ISPA di Sumsel Naik 11,62 Persen, Tembus 52 Ribu Kasus

Kasus ISPA di Sumatra Selatan naik 11,62 persen dari 47.020 pada Agustus menjadi 52.483 kasus pada September 2026.
Sepanjang Januari-September 2026 tercatat 401.191 kasus ISPA; pola kasus meningkat pada awal tahun, turun Mei-Juni, lalu kembali naik sejak Juli hingga September.
Pada Oktober telah dilaporkan 11.359 kasus, dengan puncak harian 2.267 kasus pada 6 Oktober; masyarakat diimbau mengurangi aktivitas luar saat kualitas udara buruk.
Palembang, IDN Times - Dinas Kesehatan Sumatra Selatan (Dinkes Sumsel) mencatat ada kenaikan jumlah penderita Inspeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Bumi Sriwijaya. Jumlah lonjakan tersebut diperkirakan mencapai 11,62 persen dari Agustus sekitar 47.020 kasus menjadi 52.483 kasus di September 2026.
"Jumlah kasus ISPA pada September sebanyak 52.483 kasus, terjadi peningkatan 11,62 persen dibandingkan Agustus sebanyak 47.020 kasus," jelas Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel Ira Primadesa, Sabtu (10/8/2026).
1. Saat karhutla ISPA kembali meningkat

Kondisi kabut asap di kota Palembang, Jumat 8 Oktober 2026 (IDN Times/Rangga Erfizal) Ira menjelaskan, kenaikan jumlah penderita ISPA juga terlihat dari lonjakan kasus per tahun. Pada 2025 ada kenaikan 16,2 persen kasus dibanding tahun 2024. Sedangkan tahun 2026 tercatat kasus ISPA mulai mengalami lonjakan pada awal tahun 2026.
Berdasarkan data, jumlah kasus ISPA sepanjang Januari-September 2026 mencapai 401.191 kasus. Sedangkan periode yang sama pada 2025, jumlahnya sebanyak 411.700 kasus.
"Pada 2026 ini, pola tinggi kasus ISPA terjadi pada awal tahun. Kemudian menurun pada Mei dan Juni. Lalu kembali meningkat pada Juli-September," ujarnya.
2. Kasus terbanyak di Oktober terjadi pada awal bulan

Kondisi kabut asap di kota Palembang yang tiba-tiba gelap ditutupi polusi kebakaran hutan dan lahan (IDN Times/Rangga Erfizal) Ira mencatat, September mencatat lonjakan kasus tertinggi sepanjang 2026. Sebelumnya, jumlah kasus bulanan juga sempat melampaui 50 ribu pada awal tahun, yakni 50.651 kasus pada Januari dan 51.115 kasus pada Februari.
Sementara itu, memasuki Oktober, jumlah laporan yang diterima telah mencapai 11.359 kasus. Meski angka tersebut masih berada di bawah catatan September, jumlah kasus yang masuk sejauh ini tetap menjadi perhatian.
"Secara harian pada Oktober ini, jumlah kasus ISPA yang terdata paling banyak terjadi pada 6 Oktober lalu yang mencapai 2.267 kasus," katanya.
3. PM2,5 berisiko mengganggu kesehatan

Kondisi kabut asap di kota Palembang yang tiba-tiba gelap ditutupi polusi kebakaran hutan dan lahan (IDN Times/Rangga Erfizal) Particulate Matter 2.5 (PM2,5) merupakan partikel polutan berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Ukurannya yang sangat halus memungkinkan partikel tersebut masuk ke bagian dalam paru-paru ketika terhirup.
Paparan PM2,5 dapat memicu gangguan kesehatan, mulai dari iritasi saluran pernapasan hingga memperburuk penyakit paru-paru dan kardiovaskular. Risiko ini perlu diperhatikan, terutama bagi bayi, anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.
Semakin tinggi konsentrasi polutan di udara, semakin besar pula potensi paparan yang diterima masyarakat ketika beraktivitas di lingkungan terbuka.
Masyarakat yang berada di wilayah dengan kualitas udara buruk diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama olahraga atau kegiatan fisik berat.
Jika harus beraktivitas di luar, warga disarankan menggunakan respirator seperti N95 atau yang setara untuk membantu menyaring partikel halus. Masyarakat juga dapat mengurangi masuknya asap ke dalam rumah dengan menutup jendela ketika kondisi udara di luar memburuk.













![[OPINI] Menjalani Tugas dengan 'Enjoy', Bukan Nirempati tapi Menjaga Waras dalam Kerja Penuh Tekanan](https://image.idntimes.com/post/20260823/whatsapp-image-2026-08-23-at-07_ba9d8e4f-23bc-47bf-97d1-1d68726a7e32.jpeg)






