Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
[WANSUS] Herman Deru Jawab Pertanyaan Karhutla: dari Asap sampai Banpres Rp100 M
Gubernur Sumsel Herman Deru (IDN Times/Rangga Erfizal)

Palembang, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah Sumatra Selatan (Sumsel), terutama Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Ilir. Penanganan di lapangan terus dilakukan, sementara kabut asap masih terasa di sejumlah wilayah.

Gubernur Sumsel Herman Deru menjelaskan upaya pemerintah menangani karhutla, penggunaan anggaran bantuan, hingga alasan asap masih muncul meski pemadaman terus dilakukan. Berikut penjelasannya:

1. Bagaimana kondisi karhutla di Sumsel saat ini?

Herman Deru:

Kita sebagai warga Sumsel dan semua komponen terus berusaha, baik dalam bentuk imbauan maupun aksi nyata. Kemarin kita sempat hujan beberapa kali, bahkan ada hujan lagi di Musi Banyuasin.

Kalau kita lihat data terakhir di aplikasi, hotspot terbanyak ada di Kabupaten Ogan Ilir dan sebagian di Ogan Komering Ilir. Pemerintah kabupaten terus berupaya menekan hotspot, baik dengan pasukan darat maupun dengan dukungan dari pangkalan udara melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

2. Sejauh mana upaya OMC dilakukan untuk membantu penanganan karhutla?

Herman Deru:

Sudah ada 60 kali OMC yang diupayakan. Ini juga bagian dari upaya kita untuk membantu penanganan karhutla dan menekan hotspot.

3. Bagaimana penggunaan anggaran bantuan presiden Rp100 M untuk penanganan karhutla?

Herman Deru:

Soal bantuan itu tidak bisa sembarangan kita belanjakan. Harus akuntabel. Kalau dibelanjakan barang, harus melalui tender dulu, baik di e-katalog maupun tender umum.

Tidak bisa kita ada uang langsung belanja, karena harus sesuai prosedur. Ada tahapan-tahapannya. Saya lihat di media sosial banyak yang bertanya soal ini.

Gubernur Sumsel Herman Deru (IDN Times/Rangga Erfizal)

4. Apa saja yang boleh dibeli menggunakan anggaran tersebut?

Herman Deru:

Yang jelas, uang itu hanya boleh dibelikan barang yang berkenaan dengan pemadaman api, hutan dan lahan. Tidak boleh digunakan untuk keperluan lain. Tidak boleh di luar pencegahan dan pemadaman. Nanti akan diperiksa oleh BPK setelah dibelanjakan.

5. Peralatan apa saja yang sudah dibeli?

Herman Deru:

Antara lain, saya dapat laporan kemarin membeli mobil tangki. Kemudian pompa air, mobil damkar, serta kendaraan untuk membawa personel ke lapangan. Lain-lainnya untuk honor, banyak lagi yang dibeli, tapi saya tidak hafal.

6. Apakah honor dari anggaran tersebut juga diberikan kepada pejabat?

Herman Deru:

Untuk honor harus diberikan kepada yang operasi di lapangan, bukan honor pejabat.

Kondisi kabut asap di kota Palembang yang tiba-tiba gelap ditutupi polusi kebakaran hutan dan lahan (IDN Times/Rangga Erfizal)

7. Kenapa kabut asap masih muncul meski pemadaman terus dilakukan?

Herman Deru:

Kita pakai ilustrasi sederhana saja. Kemarin sempat naik asap luar biasa. Bara panas disiram air kan 'wusss' (suara debus). Aku tidak mengerti bahasa ilmiahnya, tapi itu salah satu penyebabnya.

Tapi hari ini (Senin, 28 September 2026) agak berkurang lagi asapnya karena anginnya tidak bertiup ke sini.

8. Mengapa asap dari karhutla di daerah bisa sampai terasa di Palembang?

Herman Deru:

Angin sangat berpengaruh. Kalau anginnya bertiup ke sini, asapnya tentu terasa di sini. Tapi pelatnya tidak bisa dipungkiri, ini BG platnya (kebakaran di Sumsel).

9. Mengapa penanganan karhutla di OKI menjadi tantangan besar?

Herman Deru:

Penanganan di OKI sudah sebulan lebih. Stamina orang di lapangan juga harus dijaga. Maka kita tolonglah, tidak gampang, kawan-kawan di lapangan. Kita yang jauh saja terasa, apalagi orang di situ. Mereka bukan berdiam diri. Saat dipadamkan muncul lagi, muncul lagi.

Di Jalan Radial (dalam kota) saja muncul di pohon sawit. Bayangkan jutaan pohon di lapangan, siapa mau kontrolnya.

Kondisi Kota Palembang yang diselimuti kabut asap akibat Karhutla. (IDN Times Rangga Efrizal)

10. Apa imbauan kepada masyarakat?

Herman Deru:

Yang selalu saya ingatkan itu kesadaran masyarakat, jangan dibakar. Bukan pembakarannya saja yang berbahaya, tapi juga terbangannya (hasil pembakaran) itu dibawa angin, alang-alang luar biasa.

11. Bagaimana cara mengurangi kabut asap yang sudah terlanjur menyebar?

Herman Deru:

Gimana menghilangkan kabut asap ini kalau tidak pakai exhaust fan? Karena asap sebanyak ini, anginlah yang kita harapkan. Tentu kita berharap ada hujan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article