RSUD Sekayu Penuh, Pasien ISPA dan Diare Membeludak Sepanjang Kemarau

- RSUD Sekayu penuh akibat peningkatan pasien ISPA, diare, dan tifoid selama kemarau panjang; sekitar 70 pasien ISPA dirawat, mayoritas anak-anak, sementara 16 pasien masih berada di IGD.
- Kemarau, kabut asap, debu, dan kekurangan cairan disebut meningkatkan kerentanan gangguan kesehatan. Penuhnya rumah sakit juga dipengaruhi rujukan dari puskesmas dan daerah lain.
- Pemkab Muba memantau kualitas udara, dengan ISPU mencapai 145. Sejumlah desa menerapkan PJJ, sementara RSUD menyiapkan ruang tambahan untuk mengantisipasi lonjakan pasien.
Take a Deeper Reads

Musi Banyuasin, IDN Times - Peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat pencemaran udara selama musim kemarau panjang terjadi di wilayah Kabupaten Musi Banyuasin (Muba). Kondisi tersebut membuat kapasitas ruang perawatan RSUD Sekayu penuh, baik untuk pasien dewasa maupun anak-anak. Bahkan sekitar 16 pasien masih di IGD karena belum dibawa ke ruang rawat inap, mulai dari kelas 1, 2, 3, dan VI.
Plt Direktur RSUD Sekayu, Ucu Arunsang, mengatakan, dari sejumlah penyakit yang ditangani, pasien ISPA yang menjalani perawatan saat ini sekitar 70 orang dan mayoritas merupakan anak-anak. Selain ISPA dan diare, tifoid juga menjadi penyakit yang banyak ditemukan di RSUD Sekayu.
"Kalau ISPA, kejadiannya fluktuatif atau naik turun. Sekarang ini tren yang banyak di RSUD Sekayu banyak pasien diare dan tifoid, mungkin karena kemarau panjang dan air menjadi susah," ujarnya Rabu (7/10/2026).
1. Paparan debu dan asap membuat masyarakat rentan alami gangguan kesehatan

Plt Direktur RSUD Sekayu, Ucu Arunsang. (Fajeri for IDN Times) Ucu menambahkan, kondisi kemarau panjang dan kabut asap menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kesehatan masyarakat. Paparan debu dan asap ditambah kekurangan cairan tubuh dapat membuat masyarakat lebih rentan mengalami gangguan kesehatan.
"Kemarau dan kabut asap ini menjadi kunci utama agar imun masyarakat menjadi lebih. Oleh karena itu, tetap jaga kesehatan dan menggunakan masker jika beraktivitas," ungkap Ucu Arunsang.
2. Banyak pasien rujukan dari puskesmas maupun daerah lain

Plt Direktur RSUD Sekayu, Ucu Arunsang saat meninjau kondisi pasien. (Fajeri for IDN Times) Penuhnya RSUD Sekayu juga dipengaruhi oleh banyaknya pasien rujukan dari puskesmas maupun daerah lain. Menurut Ucu, pasien yang kondisinya masih dapat ditangani di puskesmas sebaiknya tidak langsung dirujuk ke RSUD Sekayu.
"Kalau kondisinya belum mengkhawatirkan, seharusnya bisa ditangani dulu oleh puskesmas. Kalau memang urgensi, baru bisa langsung ke RSUD," jelasnya.
Untuk mengantisipasi ruang perawatan yang penuh, pihak RSUD Sekayu menyiapkan ruangan tambahan sehingga pasien yang membutuhkan perawatan tetap dapat tertangani.
"Jika terjadi lonjakan pasien atau Kejadian Luar Biasa (KLB), kita telah menyiapkan ruangan tambahan. Ada beberapa gedung yang siap digunakan jika terjadi membludaknya pasien," ucapnya.
3. Kondisi kualitas udara yang ada di setiap kecamatan terus dipantau

Bupati Muba Toha Tohet. (Fajeri for IDN Times) Sementara itu, Bupati Muba Toha Tohet menjelaskan, kondisi kualitas udara yang ada di setiap kecamatan terus dipantau, terutama di wilayah yang terdampak karhutla dan kabut asap. Sejumlah desa sebelumnya sudah menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sebagai langkah untuk mengantisipasi dampak kabut asap terhadap aktivitas belajar-mengajar.
"ISPU sudah 145. Kemarin sudah disampaikan bahwa ada daerah yang sudah melakukan PJJ di beberapa desa. Kita pantau jika kabut asap pekat, maka sekolah bisa melakukan PJJ sesuai dengan aturan yang telah dikeluarkan," katanya.
Toha juga menyoroti kondisi di Desa Muara Medak yang terdampak karhutla. Ia meminta seluruh perangkat desa dan kecamatan tetap berada di wilayah masing-masing untuk membantu penanganan di lapangan.
"Saya menginstruksikan semua perangkat desa dan kecamatan untuk tetap selalu ada. Minggu depan saya akan ke Medak dan bermalam untuk melakukan pemadaman dan memonitor kondisi," ungkapnya.




















