Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kualitas Udara Sumsel Memburuk, Palembang-Prabumulih-PALI Berbahaya
Kondisi kabut asap di kota Palembang, Jumat 8 Oktober 2026 (IDN Times/Rangga Erfizal)
  • DLHP Sumsel mencatat Palembang, Prabumulih, dan PALI berkategori berbahaya pada Jumat pagi, dengan konsentrasi PM2,5 dan PM10 sangat tinggi.

  • Musi Rawas dan Lahat berstatus sangat tidak sehat, sementara Ogan Ilir, Musi Banyuasin, serta Muara Enim tidak sehat; OKU Selatan berada pada kategori sedang.

  • PM2,5 Palembang melampaui ambang batas nasional. Warga diminta mengurangi aktivitas luar ruangan, memakai masker N95, menutup jendela, dan mencari bantuan medis bila gejala memburuk.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatra Selatan (Sumsel) semakin mengkhawatirkan pada Jumat (9/10/2026) pagi. Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Sumsel, tiga wilayah masuk kategori berbahaya, yakni Palembang, Prabumulih, dan Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).

Berdasarkan pembaruan data pukul 06.00 WIB, ISPU di Palembang mencapai angka 445 untuk PM2.5, sedangkan konsentrasi PM10 tercatat sebesar 683. Sementara itu, Prabumulih mencatat konsentrasi PM2.5 sebesar 373 dan PM10 sebesar 268.

Adapun di PALI, konsentrasi PM2.5 mencapai 517 dan PM10 sebesar 639. Tingginya konsentrasi partikel tersebut menunjukkan buruknya kualitas udara di ketiga wilayah tersebut. Berikut kondisi udara di Sumsel yang dirangkum IDN Times.

1. Dua daerah di Sumsel masuk kategori sangat tidak sehat

Kondisi kabut asap di kota Palembang, Jumat 8 Oktober 2026 (IDN Times/Rangga Erfizal)

Selain tiga wilayah dengan kategori berbahaya, kualitas udara di Musi Rawas dan Lahat juga berada dalam kategori sangat tidak sehat. Konsentrasi PM2.5 di Musi Rawas tercatat sebesar 234, sedangkan di Lahat mencapai 224. Sementara itu, Ogan Ilir, Musi Banyuasin, dan Muara Enim masuk kategori tidak sehat.

Adapun Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan menjadi salah satu wilayah dengan kualitas udara yang relatif lebih baik, yakni kategori sedang dengan konsentrasi PM2,5 sebesar 69.

2. Konsentrasi PM2.5 di Palembang melampaui ambang batas

Kondisi kabut asap di kota Palembang yang tiba-tiba gelap ditutupi polusi kebakaran hutan dan lahan (IDN Times/Rangga Erfizal)

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), konsentrasi PM2.5 di Palembang berada di atas Nilai Ambang Batas (NAB) yang ditetapkan dalam baku mutu udara ambien nasional. PM2.5 merupakan partikel polutan berukuran lebih kecil dari 2,5 mikrometer. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel tersebut masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.

Mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, NAB PM2,5 untuk pengukuran selama 24 jam ditetapkan sebesar 55 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Konsentrasi PM2.5 yang tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan dan kardiovaskular. Dampak jangka pendek yang dapat terjadi antara lain bronkitis, gangguan paru-paru, penyakit jantung, hingga serangan asma.

Bayi, anak-anak, dan lanjut usia (lansia) termasuk kelompok yang rentan terhadap paparan polusi udara.

3. Warga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan

Kondisi kabut asap di kota Palembang yang tiba-tiba gelap ditutupi polusi kebakaran hutan dan lahan (IDN Times/Rangga Erfizal)

Masyarakat yang tinggal di wilayah dengan kualitas udara buruk diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama kegiatan fisik berat yang dapat meningkatkan jumlah udara yang dihirup.

Jika harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat disarankan menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus, seperti respirator N95 atau yang setara. Warga juga dapat mengurangi masuknya asap ke dalam rumah dengan menutup jendela saat udara di luar memburuk.

Selain itu, masyarakat perlu memperhatikan kondisi kesehatan, terutama jika mengalami batuk, sesak napas, atau iritasi saluran pernapasan selama kabut asap berlangsung. Jika muncul gejala berat atau sesak napas yang memburuk, segera cari pertolongan medis.

Curated For You

Editorial Team

Related Article