Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ratu Dewa: Jangan Paksa Anak Sekolah saat Udara Tak Mendukung
Wali Kota Palembang, Ratu Dewa (Dok. Kominfo untuk IDN Times)
  • Wali Kota Palembang Ratu Dewa meminta sekolah tidak memaksakan siswa masuk saat udara tidak sehat, dengan kesehatan anak sebagai prioritas utama.

  • ISPU Palembang mencapai 433 dan masuk kategori sangat berbahaya; keputusan PJJ perlu mempertimbangkan kualitas udara, tren ISPU, serta kondisi kesehatan masyarakat termasuk kasus ISPA.

  • Dewa meminta sekolah dan komite membahas ulang PJJ. Kebijakan belajar tatap muka atau dari rumah harus disesuaikan secara dinamis dengan kondisi udara.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Wali Kota Palembang meminta evaluasi penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) karena kualitas udara berada pada tingkat sangat berbahaya.
  • Who?
    Wali Kota Palembang Ratu Dewa, kepala sekolah, komite sekolah, guru, orang tua, siswa, dan instansi pendidikan terlibat dalam pertimbangan kebijakan pembelajaran.
  • Where?
    Di Kota Palembang, terutama pada lingkungan sekolah dan aktivitas perjalanan siswa menuju maupun dari sekolah.
  • When?
    Rabu, 30 September 2026, saat Indeks Standar Pencemar Udara Palembang tercatat 433 dan masuk kategori sangat berbahaya.
  • Why?
    Kesehatan dan keselamatan siswa menjadi prioritas di tengah kualitas udara memburuk, termasuk risiko paparan saat kegiatan luar ruangan dan perjalanan ke sekolah.
  • How?
    Kepala sekolah diminta rapat dengan komite sekolah untuk menilai kualitas udara, perkembangan ISPU, kondisi kesehatan masyarakat, dan menentukan kelanjutan tatap muka atau PJJ.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Wali Kota Palembang Ratu Dewa bilang anak-anak jangan dipaksa masuk sekolah saat udara kotor dan berbahaya. Angka udara di Palembang sudah 433, sangat tidak aman. Ia minta sekolah, guru, orang tua, dan komite rapat lagi. Mereka akan menentukan apakah anak belajar di rumah sampai udara membaik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sikap Pemerintah Kota Palembang yang menempatkan kesehatan anak sebagai prioritas menunjukkan perhatian terhadap keselamatan peserta didik di tengah kualitas udara berbahaya. Evaluasi yang melibatkan sekolah, komite, guru, orang tua, dan siswa juga membuka ruang bagi keputusan pembelajaran yang lebih cermat, responsif terhadap perkembangan ISPU serta kondisi kesehatan masyarakat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Wali Kota Palembang Ratu Dewa kembali mengevaluasi kebijakan penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) terhadap siswa sekolah saat kondisi udara dalam status tidak sehat dan berbahaya.

"Jangan sampai kita memaksakan anak-anak masuk sekolah sementara kondisi udara tidak mendukung. Prinsipnya, kesehatan anak harus kita utamakan," ujarnya, Rabu (30/9/2026).

1. Ingatkan kesehatan anak-anak menjadi prioritas

Dua kakak beradik Agni (10) dan Alda (7) siswa SDIT Nurul Ilmi Banyuasin saat Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Disdik Banyuasin memberlakukan PJJ akibat kabut asap sejak 21-26 September 2026. (IDN Times/Hafidz Trijatnika)

Dewa mengatakan, berdasarkan kondisi udara yang belum masuk kategori sehat, sebaiknya sekolah dan stakeholder terkait kembali mempertimbangkan agar PJJ diterapkan secara berlanjut.

Apalagi, katanya, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Palembang sudah berada pada angka 433 atau masuk kategori sangat berbahaya. Namun, jelas dia, keputusan pelaksanaan pembelajaran harus mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk permintaan dari instansi pendidikan, guru, wali murid, orang tua, dan siswa.

"Kalau ISPU sangat buruk seperti ini, kesehatan anak-anak harus jadi prioritas utama. Saya harap kepala sekolah dan stakeholder terkait kembali mempertimbangkan untuk dilakukan PJJ," jelasnya.

2. Penerapan PJJ butuh melihat berbagai indikator

Wali Kota Palembang Ratu Dewa (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Dia menyampaikan, keselamatan dan kesehatan peserta didik tidak boleh diabaikan di tengah kondisi kualitas udara yang kian buruk. Katanya, aktivitas anak-anak di luar ruangan, termasuk perjalanan menuju dan dari sekolah, perlu menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan kebijakan pembelajaran.

Dirinya menegaskan, penerapan PJJ bukan semata-mata melihat angka ISPU, tetapi juga harus memperhatikan perkembangan kualitas udara dari waktu ke waktu serta kondisi kesehatan masyarakat.

"Keputusan PJJ tentu harus melihat beberapa indikator. Bukan hanya kualitas udara, tetapi juga perkembangan ISPU dan kondisi kesehatan masyarakat, khususnya kasus ISPA," jelas dia.

3. Harap kepala sekolah dan komite mempertimbangkan kembali PJJ

Dua kakak beradik Agni (10) dan Alda (7) siswa SDIT Nurul Ilmi Banyuasin saat Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Disdik Banyuasin memberlakukan PJJ akibat kabut asap sejak 21-26 September 2026. (IDN Times/Hafidz Trijatnika)

Lebih lanjut, Dewa meminta pihak sekolah bersama komite sekolah untuk melakukan pembahasan kembali mengenai kondisi udara dan penerapan PJJ. Hasil pembahasan nantinya dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan apakah kegiatan belajar mengajar secara tatap muka tetap dilanjutkan atau kembali dilakukan dari rumah.

"Saya berharap kepala sekolah bisa rapat kembali bersama komite sekolah. Nanti dibahas dan ditentukan lagi keputusan yang paling tepat melihat kondisi udara saat ini," jelasnya.

Ratu Dewa menilai, kebijakan pendidikan dalam situasi kabut asap dan pencemaran udara harus bersifat dinamis. Artinya, keputusan dapat disesuaikan dengan perkembangan kondisi lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Jika kualitas udara membaik dan berada pada kondisi yang lebih aman, kegiatan belajar tatap muka dapat kembali dipertimbangkan. Sebaliknya, jika kualitas udara semakin memburuk, pembelajaran dari rumah dinilai sebagai salah satu langkah perlindungan terhadap siswa.

Curated For You

Editorial Team

Related Article