Apa yang Terjadi pada Tubuh saat Olahraga di Tengah Kabut Asap?

Dinas Kesehatan Palembang mengimbau warga menghindari aktivitas luar ruangan dan kegiatan lapangan berlebih saat kabut asap karena paparan polutan dapat mengganggu kesehatan.
Saat berolahraga, kebutuhan oksigen dan frekuensi napas meningkat, sehingga olahraga outdoor di udara berasap membuat tubuh menghirup lebih banyak polutan.
Partikel halus PM2.5 dalam asap dapat masuk jauh ke paru-paru, berisiko menurunkan fungsi paru, memicu infeksi saluran pernapasan, dan memperburuk asma.
Palembang, IDN Times - Olahraga menjadi aktivitas penting dalam menjaga stamina dan kesehatan tubuh. Namun, apa dampaknya bila berolahraga saat kondisi kabut asap berlangsung seperti yang sedang terjadi di Kota Palembang sekarang?
Apalagi, jika olahraga yang dilakukan merupakan kegiatan luar ruangan atau outdoor, meliputi jogging dan bersepeda? Berikut IDN Times bagikan ulasannya berdasarkan pernyataan dinas kesehatan.
1. Imbau masyarakat pakai masker

Kabut asap di kawasan Keramasan, akses menuju Tol Palembang-Indralaya. (IDN Times/Rangga Erfizal) Menurut Kepala Dinas Kesehatan Palembang, Fenty Aprina, ketika kabut asap, sebaiknya masyarakat tidak melakukan aktivitas luar ruangan dan tidak menjalani kegiatan lapangan berlebihan. Sebab hal tersebut akan berdampak kurang baik bagi tubuh karena meningkatkan paparan polutan.
"Selama musim kemarau ini, masyarakat kami minta untuk menggunakan masker sebagai cara efektif agar terhindar dari penyebaran ISPA, terutama saat musim kemarau," ujarnya.
2. Polutan masuk dalam tubuh jika olahraga saat kabut asap

Kabut asap menyelimuti Palembang, Minggu 23 Agustus 2026. Jembatan Ampera tampak samar dari kejauhan. (IDN Times/Rangga Erfizal) Berdasarkan informasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), olahraga ketika asap pekat sebaiknya dilakukan dengan penyesuaian waktu, lokasi dan aktivitas fisik.
Bila memaksakan diri berolahraga di luar ruangan saat asap berlangsung, dampak utama yang terjadi adalah polutan akan masuk ke dalam tubuh. Karena saat berolahraga, tubuh membutuhkan lebih banyak oksigen.
Jika aktivitas itu dilakukan saat udara tercemar asap karhutla, maka peningkatan frekuensi pernapasan dapat membuat seseorang menghirup lebih banyak udara dari lingkungan. Artinya, paparan terhadap polutan di udara juga dapat meningkat.
3. Fungsi paru akan berkurang ketika partikulat karhutla masuk dalam tubuh

Perairan Sungai Musi Palembang saat kabut asap. (IDN Times/Hafidz Trijatnika) Secara ilmiah, asap kebakaran mengandung partikel dan berbagai polutan yang dapat mengganggu sistem pernapasan. Salah satu yang perlu diperhatikan adalah partikulat halus PM2.5 yang berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam paru-paru.
Apabila tubuh terpapar partikulat tersebut dengan konsentrasi tinggi, dapat menyebabkan penurunan fungsi paru, infeksi saluran pernapasan, dan memperburuk asma.
"Ini jadi salah satu yang paling terdampak, terutama pada musim kemarau," kata Fenty.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















