Tujuh Likur di Bangka Barat, Tradisi di Ujung Ramadan

Tradisi Tujuh Likur merupakan tradisi turun temurun dilaksanakan masyarakat Desa Mancung, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat, Bangka Belitung. Tradisi yang kompak dilakukan masyarakat ini digelar pada ujung bulan puasa atau 27 hari umat Islam menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan.
Tradisi ini sebenarnya sudah ada sejak jaman dulu kemudian berkembang digelar secara besar-besaran seperti festival oleh masyarakat mulai tahun 2006. Festival Tujuh Likur ini juga mendapat dukungan dari pemerintah daerah dan provinsi di Bangka Belitung. Pasalnya budaya dan tradisi yang harus terus dilestarikan.
1. Api likur menerangi desa dengan desain masjid

Saat memasuki Desa Mancung ketika digelar tradisi ini, kita akan melihat setiap rumah menyalakan api lampu minyak yang bentuknya bermacam-macam. Warga juga membuat beberapa tampilan Api Tujuh Likur berbentuk gapura yang indah di desain seperti masjid, bunga teratai, serta bentuk-bentuk lainnya
Hal ini memberikan kesan bahwa walaupun setiap orang berbeda-beda tetapi dipersatukan dengan menunaikan Ibadah dalam bulan Puasa Ramadan ini. Pada malam puncak Festival Tujuh Likur, masyarakat juga berbondong-bondong ikut serta mengelilingi desa dengan membawa obor.
Bahkan dalam pelaksanaannya juga ada perlombaan gerbang api tujuh likur yang dibuat oleh warga, untuk mengapresiasi kreativitas dan semangat gotong royong dalam melestarikan tradisi.
2. Makna Tradisi Tujuh Likur

Tradisi Tujuh Likur sangat menarik karena ini tradisi yang menggabungkan budaya dengan kegiatan keagamaan. Budaya turun menurun ini dalam rangka menyambut turunnya lailatul qodar, yang dimana di saat itu, Bumi akan Gelap dan untuk itulah Api Likur ini dinyalakan untuk menerangi dunia.
Tujuan lain dari tradisi ini untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri, mempererat tali silaturahmi, dan melestarikan tradisi leluhur.
3. Masyarakat kompak menabur kegembiraan

Kekompakan masyarakat di Desa Mancung Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat dalam melestarikan tradisi patut diapresiasi. Mereka bahu membahu membangun gerbang tujuh likur bertujuan menabur kegembiraan dan rasa syukur pada bulan Ramadan.
Mereka juga mengubah malam menjadi pemandangan memukau dari cahaya yang berpendar dan berdoa dengan khusyuk. Ketika Tradisi Tujuh Likur dilaksanakan banyak warga dari desa lain yang datang untuk menyaksikan keindahan Api Tujuh Likur ini.



![[QUIZ] Kamu Naik Apa Saat Mudik? Ini Kepribadianmu Sebenarnya](https://image.idntimes.com/post/20260317/pexels-splitshire-2224_c73f4223-a89b-456a-a43e-a62cd1d14f04.jpg)









![[QUIZ] Siapa Nakama Topi Jerami yang Temani Kamu Muncak Gunung Dempo?](https://image.idntimes.com/post/20250623/upload_51edd07a39fda9c7944594c1a262b2c9_7b7bb9b0-5d76-45fb-9292-1a64445e0e04.jpg)




![[QUIZ] Siapa Karakter Upin & Ipin yang Cocok Temani Kamu Muncak Gunung Dempo?](https://image.idntimes.com/post/20251031/1000024635_b112fffc-75e7-4a17-8f93-e6a8cfddbcb0.jpg)