Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sindir Asap Karhutla, Mahasiswa Anggap Kantor Gubernur Bak Gunung 1.500 Mdpl
Aksi tetrikal mahasiswa berpura-pura menjadikan kantor gubernur sebagai tempat pendakian (IDN Times/Rangga Erfizal)
  • Aliansi BEM Nusantara Sumsel menggelar aksi teatrikal pendakian di Kantor Gubernur Sumsel, menyindir lambannya penanganan karhutla dan kabut asap tebal di Palembang.

  • Mahasiswa menyebut Palembang telah dikepung kabut asap selama empat bulan, lalu mendesak pemerintah daerah segera menuntaskan karhutla agar kondisi tidak terus memburuk.

  • Usai bertemu Sekda Sumsel Edward Candra, mahasiswa menuntut jawaban konkret dari gubernur dan mengancam aksi lebih besar pada 28 Oktober 2026 bila penanganan belum nyata.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Aliansi BEM Nusantara Sumsel menggelar aksi teatrikal pendakian di Kantor Gubernur Sumsel untuk menyindir penanganan kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap di Palembang.
  • Who?
    Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi BEM Nusantara Sumsel melakukan aksi dan telah bertemu Sekretaris Daerah Sumsel, Edward Candra. Gubernur Sumsel diharapkan memberikan jawaban konkret atas tuntutan mereka.
  • Where?
    Aksi berlangsung di halaman dan area Kantor Gubernur Sumatera Selatan di Palembang, yang digambarkan mahasiswa sebagai kawasan pegunungan di tengah kabut asap.
  • When?
    Aksi digelar pada Rabu, 21 Oktober 2026. Mahasiswa menyatakan akan kembali mengadakan aksi dengan massa lebih besar pada 28 Oktober 2026 jika penanganan karhutla belum menunjukkan hasil nyata.
  • Why?
    Mahasiswa menilai kabut asap akibat karhutla telah mengepung Palembang selama sekitar empat bulan dan penanganannya oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan berlangsung lambat serta belum tuntas.
  • How?
    Mahasiswa membawa tas gunung, menggunakan mobil komando, dan menyimulasikan pendakian di kantor gubernur. Mereka menyampaikan aspirasi, meminta akses masuk, serta menyatakan akan memantau komitmen pemerintah daerah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Mahasiswa di Palembang pura-pura mendaki Kantor Gubernur Sumsel. Mereka membawa tas gunung karena asap sangat tebal, seperti kabut di gunung. Asap dari kebakaran hutan dan lahan sudah empat bulan ada. Mereka bertemu Sekda Edward Candra dan meminta pemerintah cepat mengatasi asap. Kalau belum selesai, mereka akan datang lagi pada 28 Oktober.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Mahasiswa kembali menggelar aksi teatrikal mendaki gunung untuk menyindir lambannya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) oleh Pemprov Sumsel. Kali ini, mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi BEM Nusantara Sumsel menyulap halaman Kantor Gubernur Sumsel seolah-olah menjadi kawasan pegunungan yang harus didaki di tengah tebalnya kabut asap.

"Sekitar 1.500 mdpl, berarti tebal nian embun ini," ungkap mahasiswa di atas mobil komando, Rabu (21/2026).

1. Nilai penanganan karhutla berlarut-larut

Aksi tetrikal mahasiswa berpura-pura menjadikan kantor gubernur sebagai tempat pendakian (IDN Times/Rangga Erfizal)

Aksi teatrikal tersebut dilakukan dengan membawa tas gunung dan menggambarkan Kantor Gubernur Sumsel sebagai kawasan pendakian. Mahasiswa menyindir kabut asap yang telah berlarut-larut hingga membuat Palembang seolah-olah berada di wilayah perbukitan.

"Asap-asap ini, bukan embun. Kawan saya ini, mahasiswa pecinta alam, melihat kabut asap ini katanya seru sekali untuk muncak. Jadi, dia muncak di Kantor Gubernur. Jadi, tolonglah ya, Pak, bukakan sedikit jalan biar kami bisa masuk menyampaikan aspirasi," ujar mahasiswa sebelum mereka memasuki kantor gubernur.

2. Sudah empat bulan Palembang dikepung asap

Demonstrasi mahasiwa di kantor Gubernur Sumsel (IDN Times/Rangga Erfizal)

Mahasiswa menilai persoalan kabut asap akibat karhutla di Sumsel telah berlangsung selama empat bulan. Mereka mempertanyakan sampai kapan masyarakat harus menghadapi kondisi tersebut.

"Lah, (sudah) empat bulan kabut ini, mau sampai kapan? Nanti kami lupa kalau Palembang ini sudah jadi wilayah perbukitan," katanya.

3. Desak akan kembali ke Pemprov Sumsel

Penyegelan secara simbolis kantor Gubernur Sumsel di Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)

Ia menjelaskan, tas gunung yang dibawa dalam aksi tersebut merupakan simbol sindiran terhadap kondisi kabut asap yang semakin mengkhawatirkan. Mahasiswa berharap penanganan karhutla segera dituntaskan agar kabut asap tidak terus menyelimuti Palembang.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa juga mengungkapkan telah bertemu dengan Sekretaris Daerah Sumsel, Edward Candra. Mereka berharap Gubernur Sumsel dapat memberikan jawaban konkret atas tuntutan yang disampaikan.

Mahasiswa menyatakan akan terus memantau dan menagih komitmen pemerintah daerah dalam menangani karhutla. Mereka menegaskan, penundaan aksi bukan berarti perjuangan telah berakhir.

"Mundur satu langkah bukan tanda kekalahan. Kita akan hadir lebih banyak. Pada 28 Oktober, kita pastikan gedung ini, ketika karhutla belum tuntas, maka 28 Oktober adalah puncak dari segalanya," tegasnya.

Mahasiswa pun mengancam akan kembali menggelar aksi dengan massa yang lebih besar pada 28 Oktober 2026 apabila penanganan karhutla di Sumsel belum menunjukkan hasil yang nyata.

Curated For You

Editorial Team

Related Article