Ilustrasi aktivitas ekspor Sumsel (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
Meski memiliki peluang menopang pertumbuhan ekonomi positif dari hilirisasi kelapa, neraca perdagangan nilai jual komoditas tersebut malah tertekan dan harganya anjlok. Apalagi, penjualan yang menurun secara signifikan sudah berlangsung cukup lama di tingkat petani.
Kondisi ini menjadi tantangan besar yang dihadapi sektor perkelapaan nasional di tengah potensi hilirisasi kelapa yang diyakini mampu mendorong ekonomi Sumsel dalam tren tanda panah ke atas.
"Optimalisasi sektor-sektor yang belum maksimal dapat mendorong penguatan ekonomi, dan memang sektor kayak pertanian memang belum optimal," kata Bambang.
Sementara berdasarkan data yang dilaporkan dalam Musyawarah Nasional (MUNAS) II Perhimpunan Petani Kelapa Indonesia (PERPEKINDO) pada 23-24 September 2026, hilirisasi kelapa di Sumsel mengalami hambatan.
Menurut Ketua Panitia MUNAS II PERPEKINDO, Muhammad Asri Lambo, persoalan harga, pengembangan industri, dan hilirisasi kelapa menghadapi persoalan dan membutuhkan kekuatan organisasi yang lebih solid agar kepentingan petani dapat diperjuangkan.
"Persoalan harga kelapa saat ini dirasakan langsung di sejumlah daerah sentra produksi, termasuk Banyuasin," kata dia.