Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sumsel Darurat Asap, Mahasiswa Ajak Masyarakat Turun ke Jalan
Demonstrasi Aliansi Mahasiswa UIN Raden Fatah menyikapi kondisi kabut asap di kota Palembang dengan permintaan agar Gubernur Sumsel Herman Deru mundur, Senin (5/10/2026) (IDN Times/Rangga Erfizal)
  • Aliansi mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang menggelar aksi jilid II di kantor Gubernur Sumsel, menagih keseriusan pemerintah menangani karhutla dan kabut asap.

  • Mahasiswa menilai masyarakat telah hampir empat bulan terpapar asap, sementara titik api masih muncul, kualitas udara memburuk, dan hak atas udara bersih belum terpenuhi.

  • Aksi ini menyusul ultimatum 125 jam kepada Gubernur Herman Deru; setelah petisi ditandatangani, mahasiswa menilai penanganan belum tuntas dan kembali mendesak pertanggungjawaban.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Aliansi Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang menggelar aksi unjuk rasa jilid II bertajuk “Sumsel Darurat Asap, Sumsel Menjemput Revolusi” untuk mendesak penanganan kebakaran hutan dan lahan.
  • Who?
    Aliansi Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang, dipimpin koordinator aksi M. Naufal Fawaz, menyerukan keterlibatan mahasiswa, pemuda, dan masyarakat Sumatra Selatan. Gubernur Herman Deru menjadi sasaran tuntutan.
  • Where?
    Aksi berlangsung di kantor Gubernur Sumatra Selatan, Palembang. Kabut asap dilaporkan masih menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatra Selatan.
  • When?
    Aksi jilid II berlangsung pada Rabu, 21 Oktober 2026. Aksi sebelumnya digelar pada 5 Oktober 2026, dengan ultimatum 125 jam kepada Herman Deru.
  • Why?
    Mahasiswa menilai penanganan karhutla belum tuntas setelah masyarakat hampir empat bulan terpapar asap, sementara titik api masih muncul dan kualitas udara di sejumlah wilayah memburuk.
  • How?
    Mahasiswa menyampaikan desakan melalui demonstrasi, seruan bergabung kepada masyarakat, dan penagihan komitmen pemerintah. Mereka juga mendesak Herman Deru bertanggung jawab serta mundur apabila persoalan karhutla tidak terselesaikan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang pergi ke kantor Gubernur Sumsel. Mereka protes karena asap dari kebakaran hutan dan lahan masih ada. Udara jadi tidak enak dihirup. Mereka meminta pemerintah dan Gubernur Herman Deru lebih serius memadamkan api. Mereka juga mengajak warga ikut menyuarakan hal ini.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Aliansi mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang kembali menyerukan aksi unjuk rasa bertajuk 'Sumsel Darurat Asap, Sumsel Menjemput Revolusi'. Melalui aksi jilid II ini, mahasiswa menagih komitmen pemerintah Sumatra Selatan (Sumsel) dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dinilai belum tuntas.

Mahasiswa menilai Sumsel belum terbebas dari kabut asap setelah hampir empat bulan masyarakat terpapar asap. Titik api karhutla yang masih bermunculan membuat kualitas udara di sejumlah wilayah memburuk dan mengganggu aktivitas masyarakat.

Koordinator Aksi Aliansi Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang, M. Naufal Fawaz, mengatakan aksi tersebut menjadi bentuk desakan kepada pemerintah agar lebih serius menangani karhutla beserta dampaknya terhadap masyarakat.

"Hari ini kami turun aksi jilid II di kantor Gubernur Sumsel," ungkap Naufal kepada IDN Times, Rabu (21/10/2026).

1. Mahasiswa menilai Sumsel belum merdeka dari asap

Demonstrasi Aliansi Mahasiswa UIN Raden Fatah menyikapi kondisi kabut asap di kota Palembang dengan permintaan agar Gubernur Sumsel Herman Deru mundur, Senin (5/10/2026) (IDN Times/Rangga Erfizal)

Menurut Naufal, kondisi Sumsel saat ini masih jauh dari kata baik. Kabut asap yang kembali menyelimuti sejumlah wilayah menjadi persoalan yang membutuhkan penyelesaian nyata, bukan sekadar janji. Mahasiswa menilai masyarakat masih harus menghadapi dampak karhutla, termasuk kualitas udara yang memburuk. Mereka juga menyoroti hak masyarakat untuk menghirup udara bersih yang dinilai belum terpenuhi selama persoalan tersebut belum ditangani secara tuntas.

"Sumsel saat ini sedang tidak baik-baik saja. Sumsel belum merdeka dari asap," jelasnya.

2. Ajak mahasiswa dan masyarakat turun ke jalan

Demonstrasi Aliansi Mahasiswa UIN Raden Fatah menyikapi kondisi kabut asap di kota Palembang dengan permintaan agar Gubernur Sumsel Herman Deru mundur, Senin (5/10/2026) (IDN Times/Rangga Erfizal)

Melalui seruan aksi jilid II, Aliansi Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang mengajak mahasiswa, pemuda, dan masyarakat Sumatra Selatan untuk bergabung menyuarakan keresahan atas kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Aksi ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat desakan kepada pemerintah agar bertanggung jawab atas penanganan karhutla serta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

Mahasiswa juga menyerukan keadilan lingkungan dan mengajak masyarakat untuk bersama-sama menyuarakan tuntutan tersebut. Mereka menegaskan, mahasiswa dan masyarakat tidak akan tinggal diam menghadapi krisis karhutla yang terus berdampak pada kehidupan warga.

3. Jilid II respons dari desakan mundur Herman Deru

Demonstrasi Aliansi Mahasiswa UIN Raden Fatah menyikapi kondisi kabut asap di kota Palembang dengan permintaan agar Gubernur Sumsel Herman Deru mundur, Senin (5/10/2026) (IDN Times/Rangga Erfizal)

Diberitakan sebelumnya, Aliansi mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang memberikan ultimatum selama 125 jam kepada Herman Deru untuk menyelesaikan persoalan karhutla. Jika tidak, mereka mendesak gubernur mundur dari jabatannya.

Saat aksi pada 5 Oktober 2026, Herman Deru menandatangani petisi berisi tuntutan mahasiswa. Namun, setelah tenggat berakhir, mahasiswa menilai penanganan karhutla belum menyelesaikan persoalan secara menyeluruh.

Mereka pun menagih komitmen gubernur sekaligus mendesak pertanggungjawaban atas penanganan kebakaran hutan dan lahan di Sumsel. Kekecewaan ini menjadi salah satu latar belakang munculnya desakan agar Herman Deru mundur dari jabatannya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article