Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Koalisi Pers Unjuk Rasa, Desak Pencopotan Dirintelkam Polda Sumsel
Demonstrasi koalisi pers di Sumsel menyikapi kasus kekerasan terhadap dua jurnalis di kota Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)
  • Koalisi Pers Sumsel berunjuk rasa di Polda Sumsel, mendesak pencopotan Dirintelkam Kombes Pol Tony Budhi Susetyo dan pengusutan kekerasan terhadap mahasiswa serta jurnalis.

  • Koordinator aksi meminta pelaku dan pihak di balik kekerasan diperiksa, termasuk dugaan penghalangan kerja jurnalistik melalui pengejaran wartawan dan penghapusan dokumentasi.

  • Kapolda Sumsel Irjen Pol Rony Samtana menjanjikan investigasi menyeluruh, mencatat dua terduga pelaku menyerahkan diri, serta meminta rekaman kekerasan sebagai barang bukti.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Seruan pencopotan Direktur Intelijen dan Keamanan (Dirintelkam) Polda Sumatra Selatan, Kombes Pol Tony Budhi Susetyo, menggema dalam aksi Koalisi Pers Sumsel di Mapolda Sumsel. Massa berulang kali meneriakkan tuntutan tersebut sebagai bentuk protes atas kekerasan yang menimpa mahasiswa dan jurnalis saat bentrokan di depan Mapolda Sumsel, Selasa (13/10/2026).

Di tengah aksi, massa kompak menyuarakan yel-yel yang ditujukan kepada Dirintelkam Polda Sumsel.

"Copot-copot Dir Intel sekarang juga, copot Dir Intel sekarang juga," teriak massa aksi.

Tuntutan itu disampaikan sebagai bentuk desakan agar kepolisian mengusut tuntas peristiwa kekerasan yang terjadi saat demonstrasi mahasiswa terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumsel.

1. Minta UU Pers ditegakan dan copot Dirintelkam Polda Sumsel

Demonstrasi koalisi pers di Sumsel menyikapi kasus kekerasan terhadap dua jurnalis di kota Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)

Koordinator aksi, Oktaf Riadi, meminta Kapolda Sumsel tidak hanya menangkap pelaku kekerasan di lapangan, tetapi juga mengusut pihak yang diduga berada di balik kejadian tersebut.

"Kita minta kapolda menangkap pelaku kekerasan dan otak di balik kejadian ini. Tujuan kita Dirintelnya. Biarkan kapolda bekerja terlebih dahulu, sabar, kawan-kawan," ujarnya di hadapan massa.

Oktaf juga menyoroti kekerasan yang dialami jurnalis ketika menjalankan tugas peliputan. Menurutnya, wartawan bukan sekadar menjadi korban di tengah bentrokan, melainkan diduga sengaja dikejar untuk menghapus foto dan video hasil dokumentasi mereka.

Ia meminta kepolisian memeriksa dugaan keterlibatan pihak tertentu dalam peristiwa tersebut serta mengevaluasi jajaran yang bertanggung jawab. Oktaf turut meminta agar pelaku diproses menggunakan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

"Tindakan mengejar wartawan dan meminta penghapusan dokumentasi merupakan bentuk penghalangan terhadap kerja jurnalistik," ujarnya.

Ia mempertanyakan kehadiran kelompok yang disebut datang untuk membagikan masker di tengah demonstrasi mahasiswa. Menurutnya, kegiatan tersebut seharusnya tidak menjadi persoalan apabila tidak disertai tindakan kekerasan terhadap peserta aksi maupun jurnalis.

Sementara itu, perwakilan massa lainnya, Fauzi, meminta Kapolri turun tangan agar situasi di Palembang kembali kondusif. Ia menilai masyarakat seharusnya bisa hidup rukun tanpa adanya konflik antarkelompok.

"Kita hidup di Kota Palembang ingin hidup rukun dan damai, tetapi kita diadu domba oleh yang namanya Dirintel. Pak Kapolri, tolong kami," kata Fauzi.

2. Kapolda janji usut peristiwa secara menyeluruh

Demonstrasi koalisi pers di Sumsel menyikapi kasus kekerasan terhadap dua jurnalis di kota Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)

Menanggapi tuntutan tersebut, Kapolda Sumsel Irjen Pol Rony Samtana menyampaikan keprihatinannya atas kekerasan yang menyebabkan sejumlah orang menjadi korban dalam bentrokan di depan Mapolda Sumsel. Ia memastikan kepolisian akan melakukan investigasi menyeluruh untuk menelusuri rangkaian peristiwa, mulai dari waktu kejadian, asal-muasal kelompok yang terlibat, hingga penyebab bentrokan.

"Banyak korban dalam peristiwa ini mulai dari kalangan mahasiswa, jurnalis, dan anggota kepolisian," jelasnya.

Ia juga menyebut telah menerima laporan mengenai dua orang yang diduga terlibat dalam kekerasan dan menyerahkan diri ke Polda Sumsel. Namun, ia menegaskan bahwa penyerahan diri kedua orang tersebut tidak akan menghentikan proses penyelidikan.

"Saya dapat laporan dari Pak Dirkrimum, dua orang terduga pelaku menyerahkan diri ke Polda Sumsel. Saya katakan itu tidak cukup. Saya akan gunakan investigasi, barang bukti video tolong serahkan kepada kami," ujarnya.

3. Polisi minta rekaman kekerasan jadi bukti

Demonstrasi koalisi pers di Sumsel menyikapi kasus kekerasan terhadap dua jurnalis di kota Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)

Rony juga meminta pihak yang memiliki rekaman peristiwa kekerasan untuk menyerahkannya kepada kepolisian guna membantu proses penyelidikan.

Ia menegaskan bahwa jurnalis merupakan mitra kerja kepolisian, sehingga penanganan kasus kekerasan terhadap wartawan menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam pengusutan peristiwa tersebut.

"Bagi kami di Sumsel, teman-teman wartawan adalah partner kerja kami," katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article