Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Emas Palembang Lebih Mahal dari Emas Jawa? Ini Perbedaannya

Kota Palembang
2 min read
Kenapa Emas Palembang Lebih Mahal dari Emas Jawa? Ini Perbedaannya
Ilustrasi perhiasan emas. (IDN Times/Muhammad Saifullah)
  • Emas perhiasan di Jawa umumnya dihitung per gram, dengan emas muda di bawah 17 karat dan emas tua di atas 17 karat; kadar 23–24 karat jarang dipakai.

  • Di Palembang, satu suku setara 6,7 gram dan menjadi satuan baku. Perhiasan sukuan umumnya berkadar tinggi, mulai 21 karat, sehingga harganya lebih mahal.

  • Perhiasan sukuan banyak dibuat pengrajin Tanjung Batu, Ogan Ilir. Bentuk, kadar, dan bobot khasnya kerap sulit diterima toko Jawa, sehingga disarankan memakai pengepul atau layanan buyback resmi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Palembang, IDN Times - Setiap daerah memiliki karakteristik masing-masing, termasuk jenis dan bentuk emas perhiasan yang dijual di pasaran. Satuan emas, khususnya di Palembang, memiliki istilah suk. Kata suku itu membuat harga emas Palembang lebih mahal daripada emas di Pulau Jawa.

Secara karakteristik, tak hanya penyebutan. Sistem transaksi emas perhiasan di Sumatra Selatan juga berbeda dibandingkan dengan di Pulau Jawa. Termasuk dari kadar maupun model perhiasan. Lalu, seperti apa rincian perbedaannya? Berikut ulasan IDN Times:

  1. 1. Kadar kandungan emas di Pulau Jawa jarang menggunakan 23-24 karat

    Ilustrasi perhiasan emas berwarna kuning keemasan sebagai gambaran produk logam mulia dan aksesori.
    Ilustrasi perhiasan emas. (IDN Times/Muhammad Saifullah)

    Menurut pemilik toko emas di kawasan Sako Perumnas Palembang, Awi, kalau di Jawa, transaksi emas umumnya menggunakan satuan gram. Istilah suku dikenal oleh sebagian orang, namun bobotnya hanya 3,75 gram dan penggunaannya tidak lazim.

    "Selama jual emas di Jawa, mayoritas toko emas tetap menggunakan hitungan gram," kata dia.

    Awi menjelaskan, bahwa klasifikasi kadarnya juga terbagi dua, yakni emas muda di bawah 17 karat dan emas tua di atas 17 karat.

    "Kadar 23 dan 24 karat juga jarang digunakan untuk kandungan emas perhiasan," jelasnya.

  2. 2. Perhiasan suku memiliki kandungan karat di atas 21 karat

    Ilustrasi perhiasan emas berwarna kuning keemasan sebagai gambaran investasi emas dalam bentuk perhiasan.
    ilustrasi perhiasan emas (unsplash.com/Aslı Yaren Peker)

    Lebih lanjut, Awi menyampaikan, di Palembang, satuan untuk berat emas yang baku digunakan adalah suku. Satu suku setara dengan 6,7 gram dan telah menjadi istilah umum di tengah masyarakat.

    "Rata-rata perhiasan sukuan dibuat dengan kadar tinggi, mulai dari 21 karat ke atas," ujarnya.

    Menurutnya, sebutan suku memiliki kesamaan fungsi dengan satuan mayam di Aceh, yakni sebagai satuan tradisional emas, meski memiliki perbedaan bobot.

    "Istilah suku juga dikenal di beberapa wilayah Sumatra lainnya seperti Jambi, Lampung, dan Bangka, namun penggunaannya paling baku di Sumsel," jelas dia.

  3. 3. Terkadang emas Sumatra Sulit dijual di toko perhiasan Jawa

    Ilustrasi perhiasan emas dengan beragam bentuk dan detail berkilau sebagai gambaran koleksi aksesori berbahan emas.
    Ilustrasi perhiasan emas. (IDN Times/Muhammad Saifullah)

    Dirinya mengatakan, sentra produksi emas sukuan di Sumatra, banyak berasal dari pengrajin emas di Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir. Karakteristik yang khas itu, terlihat dari segi bentuk, kadar, maupun bobot.

    "Karena ada perbedaan, suka ada kendala. Ketika emas dari Sumatra mau dijual di Pulau Jawa, kebanyakan toko perhiasan tidak terima karena bentuk, kadar, dan beratnya yang khas," ujar Awi.

    Ia menyarankan agar penjualan emas khas Sumatra di wilayah Jawa dilakukan melalui pengepul atau pengecer emas, maupun melalui sentra layanan buyback resmi, agar proses jual kembali dapat lebih mudah.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More