Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa BBM Cepat Habis di Kota Macet Seperti Palembang? Ini Penyebabnya
ilustrasi macet (vecteezy.com/Khunkorn Laowisit)
  • Kemacetan di Palembang membuat konsumsi BBM meningkat karena kendaraan sering berhenti dan jalan, memaksa mesin bekerja lebih keras meski jarak tempuh pendek.
  • Mesin yang tetap menyala saat berhenti lama di lampu merah atau kemacetan tetap membakar BBM tanpa menghasilkan jarak tempuh, sehingga penggunaan bahan bakar jadi tidak efisien.
  • Kondisi kendaraan dan gaya berkendara seperti akselerasi mendadak, ban kurang angin, serta beban berlebih turut memperparah pemborosan BBM, namun bisa disiasati dengan kebiasaan berkendara efisien.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN TImes - Kondisi kemacetan di dalam kota ternyata berpengaruh bagi konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM). Saat berkendara dalam keadaan macet, pengeluaran bahan bakar terasa lebih boros, meski jarak tempuh tidak terlalu jauh.

Kondisi lalu lintas yang kerap macet, terutama pada jam sibuk, menjadi salah satu penyebab utama. Tanpa disadari, pola berkendara di jalanan padat justru membuat penggunaan BBM meningkat dibandingkan saat melaju di jalan lancar.

Berikut IDN Times merangkum penjelasan kenapa BBM dapat lebih boros saat kondisi jalanan macet.

1. Pola stop and go bikin mesin lebih boros

ilustrasi pengendara kesal setelah terjebak dalam kemacetan lalu lintas (freepik.com/diana.grytsku)

Kemacetan membuat pengendara harus sering melakukan pola berhenti dan jalan (stop and go). Kondisi ini memaksa mesin bekerja lebih keras karena harus berulang kali melakukan akselerasi dari posisi diam.

Setiap kali menarik gas dari posisi berhenti, mesin membutuhkan bahan bakar lebih banyak dibandingkan saat melaju stabil. Akibatnya, konsumsi BBM menjadi lebih tinggi meski jarak yang ditempuh relatif pendek.

2. Mesin tetap mengonsumsi BBM saat berhenti

ilustrasi macet (unsplash.com/shun idota)

Selain itu, banyak pengendara tetap menyalakan mesin saat berhenti lama di lampu merah atau kemacetan. Kondisi ini dikenal sebagai idle, yakni mesin hidup tanpa kendaraan bergerak.

Dalam kondisi tersebut, BBM tetap terbakar meski kendaraan tidak menghasilkan jarak tempuh, sehingga penggunaan bahan bakar menjadi tidak efisien.

3. Akselerasi mendadak memperbesar konsumsi BBM

ilustrasi macet (unsplash.com/ui-martin)

Kebiasaan menarik gas secara tiba-tiba setelah berhenti juga menjadi faktor yang memperparah pemborosan. Akselerasi agresif membuat mesin bekerja pada putaran tinggi dan membutuhkan lebih banyak bahan bakar.

Sebaliknya, tarikan gas yang halus dan bertahap dapat membantu menekan konsumsi BBM.

4. Beban dan Kondisi Kendaraan Ikut Berpengaruh

Kemacetan di Jalan Lintas Timur Sumatra Palembang-Betung (Dok: Satlantas Banyuasin)

Selain faktor lalu lintas, kondisi kendaraan juga turut menentukan. Ban yang kurang angin, mesin yang jarang diservis, hingga beban berlebih dapat meningkatkan konsumsi BBM.

Gesekan yang lebih besar dan kerja mesin yang tidak optimal membuat kendaraan membutuhkan energi lebih untuk bergerak.

5. Siasati dengan kebiasaan berkendara

Satlantas Polres Pringsewu melakukan rekayasa lalu lintas berupa pemasangan barrier pembatas jalan di sejumlah titik yang selama ini dikenal rawan kemacetan. (Dok. Polres Pringsewu).

Meski kondisi macet sulit dihindari, pengendara tetap bisa menyiasatinya agar BBM tidak cepat habis. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:

  • Menjaga jarak agar tidak terlalu sering rem mendadak

  • Menghindari akselerasi agresif

  • Mematikan mesin saat berhenti lama

  • Rutin melakukan perawatan kendaraan

Dengan kebiasaan yang lebih efisien, konsumsi BBM dapat ditekan meski harus menghadapi kondisi lalu lintas padat setiap hari.

Editorial Team