Hotspot Sumsel Turun, Karhutla Masih Terjadi di Enam Wilayah

Jumlah hotspot di Sumsel turun dari puncak 3.710 titik pada 7 Oktober 2026 menjadi 1.959 titik berdasarkan data sementara 10 Oktober.
Kejadian karhutla sempat mencapai 73 kasus pada 7 Oktober, lalu turun menjadi 55 kasus pada 9 Oktober setelah berfluktuasi sepanjang pekan.
Penanganan 85 kejadian karhutla difokuskan di OKI, Muara Enim, Muba, Banyuasin, Ogan Ilir, dan Palembang; warga diminta memantau kualitas udara.
Palembang, IDN Times - Jumlah titik panas atau hotspot di Sumatra Selatan (Sumsel) mulai menurun setelah sempat mencapai 3.710 titik pada 7 Oktober 2026. Berdasarkan data sementara, Sabtu (10/10/2026), jumlah hotspot tercatat sebanyak 1.959 titik.
Sebelumnya, jumlah hotspot di Sumsel tercatat 1.821 titik pada 3 Oktober. Angka tersebut meningkat menjadi 2.197 titik pada 4 Oktober dan 2.512 titik pada 5 Oktober.
Kenaikan berlanjut pada 6 Oktober dengan 3.689 titik, sebelum mencapai angka tertinggi dalam periode tersebut, yakni 3.710 titik pada 7 Oktober.
Setelah itu, jumlah hotspot turun menjadi 3.330 titik pada 8 Oktober dan kembali berkurang menjadi 2.251 titik pada 9 Oktober. Hingga pembaruan sementara pada 10 Oktober, jumlahnya kembali turun menjadi 1.959 titik.
1. Kejadian Karhutla sempat naik sepekan

Demonstrasi mahasiswa di Palembang menuntut keseriusan pemerintah dalam penanganan karhutla (IDN Times/Rangga Erfizal) Di tengah perubahan jumlah hotspot, kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumsel juga fluktuatif sepekan terakhir.
Pada 3 Oktober 2026, tercatat 68 kejadian karhutla. Jumlah tersebut turun menjadi 58 kejadian pada 4 Oktober dan 53 kejadian pada 5 Oktober.
Namun, kejadian karhutla kembali meningkat menjadi 66 pada 6 Oktober dan mencapai 73 kejadian pada 7 Oktober. Pada 8 Oktober, jumlahnya turun menjadi 67 kejadian, kemudian kembali berkurang menjadi 55 kejadian pada 9 Oktober.
2. Penanganan karhutla fokus enam wilayah

Kabut asap yang menyelimuti kota Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal) Penanganan karhutla di Sumsel saat ini masih difokuskan di enam wilayah, yakni Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Muara Enim, Musi Banyuasin (Muba), Banyuasin, Ogan Ilir, dan Kota Palembang.
Berdasarkan data yang disampaikan, terdapat total 85 kejadian karhutla yang menjadi fokus penanganan di enam wilayah tersebut.
Sementara itu, jumlah hotspot pada 10 Oktober masih bersifat sementara dan dapat berubah mengikuti pembaruan data.
3. Musim kemarau berpotensi kekeringan

Kondisi kabut asap di kota Palembang yang tiba-tiba gelap ditutupi polusi kebakaran hutan dan lahan (IDN Times/Rangga Erfizal) Musim kemarau di Sumatra Selatan berpotensi memicu kekeringan dan penurunan kualitas udara. Tingginya konsentrasi polutan di udara dapat berdampak pada kesehatan, terutama bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki gangguan pernapasan.
Masyarakat diimbau untuk membatasi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk. Jika harus beraktivitas di luar, gunakan masker dan cukupi kebutuhan cairan tubuh dengan minum air putih. Masyarakat juga perlu memantau kualitas udara secara berkala sebelum beraktivitas di luar rumah.
Apabila mengalami keluhan, seperti batuk, sesak napas, iritasi mata, atau gangguan pernapasan lainnya, masyarakat disarankan untuk mengurangi paparan asap. Jika keluhan tidak kunjung membaik, segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.













![[OPINI] Menjalani Tugas dengan 'Enjoy', Bukan Nirempati tapi Menjaga Waras dalam Kerja Penuh Tekanan](https://image.idntimes.com/post/20260823/whatsapp-image-2026-08-23-at-07_ba9d8e4f-23bc-47bf-97d1-1d68726a7e32.jpeg)







