sumatera Selatan

See More

Sumsel United vs PSPS Pekanbaru, Nilmaizar: 3 Poin Harga Mati

09 Jan 2026, 15:11 WIBSport