Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pasca Bencana November 2025, Normalisasi Sungai di Sumbar Belum Tuntas
Aliran sungai yang mengalami banjir bandang dari udara (Foto: IDN Times/Halbert Caniago)
  • Kapasitas aliran sungai di wilayah terdampak banjir bandang November 2025, termasuk Padang dan Agam, turun sekitar 30–40 persen akibat penumpukan sedimen.

  • BWS Sumatra V Padang masih menetapkan status darurat penanganan sungai hingga November, sambil menyiapkan pengendalian permanen di hulu melalui pembangunan bangunan sabuk.

  • Normalisasi selama 10 bulan belum tuntas karena sedimen kembali mengisi sungai dalam hitungan hari; rencana bangunan sabuk akan diajukan kepada Kementerian PU.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Padang, IDN Times - Bencana November 2025 sudah hampir satu tahun berlalu. Tapi, normalisasi sungai yang terdampak bencana banjir bandang masih belum teratasi sampai saat ini.

Masih banyak sungai yang terdampak bencana, seperti di Kota Padang, Kabupaten Agam, dan daerah lainnya, yang masih terisi sedimen yang terbawa banjir bandang pada tahun lalu. Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatra V Padang mengakui memang belum bisa menyelesaikan permasalahan tersebut meski telah cukup lama berlalu.

1. Kapasitas aliran sungai berkurang

Keadaan Jalan di Malalak usai penanganan oleh pemerintah (Foto: IDN Times/Halbert Caniago)

Kepala BWS Sumatra V Padang, Reski Wahyu, mengatakan, setelah bencana November 2025 lalu, kapasitas aliran sungai di wilayah terdampak memang berkurang cukup drastis.

"Memang kapasitas aliran sungai berkurang sekitar 30 sampai 40 persen dari yang seharusnya di seluruh wilayah terdampak," katanya.

Menurutnya, kapasitas aliran sungai tersebut berkurang karena banyaknya sedimen yang ada di area aliran sungai yang terdampak bencana pada November lalu.

2. Masih tetapkan status darurat

Personel Polsek Pauh melihat kondisi sungai Batang Kuranji (Foto: Dok Polsek Pauh)

Reski mengatakan, untuk penanganan yang dilakukan sampai saat ini pihaknya masih menetapkan darurat untuk penanganan sungai yang terdampak bencana tersebut.

"Hingga November mendatang, kita masih dalam status darurat. Untuk permanennya, kita akan kendalikan di daerah hulu dengan membuat bangunan sabuk," katanya.

Menurutnya, dengan membangun sabuk tersebut, material berupa batu, kayu, dan lainnya bisa tertahan oleh sabuk tersebut dan tidak akan masuk ke dalam aliran sungai lagi.

3. Pekrjaan normalisasi sungai tak pernah tuntas

Pencarian korban di skitar lokasi bencana di Padang Panjang(Foto: Basarnas Padang)

Reski mengatakan bahwa normalisasi yang dilakukan selama 10 bulan belakangan tidak tuntas karena setiap sedimen yang digali akan terisi kembali dalam beberapa hari.

"Itu karena masih banyaknya sedimen di bagian hulu sungai yang harus diatasi dengan perencanaan yang akan kita lakukan nantinya," katanya.

Menurutnya, penanganan tersebut saat ini masih dalam tahap perencanaan dan akan diajukan ke Kementerian PU untuk pembangunan sabuk yang direncanakan tersebut.

Curated For You

Editorial Team

Related Article