Kenapa Asap Karhutla dari Daerah Lain Bisa Sampai ke Palembang?

Kabut asap di Palembang tidak selalu berasal dari kebakaran داخل kota; karhutla di Ogan Ilir dan Ogan Komering Ilir dapat menjadi sumber asap.
Angin berkecepatan sekitar 8–10 knot di Sumsel menggerakkan massa udara, sehingga asap dari wilayah terbakar terdorong dan masuk ke Palembang.
Ketebalan asap dipengaruhi kondisi atmosfer serta konsentrasi partikulat; jumlah hotspot tidak otomatis mencerminkan tingkat kabut asap yang dirasakan warga.
Palembang, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih menjadi masalah di Palembang, Sumsel. Pasalnya, asap hasil karhutla terbawa angin hingga menyebabkan Palembang terasa seperti kota asap.
Pada titik tertentu, beberapa wilayah di Palembang mengalami kebakaran. Namun, faktanya, kebakaran dari Ogan Ilir (OI) dan Ogan Komering Ilir (OKI) lah yang membuat Palembang terasa seperti berkabut. Berikut IDN Times mengulas, kenapa asap Karhutla bisa sampai ke Palembang.
1. Asap tidak harus berasal dari Palembang

Karhutla yang melanda kawasan Kertapati Palembang (ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI) Munculnya kabut asap di Palembang tidak otomatis berarti terdapat kebakaran besar di dalam kota.
Sejumlah wilayah di Sumsel yang masih mengalami karhutla dapat menjadi sumber asap. Ketika asap sudah terbentuk, pergerakannya dipengaruhi oleh kondisi atmosfer, termasuk arah dan kecepatan angin.
Karena itu, wilayah yang tidak mengalami kebakaran secara langsung tetap dapat terdampak asap dari daerah lain.
2. Angin membawa asap ke wilayah lain

Pemadaman Karhutla di kawasan Gambut di Desa Kota Bumi, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir (OKI) ANTARA FOTO/Nova Wahyudi Angin berperan dalam menggerakkan massa udara dari satu wilayah ke wilayah lainnya. BMKG sebelumnya mencatat angin di wilayah Sumsel bertiup sekitar 8-10 knot ketika kabut asap menyelimuti Palembang.
"Untuk angin yang bertiup lebih kencang, tercatat sekitar 8-10 knot," ungkap Kepala Stasiun Meteorologi SMB II Palembang, Siswanto.
Dengan kondisi tersebut, asap dari wilayah yang masih mengalami kebakaran dapat terdorong mengikuti arah pergerakan angin. Artinya, lokasi munculnya asap yang dirasakan masyarakat tidak selalu sama dengan lokasi sumber kebakarannya.
3. Kenapa asap bisa bertahan di udara?

Kondisi kabut asap di kota Palembang yang tiba-tiba gelap ditutupi polusi kebakaran hutan dan lahan (IDN Times/Rangga Erfizal) Setelah terbawa angin, konsentrasi asap di suatu wilayah juga dipengaruhi oleh kondisi atmosfer.
Partikel hasil pembakaran dapat berada di udara dan menyebar mengikuti pergerakan massa udara. Dalam kondisi tertentu, partikulat dapat bertahan di dekat permukaan sehingga kualitas udara dan jarak pandang ikut terganggu.
"Ratusan titik api yang menyala membuat asap kembali tebal. Kondisi ini membuat asapnya sampai masuk ke Palembang," jelasnya.
Kondisi inilah yang kemudian membuat masyarakat tetap merasakan dampak asap meskipun sumber kebakaran berada di wilayah lain.
4. Kabut asap dan hotspot merupakan hal yang berbeda

Kondisi kabut asap di kota Palembang yang tiba-tiba gelap ditutupi polusi kebakaran hutan dan lahan (IDN Times/Rangga Erfizal) Jumlah hotspot juga tidak bisa langsung disamakan dengan tingkat kabut asap yang dirasakan masyarakat.
Hotspot merupakan titik panas yang terdeteksi oleh satelit dan digunakan sebagai salah satu indikator untuk melihat adanya potensi kebakaran. Sementara itu, kondisi kabut asap di suatu wilayah dipengaruhi oleh sejumlah faktor lain, termasuk keberadaan sumber asap, arah angin, kondisi atmosfer, hingga konsentrasi partikulat di udara.
Karena itu, ketika jumlah hotspot di Sumsel menurun, bukan berarti asap di Palembang langsung menghilang.
5. Hujan bisa membantu, tapi bukan berarti asap langsung hilang

Kondisi kabut asap di kota Palembang yang tiba-tiba gelap ditutupi polusi kebakaran hutan dan lahan (IDN Times/Rangga Erfizal) Hujan dapat membantu membersihkan partikulat dari udara. Namun, kondisi udara dapat kembali memburuk apabila masih terdapat sumber kebakaran di wilayah lain dan asap kembali terbawa menuju Palembang.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, menjelaskan bahwa hujan dapat memperbaiki kualitas udara. Tercatat hujan di beberapa wilayah di Sumsel sempat memperbaiki kondisi udara.
"Hujan kemarin memang natural, tetapi juga didukung oleh OMC. Kondisi ini berpengaruh bagi kualitas udara," jelas Wandayantolis.
Dengan kata lain, kondisi udara di Palembang tidak hanya ditentukan oleh ada atau tidaknya kebakaran di dalam kota, tetapi juga oleh apa yang terjadi di wilayah sekitarnya dan bagaimana kondisi atmosfer saat itu.
Selama masih terdapat sumber karhutla, asap masih berpotensi bergerak ke wilayah lain mengikuti kondisi angin.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















