Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Hilirisasi Kelapa Potensi Perkuat Ekonomi, Tapi Harga Pasar Anjlok
Kepala BI Sumsel Bambang Pramono (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
  • TPID Sumsel mendorong hilirisasi kelapa untuk memperkuat ekonomi daerah, meski sektor pertanian dan pengembangan industri kelapa masih belum optimal.

  • Harga kelapa di tingkat petani Sumsel turun dari sekitar Rp4.000 menjadi Rp1.800 per butir pada Agustus 2026, dipicu pelemahan permintaan ekspor selama sekitar enam bulan.

  • Produk olahan kelapa Sumsel telah diekspor ke Prancis, China, dan Taiwan; pengiriman ke China mencakup 46 ton arang tempurung kelapa serta 25 ton keripik kelapa.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
sepanjang 2026

Harga kelapa di tingkat petani dilaporkan terus menurun.

April lalu

OJK Sumsel dan Babel menyampaikan ekspor produk turunan kelapa Sumsel menunjukkan pertumbuhan positif, termasuk arang tempurung kelapa dan keripik kelapa ke China.

kuartal kedua 2026

Nilai ekspor berbagai komoditas Sumsel mencapai Rp1,6 miliar, termasuk produk olahan kelapa ke Prancis, China, dan Taiwan.

Agustus tahun ini

Harga kelapa turun dari sekitar Rp4 ribu menjadi Rp1.800 per butir.

Senin (21/9/2026)

TPID Sumsel menyatakan hilirisasi kelapa diupayakan untuk memperkuat ekonomi di tengah anjloknya harga pasar.

23-24 September 2026

MUNAS II PERPEKINDO melaporkan hilirisasi kelapa di Sumsel terhambat persoalan harga dan pengembangan industri.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Harga kelapa di tingkat petani Sumatra Selatan turun signifikan, sementara TPID Sumsel mendorong hilirisasi kelapa untuk memperkuat ekonomi dan mengurangi ketergantungan pada penjualan bahan mentah.
  • Who?
    TPID Sumsel, Bank Indonesia Sumsel, petani kelapa, PERPEKINDO, Pemerintah Kabupaten Banyuasin, OJK Sumsel dan Babel, serta pelaku ekspor produk olahan kelapa terlibat dalam perkembangan ini.
  • Where?
    Perkembangan harga terjadi di Sumatra Selatan, termasuk sentra produksi kelapa di Banyuasin. Produk olahan kelapa dari Sumsel juga dikirim ke Prancis, China, dan Taiwan.
  • When?
    Penurunan harga berlangsung sekitar enam bulan sepanjang 2026. Pada Agustus 2026, harga turun dari sekitar Rp4.000 menjadi Rp1.800 per butir. Pernyataan Bambang disampaikan 21 September 2026.
  • Why?
    Harga anjlok dikaitkan dengan pelemahan permintaan ekspor. Pendapatan petani rentan karena kelapa masih banyak dipasarkan sebagai bahan mentah dan bergantung pada kondisi pasar.
  • How?
    TPID Sumsel mengupayakan hilirisasi dan optimalisasi sektor pertanian. PERPEKINDO menilai pengembangan industri kelapa serta penguatan organisasi petani diperlukan untuk memperjuangkan persoalan harga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Harga kelapa di Sumatra Selatan turun banyak. Dulu satu kelapa sekitar Rp4 ribu, sekarang jadi Rp1.800. Petani kelapa, termasuk di Banyuasin, jadi susah. Pak Bambang dan orang-orang lain ingin kelapa diolah jadi banyak barang. Ada kelapa parut, gula kelapa, arang, dan keripik yang sudah dikirim ke China, Prancis, dan Taiwan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah tekanan harga bahan mentah, perkembangan produk turunan kelapa menunjukkan ruang nilai tambah yang mulai terbuka bagi Sumsel. Pengiriman kelapa parut kering, gula kelapa, arang tempurung, dan keripik kelapa ke sejumlah pasar internasional mencerminkan bahwa basis perkebunan yang luas dapat terhubung dengan kegiatan pengolahan dan perdagangan yang lebih beragam.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Tim Pengendali Inflasi Daerah Sumatra Selatan (TPID Sumsel) terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan pasar. Salah satu komoditas unggul yang berpotensi memperkuat pertumbuhan ekonomi adalah kelapa. Namun, berdasarkan pergerakan perdagangan, harga jual kelapa Sumsel justru mengalami penurunan signifikan.

