Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Pro Kontra Gentengisasi di Palembang, Warga: Negara Kok Ngurus Atap?

Ilustrasi Perbaikan Genteng
Ilustrasi Perbaikan Genteng (Unsplash.com/Ahmet Kurt)/
Intinya sih...
  • Warga Palembang mempertanyakan program Gentengisasi yang diwacanakan oleh Presiden Prabowo Subianto, menilai bahwa program ini tidak memberi kontribusi terhadap kehidupan masyarakat.
  • Sejumlah warga menilai bahwa program Gentengisasi adalah tanggung jawab masing-masing pemilik rumah, dan lebih baik jika pemerintah pusat membuat program bijak untuk kesejahteraan masyarakat.
  • Gentengisasi disebut memiliki kualitas lebih baik dari penggunaan seng secara estetik, namun perlu pendalaman dan kajian untuk melihat dampaknya terhadap masyarakat serta keberlanjutan produksi genteng dari tanah liat.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Presiden RI Prabowo Subianto mewacanakan program baru gentengisasi atau meminta semua permukiman warga diganti dengan atap genteng agar terlihat lebih estetik. Tak hanya di pusat, program itu pun kini sedang disosialisasikan ke daerah, termasuk di Palembang.

Namun, dalam perjalanan rencana gentengisasi muncul pro kontra di publik. Sejumlah pihak ada yang mempertanyakan seberapa penting program tersebut dan beberapa lainnya justru menilai gentengisasi tidak memberi kontribusi terhadap kehidupan masyarakat yang dinilai hal remeh.

1. Gentengisasi jadi permasalahan sensitif di masyarakat

Tumpukan Genteng produksi Desa Jatiwangi Jabar yang dijual di Anugerah Genteng Medoho Gayamsari Semarang.
Tumpukan Genteng produksi Desa Jatiwangi Jabar yang dijual di Anugerah Genteng Medoho Gayamsari Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Menurut pemilik rumah atap seng, Yazid, warga Ilir Timur I Palembang, program gentengisasi perlu kajian dan ditelaah secara detail. Dia menyebut wacana Prabowo seolah menunjukkan sikapnya yang tidak bisa membedakan antara program prioritas dengan sengaja mencari ruang untuk mengambil keuntungan.

"Pakai genteng memang lebih estetik dan tidak berisik saat hujan. Tapi kan ada program lain yang bisa lebih bermanfaat ke masyarakat. Sekarang yang penting bisa tinggal di rumah pakai atap. Pertanyaannya, presiden minta ganti (genteng) dananya (pergantian) gimana? Subsidi? Banyak yang pakai seng ini. Perlu menghabiskan anggaran berapa lagi? Negara kok ngurus atap. Bencana, infrastruktur yang penting diperhatikan dan dibantu," ujar pensiunan ASN yang sempat mengabdi di PUPR Palembang ini.

Dia menilai, gentengisasi merupakan salah satu strategi Prabowo untuk mencari program untung selain Makanan Bergizi Gratis (MBG). Sebab jika dipelajari sepanjang ia menjabat, program Presiden RI kedelapan ini belum ada yang terlihat positif dan mendominasi kepentingan warga lebih baik.

Kebanyakan, katanya, program yang Prabowo canangkan justru menimbulkan mudarat.

"Sudah banyak berita keracunan, melihat setahun ini (sepanjang Prabowo menjabat) kayaknya belum ada yang wow bikin masyarakat bangga. Bahas masalah ini sensitif soalnya," kata Yazid.

2. Presiden disarankan untuk membuat program yang lebih primer

Gambar ilustrasi atap genteng dan atap seng
Ilustrasi atap genteng dan atap seng (unsplash.com/boris misevic)

Tak hanya Yazid, Tomi warga Kamboja Palembang menilai, gentengisasi merupakan program 'lucu' yang direncanakan presiden. Karena katanya, persoalan atap rumah adalah tanggung jawab masing-masing pemilik. Dia menyebut warga bukan tak ingin dibantu, melainkan akan lebih baik bila pemerintah pusat membuat program bijak untuk kesejahteraan masyarakat.

Terutama lanjutnya, bagi warga di pedesaan provinsi dengan akses terbatas.

"Masih banyak jalan rusak dan layanan kesehatan yang tidak berkualitas. Kenapa tidak ini saja yang jadi prioritas? Lucu, kok jadi genteng. Kalau gentengisasi ini, kira-kira dikasih subsidi nggak ya? Mending urus masalah BPJS PBI dulu, baru soal-soal kecil (gentengisasi) gini," jelasnya.

Penilaian Tomi senada dengan Krisnawati. Menurut istri Tomi itu, gentengisasi adalah program yang tidak perlu jadi prioritas. Karena katanya, masyarakat lebih membutuhkan bantuan sosial dan sembako. Palembang, jelas dia, masih terbilang kota dengan tingkat kemiskinan cukup tinggi dan biaya hidup cukup besar. Ketimbang memikirkan atap rumah, sebaiknya bantuan sosial diutamakan.

"Bantuan warga miskin lebih primer, ngurus genteng masyarakat jadi seperti ngelawak. Ada-ada aja, tapi mau gimana lagi? Presiden dia yang punya kuasa, ya sudah nonton saja dan berkomentar," kata dia.

