Penyegelan secara simbolis kantor Gubernur Sumsel di Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)
Ia menjelaskan, tas gunung yang dibawa dalam aksi tersebut merupakan simbol sindiran terhadap kondisi kabut asap yang semakin mengkhawatirkan. Mahasiswa berharap penanganan karhutla segera dituntaskan agar kabut asap tidak terus menyelimuti Palembang.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa juga mengungkapkan telah bertemu dengan Sekretaris Daerah Sumsel, Edward Candra. Mereka berharap Gubernur Sumsel dapat memberikan jawaban konkret atas tuntutan yang disampaikan.
Mahasiswa menyatakan akan terus memantau dan menagih komitmen pemerintah daerah dalam menangani karhutla. Mereka menegaskan, penundaan aksi bukan berarti perjuangan telah berakhir.
"Mundur satu langkah bukan tanda kekalahan. Kita akan hadir lebih banyak. Pada 28 Oktober, kita pastikan gedung ini, ketika karhutla belum tuntas, maka 28 Oktober adalah puncak dari segalanya," tegasnya.
Mahasiswa pun mengancam akan kembali menggelar aksi dengan massa yang lebih besar pada 28 Oktober 2026 apabila penanganan karhutla di Sumsel belum menunjukkan hasil yang nyata.