"Solusinya kita upayakan hilirisasinya kelapa," ujar Kepala Bank Indonesia Sumsel sekaligus bagian TPID Sumsel Bambang Pramono, Senin (21/9/2026).

1. Optimalisasi sektor pertanian disebut mampu dorong penguatan ekonomi

Ilustrasi aktivitas ekspor Sumsel (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Meski memiliki peluang menopang pertumbuhan ekonomi positif dari hilirisasi kelapa, neraca perdagangan nilai jual komoditas tersebut malah tertekan dan harganya anjlok. Apalagi, penjualan yang menurun secara signifikan sudah berlangsung cukup lama di tingkat petani.

Kondisi ini menjadi tantangan besar yang dihadapi sektor perkelapaan nasional di tengah potensi hilirisasi kelapa yang diyakini mampu mendorong ekonomi Sumsel dalam tren tanda panah ke atas.

"Optimalisasi sektor-sektor yang belum maksimal dapat mendorong penguatan ekonomi, dan memang sektor kayak pertanian memang belum optimal," kata Bambang.

Sementara berdasarkan data yang dilaporkan dalam Musyawarah Nasional (MUNAS) II Perhimpunan Petani Kelapa Indonesia (PERPEKINDO) pada 23-24 September 2026, hilirisasi kelapa di Sumsel mengalami hambatan.

Menurut Ketua Panitia MUNAS II PERPEKINDO, Muhammad Asri Lambo, persoalan harga, pengembangan industri, dan hilirisasi kelapa menghadapi persoalan dan membutuhkan kekuatan organisasi yang lebih solid agar kepentingan petani dapat diperjuangkan.

"Persoalan harga kelapa saat ini dirasakan langsung di sejumlah daerah sentra produksi, termasuk Banyuasin," kata dia.

2. Harga kelapa Sumsel turun di angka Rp1.800 per butir

Ekspor santan beku dari Sumsel ke Tiongkok (Dok. Karantina Sumsel untuk IDN Times)

Dari laporan, harga kelapa di tingkat petani dilaporkan mengalami penurunan sepanjang 2026. Bahkan pada Agustus tahun ini, harga kelapa turun dari sekitar Rp4 ribu menjadi Rp1.800 per butir.

Penurunan harga tersebut sudah berlangsung sekitar enam bulan dan salah satu faktor pemicu harga anjlok adalah keterkaitan dengan pelemahan permintaan ekspor.

"Kondisi ini menunjukkan kerentanan pendapatan petani ketika komoditas kelapa masih banyak dipasarkan dalam bentuk bahan mentah dan bergantung pada kondisi pasar," jelas Asri.

Diketahui, Banyuasin memiliki basis perkebunan kelapa yang cukup besar. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Banyuasin, luas perkebunan kelapa rakyat mencapai 48.266 hektare dengan produksi sekitar 46.927 ton pada 2023.

3. Komoditas kelapa berupa olahan turunan sudah mulai ekspor ke China

Sumsel ekspor turunan komoditas kelapa dari Pelabuhan Boom Baru Palembang (Dok. Balai Karantina)

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Sumsel pada kuartal kedua 2026, nilai ekspor dari berbagai komoditas tercatat sebesar Rp1,6 miliar ke pasar internasional. Dari nilai tersebut, termasuk ekspor produk olahan kelapa yang dikirim ke Prancis, China, dan Taiwan.

Sebelumnya, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sumsel dan Babel, Arifin Susanto, sempat menyampaikan bahwa nilai ekspor dengan pertumbuhan cukup positif itu berasal dari ekspor berbagai produk turunan kelapa.

Secara rinci, pergerakan perdagangan luar negeri dari olahan kelapa Sumsel meliputi pengiriman produk olahan kelapa berupa kelapa parut kering 3 ton dan gula kelapa 5 ribu unit. Sementata dari komoditas non-olahan kelapa ada pala 100 kg, bubuk kayu manis 200 kg, batang kayu manis 200 kg, serta bubuk kunyit 5 ton.

"Untuk produk yang diekspor ke China, ada arang tempurung kelapa 46 ton dan keripik kelapa 25 ton," kata Arifin pada April lalu.

Curated For You

Editorial Team

Related Article