Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sumsel Pasok Bawang Merah dari Sumbar dan Jawa saat Fenomena El Nino
Ilustrasi pedagang bawang merah melayani pembeli di pasar tradisional. (ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo)
  • Sumatra Selatan membeli 23,02 ton bawang merah dari Sumatra Barat dan Jawa Tengah melalui kerja sama antar daerah untuk menjaga pasokan saat krisis panen akibat El Nino.

  • Selain bawang merah, Sumsel mendatangkan 38,29 ton cabai dari Kabupaten Magelang guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan memperkuat ketersediaan komoditas hortikultura.

  • TPID Sumsel menjalankan kerja sama pengendalian inflasi, sementara harga cabai di Pasar Induk Jakabaring naik lebih dari Rp50 ribu per kilogram dan volume belanja warga menurun.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Sumatra Selatan memasok 23,02 ton bawang merah dari Sumatra Barat dan Jawa Tengah melalui Kerjasama Antar Daerah untuk menjaga ketersediaan komoditas saat El Nino berkepanjangan.
  • Who?
    TPID Sumsel dan Bank Indonesia Sumsel, dipimpin Kepala BI Sumsel Bambang Pramono, menjalankan pasokan antardaerah. Kabupaten Magelang juga memasok cabai ke Sumsel.
  • Where?
    Pasokan ditujukan ke Sumatra Selatan, termasuk pasar di Palembang. Bawang merah didatangkan dari Sumatra Barat dan Jawa Tengah, sedangkan cabai berasal dari Kabupaten Magelang.
  • When?
    Pembelian bawang merah disampaikan Bambang Pramono pada Senin, 12 Oktober 2026. Kenaikan tipis harga cabai terpantau di Pasar Induk Jakabaring pada awal Oktober 2026.
  • Why?
    Pasokan dilakukan untuk memperkuat ketersediaan bawang merah dan cabai di Sumsel di tengah krisis panen serta fenomena El Nino berkepanjangan, sekaligus mengendalikan inflasi.
  • How?
    Pembelian dilakukan secara business to business melalui program Kerjasama Antar Daerah. Hingga September 2026, terdapat delapan Kesepakatan Bersama dan 21 Perjanjian Kerja Sama dengan daerah di Jawa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sumatra Selatan membeli bawang merah dari Sumatra Barat dan Jawa karena panen sedang susah saat El Nino. Mereka membeli 23,02 ton bawang merah. Cabai dari Magelang juga datang sebanyak 38,29 ton. Ini supaya pasar tetap punya makanan. Sekarang harga cabai naik dan orang membeli cabai lebih sedikit.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah tekanan El Nino terhadap panen, langkah Sumsel memperluas kerja sama pasokan menunjukkan respons yang terkoordinasi untuk menjaga kebutuhan masyarakat. Pembelian bawang merah dan cabai dari daerah lain, didukung kesepakatan lintas pemerintah serta studi inovasi pengendalian inflasi, mencerminkan upaya praktis memperkuat ketersediaan komoditas ketika kondisi lokal menghadapi tantangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Sumatra Selatan memasok komoditas bawang merah dari wilayah lain untuk menjaga kesediaan di tengah krisis panen pertanian. Komoditas tersebut dikirim dari Sumatra Barat dan sejumlah daerah di Jawa melalui program Kerja Sama Antar Daerah (KAD) untuk mengatasi fenomena El Nino berkepanjangan.

"Sumsel mencatat pembelian komoditas bawang merah secara business-to-business (B2B) dari Sumatera Barat dan Jawa Tengah sebanyak 23,02 ton," ujar Kepala Bank Indonesia Sumsel sekaligus Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), Bambang Pramono, Senin (12/10/2026).

1. Sumsel beli cabai di luar wilayah hingga 38 ton

Pedagang cabai dan bawang di Pasar Randik Sekayu saat melayani pembeli. (IDN Times/Yuliani)

Tak hanya bawang merah, komoditas hortikultura lainnya seperti cabai juga dipasok dari daerah lain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Sumsel. Kata Bambang, pembelian cabai dari Kabupaten Magelang mencapai 38,29 ton.

"Ini untuk membantu memperkuat ketersediaan pasokan di Sumsel," kata dia.

2. Pemerintah Sumsel kerjasama Pemerintah Jawa jaga stok komoditas

Ilustrasi pedagang cabai, bawang, dan sembako lainnya di pasar (IDN Times/Yuko Utami)

Lebih lanjut, Bambang menyampaikan bahwa selain untuk menjaga stok komoditas di pasar Sumsel, program KAD yang dilakukan TPID juga merupakan bentuk pengendalian inflasi.

"Kita hingga September tadi, terdapat berbagai kerjasama antar daerah termasuk delapan Kesepakatan Bersama (KSB) dan 21 Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara pemerintah daerah di Sumsel dengan pemerintah daerah di Jawa," jelasnya.

Selain komitmen melakukan KAD, kata Bambang, TPID Sumsel juga melakukan studi tiru bersama TPID Sulawesi Selatan ke Jawa Tengah untuk mempelajari inovasi pengendalian inflasi yang dapat disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah.

3. Pelanggan kurangi jumlah beli saat harga naik

Pedagang cabai melayani pembeli di pasar tradisional. (ANTARA FOTO/Novrian Arbi/)

Sementara berdasarkan pantauan, harga cabai di Pasar Induk Jakabaring Palembang pada awal Oktober 2026 mengalami kenaikan tipis. Menurut salah satu agen cabai, Suparmin, peningkatan harga terjadi karena kondisi lingkungan dan fenomena El Nino berkepanjangan.

"Selain harga naik lebih dari 50 ribuan per kg, minat belanja masyarakat juga berkurang. Pembeli yang biasanya membeli dalam jumlah besar sekarang membeli dalam jumlah yang lebih sedikit. Contoh pelanggan biasa tiap beli langsung 10 kg, sekarang berkurang menjadi 5-7 kg," jelasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article