Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

Tradisi Perang Ketupat di Bangka Barat: Sejarah dan Maknanya

Festival perang ketupat (instagram.com/@festivalperangketupattempilang)
Festival perang ketupat (instagram.com/@festivalperangketupattempilang)
Intinya sih...
  • Warga Tempilang di Bangka Barat adakan Festival Perang Ketupat setiap tahunnya untuk menolak bala dan bersih-bersih kampung.
  • Tradisi ini bermula dari perlawanan kepala suku Dimar pada tahun 1883 terhadap bajak laut, lalu berkembang menjadi ritual taber kampong.
  • Makna tradisi ini adalah meminta keselamatan dan perlindungan kepada Tuhan agar terhindar dari malapetaka, serta simbol persatuan, kesadaran, dan kegotongroyongan.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Warga Tempilang di Kabupaten Bangka Barat, Bangka Belitung akan melaksanakan Festival Perang Ketupat setiap tahunnya. Tradisi unik ini biasa dilakukan pada saat menyambut bulan Ramadan tepatnya minggu ketiga bulan Syakban. Perang Ketupat diyakini sebagai tradisi untuk menolak bala dan bersih-bersih kampung.

Dalam rangkaian acaranya akan dipimpin oleh Tetua Adat, Datok dan Kemang yang diikuti partisipasi ratusan masyarakat setempat. Pada pelaksanaan tradisi ini masyarakat dari daerah lain berbondong-bondong ikut menyaksikan Festival Perang Ketupat.

1. Asal mula, dua peristiwa picu tokoh adat lakukan taber kampung

Festival perang ketupat (instagram.com/@bujangdayangbangkabarat)
Festival perang ketupat (instagram.com/@bujangdayangbangkabarat)

Mengutip dari repository.radenfatah.ac.id hasil penelitian Resna Septiani Putri, sejarah perang ketupat bermula pada tahun 1883. Kepala suku bernama Dimar melakukan perlawanan kepada bajak laut atau lanon yang ingin menjajah. Pada saat bersamaan ada seorang anak perempuan yang dimakan oleh siluman buaya.

Karena dua peristiwa ini menyebabkan para tokoh adat melakukan ritual taber kampong. Kegiatan ini bertujuan agar kampung mereka terhindar dari musibah. Mereka bergotong royong yang akhirnya menciptakan suatu tradisi yang bernama Tradisi Perang Ketupat.

2. Makna perang ketupat untuk menghindari malapetaka

Festival perang ketupat (instagram.com/@explorebangka)
Festival perang ketupat (instagram.com/@explorebangka)

Makna tradisi perang ketupat untuk menolak bala dan meminta keselamatan dan perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar terhindar dari hal-hal yang tidak dinginkan. Mengutip dari digilib.uin-suka.ac.id hasil penelitian Zainab, simbol dan  makna tradisi Perang Ketupat adalah ketupat yang mempunyai makna persatuan, kesatuan, kesadaran, dan kegotongroyongan.

Perang Ketupat untuk menghindari malapetaka yang disebabkan oleh makhluk gaib dan kekuatan gaib, baik yang ada di laut dan di darat. Para nelayan dan petani mempercayai adanya suatu alam ghaib yang tidak tampak yang dihuni oleh makhluk ghaib maupun kekuatan yang tidak dapat di lihat oleh manusia dengan cara-cara biasa.

Agar terhindari dari bencana, maka dari itu masyarakat mengadakan ritual perang ketupat.

3. Saling melempar ketupat

Festival perang ketupat (instagram.com/@festivalperangketupattempilang)
Festival perang ketupat (instagram.com/@festivalperangketupattempilang)

Festival perang ketupat memiliki berbagai rangkaian kegiatan. Mengutip dari ubb.ac.id, pada malam hari sebelumnya, tiga dukun Kecamatan Tempilang, yaitu dukun darat, dukun laut, dan dukun yang paling senior. Mereka memulai upacara Penimbongan yang merupakan dipercayai sebagai ritual memberi makan makhluk halus.

Sesaji untuk makanan makhluk halus itu diletakkan di atas penimbong atau rumah-rumahan dari kayu menangor. Pagi harinya, dukun darat dan dukun laut bersatu merapal mantra di depan wadah yang berisi 40 ketupat. Mereka juga berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar perayaan tersebut dilindungi, jauh dari bencana.

Setelah beberapa ritual dilakukan, setelah mendengar aba-aba peluit dari dukun laut, perang ketupat pun dimulai. Ada 20 pemuda yang merupakan peserta perang ketupat langsung menghambur ke tengah dan saling melemparkan ketupat ke arah lawan mereka.

Usai perang, para dukun kemudian melepas perahu kecil yang memuat sesajen ke laut sebagai bentuk persembahan kepada roh-roh di laut. Perang Ketupat memiliki nilai dan makna untuk bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yang diharapkan dapat dijadikan pegangan hidup masyarakat setempat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hafidz Trijatnika
EditorHafidz Trijatnika
Follow Us