Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Karhutla Tak Tuntas dalam 125 Jam, Mahasiswa Desak Gubernur Sumsel Mundur
Demonstrasi Aliansi Mahasiswa UIN Raden Fatah menyikapi kondisi kabut asap di kota Palembang dengan permintaan agar Gubernur Sumsel Herman Deru mundur, Senin (5/10/2026) (IDN Times/Rangga Erfizal)
  • Aliansi Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang mendesak Gubernur Sumsel Herman Deru mundur setelah ultimatum 125 jam untuk menuntaskan karhutla berakhir pada 11 Oktober 2026.

  • Mahasiswa menagih komitmen tuntutan yang telah ditandatangani gubernur, menilai penanganan karhutla dan kabut asap belum menyeluruh serta meminta penindakan tegas terhadap pelaku pembakaran lahan.

  • Aliansi masih mengonsolidasikan kemungkinan aksi jilid II, sementara Herman Deru bermalam di lokasi karhutla OKI untuk memantau titik api dan mengoptimalkan pemadaman serta patroli udara.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Aliansi Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang mendesak Gubernur Sumatra Selatan (Sumsel), Herman Deru, mundur dari jabatannya. Desakan tersebut disampaikan setelah tenggat ultimatum selama 125 jam terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berakhir pada Minggu (11/10/2026).

Ultimatum itu sebelumnya disampaikan mahasiswa saat menggelar aksi demonstrasi di Kantor Pemerintah Provinsi Sumsel pada Senin (5/10/2026). Mereka meminta persoalan karhutla dituntaskan dalam waktu 5 x 25 jam. Jika tidak terpenuhi, Herman Deru diminta secara ksatria melepaskan jabatannya.

Dalam pernyataan sikap yang disampaikan pada 11 Oktober 2026, mahasiswa menegaskan bahwa tenggat yang mereka berikan telah berakhir. Mereka pun mendesak Herman Deru mundur dari jabatannya.

Seruan tersebut disertai yel-yel, "Gubernur mundur, Sumsel maju, turunkan saja!"

1. Mahasiswa tagih tuntutan penanganan karhutla

Demonstrasi Aliansi Mahasiswa UIN Raden Fatah menyikapi kondisi kabut asap di kota Palembang dengan permintaan agar Gubernur Sumsel Herman Deru mundur, Senin (5/10/2026) (IDN Times/Rangga Erfizal)

Koordinator Aksi Aliansi Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang, M. Naufal Fawaz, mengatakan pihaknya tengah melakukan konsolidasi lanjutan untuk menentukan langkah setelah ultimatum tersebut berakhir.

Ia menegaskan, mahasiswa akan menagih komitmen Gubernur Sumsel terhadap poin-poin tuntutan yang disampaikan dalam aksi sebelumnya. Menurutnya, tuntutan itu telah ditandatangani langsung oleh Herman Deru sebagai bentuk komitmen untuk mengatasi karhutla.

"Kami sedang melakukan konsolidasi terkait poin-poin tuntutan yang kami bawa pada aksi tanggal 5 Oktober 2026 kemarin. Yang jelas, kami akan menagih janji Gubernur Sumsel terhadap poin tuntutan kami yang sudah ditandatangani langsung oleh Bapak Gubernur tentang ultimatum ini," ungkap Naufal kepada IDN Times, Senin (12/10/2026).

Naufal menyayangkan penanganan karhutla dan kabut asap yang dinilai belum menyelesaikan persoalan secara menyeluruh. Ia menilai kebakaran yang berulang setiap musim kemarau perlu ditangani melalui pencegahan dan penindakan tegas terhadap pelaku pembakaran lahan.

"Kami sangat menyayangkan kelalaian pemerintah provinsi dalam menanggulangi serta menangani karhutla dan kabut asap ini. Seperti yang sama-sama kita ketahui, kabut asap dan karhutla ini sudah seperti event tahunan saat musim kemarau," katanya.

2. Minta penindakan tegas terhadap pelaku pembakaran

Demonstrasi Aliansi Mahasiswa UIN Raden Fatah menyikapi kondisi kabut asap di kota Palembang dengan permintaan agar Gubernur Sumsel Herman Deru mundur, Senin (5/10/2026) (IDN Times/Rangga Erfizal)

Mahasiswa mengapresiasi tim dari satuan tugas (satgas) yang melakukan pemadaman di lapangan. Namun, mereka menilai upaya tersebut perlu dibarengi dengan penegakan hukum agar kebakaran tidak terus berulang di lokasi berbeda.

Menurutnya, penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan titik api. Pemerintah juga perlu memastikan adanya tindakan tegas terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran lahan.

"Kami mengapresiasi kinerja teman-teman satgas, namun kami juga ingin penindakan secara tegas terhadap para pelaku pembakaran lahan. Kami merasa percuma apabila api di titik A dipadamkan, namun di titik B kembali dilakukan pembakaran yang membuat karhutla dan kabut asap ini tak kunjung usai," ungkap Naufal.

3. Mahasiswa siapkan konsolidasi untuk aksi jilid II

Demonstrasi Aliansi Mahasiswa UIN Raden Fatah menyikapi kondisi kabut asap di kota Palembang dengan permintaan agar Gubernur Sumsel Herman Deru mundur, Senin (5/10/2026) (IDN Times/Rangga Erfizal)

Setelah ultimatum berakhir, Aliansi Mahasiswa UIN Raden Fatah masih mengonsolidasikan langkah berikutnya. Mereka tengah membahas apakah akan mempertahankan tuntutan sebelumnya atau menambahkan poin tuntutan baru. Naufal mengatakan, aksi jilid II masih menjadi salah satu kemungkinan yang dibahas. Namun, jadwal pelaksanaannya belum ditetapkan.

"Seperti yang saya katakan tadi, sekarang aliansi kami sedang melakukan konsolidasi lanjutan terkait ultimatum kami, entah itu kami tetap membawa tuntutan yang sama seperti kemarin ataupun menambah poin tuntutan kami," jelasnya.

Ia menambahkan, apabila aksi lanjutan diputuskan, mahasiswa akan kembali mengumumkan seruan aksi kepada publik.

"Apabila kami akan melakukan aksi jilid II, akan kami buat seruan aksi kembali," katanya.

4. Herman Deru bermalam di lokasi karhutla

Gubernur Sumsel Herman deru menemui massa Demonstrasi mahasiswa di Palembang menuntut keseriusan pemerintah dalam penanganan karhutla (IDN Times/Rangga Erfizal)

Diketahui, Gubernur Sumsel Herman Deru, bermalam di lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), salah satu wilayah yang menjadi pusat kebakaran di Sumsel. Langkah ini dilakukan untuk memastikan penanganan karhutla berjalan optimal di tengah kabut asap yang menyelimuti Kota Palembang.

Bersama Bupati OKI, Muchendi Mahzareki, Deru memantau perkembangan titik api dan meninjau langsung lokasi kebakaran. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan pemerintah daerah memperkuat upaya pemadaman di lapangan.

"Setelah mendengar paparan petugas Manggala Agni, arah angin saat ini menuju utara. Artinya, dari OKI menuju Palembang. Sementara helikopter berada di Palembang, tepatnya di Lanud, sehingga kondisi jarak pandang menjadi salah satu kendala," jelasnya.

Selain memantau kondisi di lapangan, Herman Deru mengatakan pihaknya mengoptimalkan patroli udara untuk mendukung upaya pemadaman karhutla.

"Kita akan bermalam di sana untuk melihat kondisi riil sekaligus memastikan penanganan karhutla berjalan dengan baik," jelasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article