3. Penggunaan genteng justru lebih mahal di dataran tinggi

Menaruh Genteng di Hawu
Menaruh Genteng di Hawu (inin nastain/IDN Times)

Sementara, berdasarkan penilaian dari sisi estetik, program gentengisasi disebut memiliki kualitas lebih baik ketimbang penggunaan seng. Namun, dalam skala bantuan, gentengisasi penting memiliki dasar dan tujuan ke depan. Sehingga tidak memunculkan stigma dan penilaian negatif di masyarakat.

Menurut Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Sumsel, Ar Ahmad Ardani, gentengisasi harus dilihat dari segi kepentingan. Program ini, katanya, harus dilihat dasar idenya. Apa yang melatarbelakangi sehingga muncul ide gentengisasi.

“Apakah murni alasan seng panas, jelek, dan berkarat atau ada sebab lain. Misalnya, banyak masyarakat terluka atau meninggal dunia akibat seng yang hanyut saat bencana banjir beberapa waktu lalu. Sehingga bisa jadi pertimbangan prioritasnya, program ini berjalan," kata Ardani.

Dia menilai, program gentengisasi yang dicanangkan Presiden Prabowo perlu pendalaman dan kajian. Apakah benar-benar bisa diterima oleh masyarakat, atau tidak. Sebab secara prinsip, setiap program pemerintah harus berdampak pada kesejahteraan warga.

"Pada prinsipnya, kita dukung kalau tujuannya untuk lebih baik. Namun, tinggal masyarakat mau atau tidak, karena ini terkait biaya. Kalau dibantu pemerintah, saya rasa masyarakat pasti mau. Tapi kalau tidak, kemungkinan masyarakat merasa berat. Terutama untuk kelas menengah ke bawah," jelasnya.

Program gentengisasi, lanjut dia, harus diketahui dulu latar belakangnya. Karena jika semua harus menerapkan gentengisasi, ada beberapa daerah yang sulit untuk penggunaan atap jenis ini. Ia memberi contoh pemakaian genteng di daerah pegunungan.

"Kalau di dataran tinggi, pilihan terbaik sesuai kemampuan yang ekonomis justru atap seng, karena produksi genteng banyak di dataran rendah. Otomatis harga genteng di daerah ketinggian lebih mahal, ini justru menyulitkan warga," kata dia.

4. Pelaku usaha genteng sebut sudah susah mencari bahan baku terbaik

Gambar ilustrasi tumpukan atap genteng
Ilustrasi tumpukan atap genteng (unsplash.com/ Jametlene Reskp)

Ardani menjelaskan, berdasarkan tinjauan dari material atau dari bentuk seng (Zn), ada atap seng berbentuk genteng. Ada atap berbahan logam, tetapi bukan dari seng. Secara awam, atap seng terbuat dari lembaran logam tipis berbentuk gelombang.

Seng secara definisi itu diakuinya memang cenderung mudah berkarat. Karena kandungan logam atau besinya lebih banyak dan tidak dilapisi aluminium, tidak dicat, tidak di-coating, atau polos.

"Berbanding dengan jenis lain seperti atap Zincalum, genteng metal, Alkan, spandek, yang kandungan aluminiumnya lebih banyak. Terutama di lapisan luar yang sudah di-coating," jelas dia.

Jadi, pengertian genteng yang dimaksud juga harus diperjelas lagi, apakah genteng berbahan metal berbentuk genteng, atau genteng tanah liat.

"Kalau genteng berbahan tanah liat, tentu banyak hal yang harus diganti. Bukan hanya atapnya saja, dan itu memakan banyak biaya. Otomatis biaya konstruksinya juga bertambah," timpalnya.

Tidak hanya melihat kepentingan dan keperluan penerapan gentengisasi, program ini juga harus ditelaah mendalam untuk keberlanjutan ke depan. Karena, produksi genteng dari tanah liat kini memakan waktu cukup lama dan tidak singkat.

Bagi pemilik usaha pembuat genteng, gentengisasi untuk semua permukiman warga bukan hal mudah. Kata Hermandi, pelaku usaha genteng di Jalan Camat, Kelurahan Sukajadi, Talang Kelapa, Banyuasin, dalam kondisi sekarang, pembuatan genteng memakan waktu berhari-hari karena cuaca tak mendukung dan membutuhkan ketelatenan yang cukup tinggi.

“Susah sekarang mendapatkan tanah liat kualitas terbaik. Karena bahan baku tanah liat harus bagus untuk dijadikan genteng. Belum lagi proses buat lama dan butuh cuaca panas, biar proses penjemuran tidak terhambat. Kalau secara manual (pembuatan genteng) salah satu yang perlu diandalkan tidak hujan. Susah bahannya sekarang, apalagi kalau bener (gentengisasi wajib) otomatis semua daerah pakai (genteng) bahan baku sedikit makin susah," jelas dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hafidz Trijatnika
EditorHafidz Trijatnika
Follow Us

Latest News Sumatera Selatan

See More

Pro Kontra Gentengisasi di Palembang, Warga: Negara Kok Ngurus Atap?

09 Feb 2026, 20:42 WIBNews