Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Polda Sumsel Didesak Usut Tuntas Penganiayaan 2 Jurnalis Palembang

Kota Palembang
4 min read
Polda Sumsel Didesak Usut Tuntas Penganiayaan 2 Jurnalis Palembang
Demonstrasi koalisi pers di Sumsel menyikapi kasus kekerasan terhadap dua jurnalis di kota Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)
  • Pimpinan media dan organisasi pers mendatangi Polda Sumsel, mengecam intimidasi serta penganiayaan terhadap dua jurnalis di Palembang, dan mendesak pengusutan kasus secara terbuka.

  • Insan pers meminta polisi menangkap seluruh pelaku, termasuk aktor intelektual di balik kekerasan, serta mengevaluasi kinerja intelijen dalam mencegah bentrokan.

  • Kapolda Sumsel Irjen Pol Rony Samtana menjanjikan evaluasi menyeluruh; satu pelaku diamankan, dua lainnya menyerahkan diri, sementara korban dirawat di RS Bhayangkara.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Pimpinan media dan organisasi pers Sumatra Selatan mengecam aksi premanisme dan intimidasi yang menimpa dua jurnalis di kota Palembang. Aksi protes ini dilakukan dengan mendatangi Mapolda Sumsel dan menyampaikan aspirasi untuk segera mengungkap kasus penganiayaan yang terjadi.

"Kami minta kasus ini diungkap sejelas-jelasnya. Tidak ada tutup-menutup. Dalam 3x24 jam, Dir Intel wajib bertanggung jawab. Jika tidak, saya sendiri yang akan menemui Dir Intel," ungkap Pimpinan Redaksi PalTV, Firman Hidayat, Kamis (15/10/2026).

  1. 1. Kejadian penganiayaan terhadap jurnalis baru pertama terjadi

    Demonstrasi koalisi pers di Sumsel menyikapi kasus kekerasan terhadap dua jurnalis di kota Palembang
    Demonstrasi koalisi pers di Sumsel menyikapi kasus kekerasan terhadap dua jurnalis di kota Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)

    Firman menyebut, bahwa dirinya secara pribadi memberikan ultimatum kepada Polda Sumsel untuk segera menyelesaikan kasus penganiayaan terhadap jurnalis di Palembang. Menurutnya, polisi tidak boleh takut atau membiarkan ormas berlaku sewenang-wenang.

    "Lama saya liputan di Polda Sumsel dan baru kali ini ada wartawan dianiaya. Dan baru kali ini, kami, saya (ingin) bertemu dengan Dir Intel sulit minta ampun," jelasnya.

    Firman juga menyampaikan keberatan atas kekerasan yang dialami jurnalis PalTV. Ia meminta Kapolda Sumsel memberikan perhatian serius terhadap keselamatan jurnalis yang menjalankan tugas peliputan.

    Dalam pernyataannya, Firman membandingkan perlakuan yang mungkin diterima anggota kepolisian apabila mengalami penganiayaan dengan kejadian yang menimpa jurnalis.

    "Saya minta kepada kapolda, anggota saya dianiaya. Jika anggota bapak dianiaya, positif dar der dor (ditembak). Kalau bapak tidak berani, serahkan senpi bapak saya yang akan tangkap," ujarnya.

    Ia juga menegaskan bahwa kepolisian tidak boleh gentar menghadapi organisasi masyarakat (ormas) dalam menegakkan hukum.

    "Polisi tidak boleh takut sama ormas. Kalau takut, bubarkan Polda Sumsel. Periksa saja Dir Intel kalau berani," tegasnya.

  2. 2. Minta aktor intelektual diproses hukum

    Demonstrasi koalisi pers di Sumsel menyikapi kasus kekerasan terhadap dua jurnalis di kota Palembang
    Demonstrasi koalisi pers di Sumsel menyikapi kasus kekerasan terhadap dua jurnalis di kota Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)

    Senada, Pimred Tribun Sumsel-Sriwijaya Post Prawira Maulana menegaskan, kehadiran insan pers dalam aksi tersebut merupakan bentuk solidaritas sekaligus tekanan agar kasus kekerasan terhadap jurnalis diusut hingga tuntas.

