Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Potensi Olahan Susu Kerbau Rawa Pampangan jadi Menu MBG Sumsel

Potensi Olahan Susu Kerbau Rawa Pampangan jadi Menu MBG Sumsel
Ilustrasi populasi kerbau (pixabay.com/Ivko)
Intinya Sih
  • Olahan susu dan daging kerbau rawa Pampangan berpotensi menjadi menu program Makanan Bergizi Gratis (MBG) Sumatera Selatan.
  • Populasi kerbau rawa Pampangan menurun hampir 50 persen dalam dua tahun terakhir akibat PMK, keterbatasan lahan, konversi lahan, dan serangan penyakit hewan.
  • Optimalisasi kawasan rawa sebagai padang pengembalaan dengan sistem rotasi diusulkan untuk meningkatkan populasi kerbau rawa Pampangan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Palembang, IDN Times - Olahan susu dari hewan ternak Kerbau Rawa Pampangan di Ogan Komering Ilir (OKI) berpotensi jadi menu program Makanan Bergizi Gratis (MBG) Sumatra Selatan (Sumsel).

Apalagi olahan susu dengan kandungan protein itu berpeluang menghasilkan produk unggulan seperti mozzarella. Kemudian daging kerbau pun bisa menjadi opsi lauk di menu MBG yang bermanfaat seperti penyajian rendang daging kerbau.

1. Menu olahan kerbau seperti rendang bisa menjadi opsi hidangan MBG di Sumsel

ilustrasi kerbau (pexels.com/Diogo Miranda)
ilustrasi kerbau (pexels.com/Diogo Miranda)

Menurut Dokter Hewan Ahli Madya Provinsi Sumsel, Jafrizal, daging kerbau diolah menjadi menu rendang sudah tenar dan populer di Sumatera Barat (Sumbar). Semestinya potensi itu bisa diikuti oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Sumsel.

"Sementara susu kerbau bisa dimanfaatkan untuk produk tradisional yang sesuai dengan program MBG pemerintah," kata dia, Sabtu (18/1/2025).

2. Optimalisasi kawasan rawa bisa mendorong peningkatan populasi di Sumsel

ilustrasi induk dan anak kerbau (pexels.com/JIUN-JE LIN)
ilustrasi induk dan anak kerbau (pexels.com/JIUN-JE LIN)

Namun memang, potensi pengolahan daging maupun susu dari daging kerbau rawa Pampangan harus seiring dengan optimalisasi kawasan rawa, sehingga populasi kerbau bisa makin banyak.

Sebab saat ini kata Jafrizal, populasi kerbau rawa Pampangan mengalami penurunan akibat penularan Penyakit Mulut dan Kaki (PMK) dan keterbatasan lahan rawa.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), populasi kerbau rawa Pampangan menurun signifikan dalam dua tahun terakhir. Tercatat pada 2024, populasi menurun hampir 50 persen, dari 27.161 ekor pada 2021 tahun 2023 hanya 15.110 ekor.

"Salah satu solusi yang diusulkan adalah mengoptimalkan kawasan rawa sebagai padang pengembalaan," jelas Jafrizal.

3. Optimalisasi lahan rawa bisa dibuat dengan sistem padang pengembalaan

ilustrasi kerbau di hutan rawa (pexels.com/ Matt Burke)
ilustrasi kerbau di hutan rawa (pexels.com/ Matt Burke)

Melihat populasi kerbau rawa Pampangan yang kian menipis, Jafrizal sangat prihatin. Sebab kata dia, kerbau rawa Pampangan dengan nama ilmiah Bubalus bubalis merupakan fauna endemik.

"Kerbau ini diakui pemerintah sebagai plasma nutfah atau sumber daya genetik ternak lokal Indonesia yang tidak dimiliki daerah lain," katanya.

Jafrizal menyarankan, untuk meningkatkan populasi kerbau rawa Pampangan, sebaiknya dilakukan optimalisasi kawasan rawa sebagai padang pengembalaan, dengan sistem rotasi.

Sistem rotasi lanjut dia, membuat biaya pakan dapat ditekan hingga 70 persen. Kemudian biaya produksi ternak akan menurun. Kondisi ini kata Jafrizal bisa menjadikan kerbau rawa Pampangan lebih kompetitif dibandingkan daging impor.

4. Program vaksinasi juga penting menjaga populasi kerbau rawa Pampangan

kerbau asia (commons.wikimedia.org/Davidvraju)
kerbau asia (commons.wikimedia.org/Davidvraju)

Jafrizal menilai, beberapa faktor menjadi penyebab penurunan populasi kerbau rawa, antaranya konversi lahan rawa menjadi perkebunan dan akibat kebakaran hutan yang mengurangi ketersediaan pakan alami. Kemudian karena serangan penyakit hewan seperti Septisemia Epizootika (SE). "Termasuk PMK dan parasit darah," kaya dia.

Penyakit-penyakit tersebut lanjutnya, telah menyebabkan kematian tinggi pada kerbau, dan makin memperburuk penurunan populasi kerbau.

Selain itu, usia produktivitas indukan kerbau rawa Pampangan juga makin lambat akibat kondisi lingkungan yang tak mendukung, seperti terbatasnya ruang penggembalaan.

Ia mengusulkan pentingnya program vaksinasi yang lebih intensif serta pengelolaan kawasan pengembalaan yang lebih baik untuk mengurangi dampak penyakit tersebut.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Feny Maulia Agustin
Martin Tobing
Feny Maulia Agustin
EditorFeny Maulia Agustin
Follow Us

Latest News Sumatera Selatan

See More