    Menurutnya, kekerasan terhadap insan pers menjadi persoalan serius yang harus mendapat perhatian kepolisian, terlepas dari siapa pun pihak yang terlibat.

    "Harapannya, pertemuan hari ini adalah bentuk pressure dari kami bahwa jurnalisme hari ini sedang tidak baik-baik saja. Entah itu oknum, terduga, maupun pihak resmi yang melakukan tindak kekerasan terhadap insan pers," ujar Wira.

    Prawira mengatakan, pihaknya mengapresiasi perkembangan penanganan perkara yang disampaikan Kapolda Sumsel Irjen Pol Rony Samtana. Namun, ia meminta polisi tidak berhenti pada penangkapan orang-orang yang diduga terlibat langsung dalam kekerasan.

    Ia mendesak kepolisian mengungkap seluruh pihak yang terlibat, termasuk kemungkinan adanya aktor intelektual di balik bentrokan tersebut.

    "Pak Kapolda, kami melihat tadi Bapak sudah merilis ada dua tersangka yang ditangkap. Kami juga melihat banyak pihak yang terlibat dalam pemukulan tersebut. Selain meminta mereka ditangkap, kami juga mendesak aktor intelektualnya," katanya.

  3. 3. Minta evaluasi kinerja intelijen

    Demonstrasi koalisi pers di Sumsel menyikapi kasus kekerasan terhadap dua jurnalis di kota Palembang
    Demonstrasi koalisi pers di Sumsel menyikapi kasus kekerasan terhadap dua jurnalis di kota Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)

    Selain pengusutan perkara, Prawira mempertanyakan peran intelijen dalam mengantisipasi bentrokan di depan Mapolda Sumsel. Menurutnya, evaluasi diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat kekurangan dalam upaya deteksi dini dan pengamanan.

    Ia meminta Kapolda Sumsel memastikan seluruh proses penanganan perkara berjalan serius dan transparan.

    Prawira juga menegaskan, pihaknya meminta pejabat terkait dicopot apabila hasil evaluasi menunjukkan adanya kinerja yang tidak profesional.

  4. 4. Kapolda Sumsel janji evaluasi menyeluruh

    Demonstrasi koalisi pers di Sumsel menyikapi kasus kekerasan terhadap dua jurnalis di kota Palembang
    Demonstrasi koalisi pers di Sumsel menyikapi kasus kekerasan terhadap dua jurnalis di kota Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)

    Sebelumnya, Kapolda Sumsel, Irjen Pol Rony Samtana, menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh atas bentrokan di depan Mapolda Sumsel yang menyebabkan jurnalis dan mahasiswa menjadi korban kekerasan.

    Pernyataan tersebut disampaikan saat menemui lebih dari 200 peserta aksi solidaritas pers di gerbang Mapolda Sumsel, Kamis (15/10/2026). Dalam pertemuan itu, massa mendesak kepolisian mengusut tuntas kasus kekerasan dan mengungkap seluruh pihak yang terlibat.

    "Terkait pencopotan Dir Intel dan semua kejadian bentrok, kami akan melakukan evaluasi menyeluruh. Kejadian ini tidak boleh terulang lagi. Kita akan lawan premanisme," kata Rony.

    Rony juga menyampaikan bahwa satu orang telah diamankan dan dua orang lainnya menyerahkan diri terkait kejadian tersebut.

    "Berdasarkan instruksi Kapolri dan apa yang kami lakukan, semua korban diberikan perawatan terbaik di RS Bhayangkara. Satu orang pelaku sudah diamankan. Terbaru, dua orang sudah menyerahkan diri," ujarnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More