Inspiratif! Dosen di Palembang Ciptakan Pantau Api Cegah Karhutla

Dosen Palembang M. Rizky Pribadi menciptakan website Pantau Api untuk memantau titik api di Sumatra Selatan, terutama wilayah rawan karhutla seperti Ogan Komering Ilir.
Platform ini mengolah data satelit, termasuk data publik dan NASA, dengan sistem coding serta AI untuk memprediksi potensi kabut asap per jam di Palembang dan daerah lain.
Pantau Api telah dirintis setahun dari dana pribadi, namun pengembangan akses dan ringkasan data publik masih membutuhkan PC berkualitas tinggi serta dukungan pendanaan.
Palembang, IDN Times - Jari-jemari M. Rizky Pribadi tak henti bergerak di atas keyboard PC. Telunjuk kanannya dengan cepat menggeser arah kursor. Klik, klik, sekali lagi klik. Dirinya serius menatap layar dan fokus melihat warna merah berkedip di gambar peta Sumatra Selatan.
"Ini titik sumber api yang ada di Sumsel," kata dosen Universitas MDP sekaligus Kepala Program Studi Informatika, sembari menerangkan arti titik tersebut kepada IDN Times di sudut ruang Kampus Multi Data Palembang baru-baru ini pada Oktober 2026.
1. Ciptakan website Pantau Api hasil karya mandiri

Laman website Pantau Api hasil karya M. Rizky Pribadi (IDN Times/Feny Maulia Agustin) Memakai pakaian batik cokelat keemasan, Rizky sengaja menjelaskan arti gambar di layar laptopnya. Dia sedang menunjukkan website Pantau Api hasil karyanya. Sambil terus sibuk menatap ke layar, jari telunjuknya kembali ke atas kursor dan menekan laman 'refresh'. Matanya menyipit. Dua titik merah baru muncul di area Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
Dirinya langsung memperbesar peta. Jempol dan telunjuknya bekerja di touchpad, zoom in, zoom out.
"Di sini sumbernya (titik api) area ini paling banyak terjadi karhutla (kebakaran hutan dan lahan). Hotspot (titik api) tingkat risiko tinggi dan anginnya mengarah ke Palembang," ujarnya sambil kembali membuka tab data satelit, menekan Alt + Tab dengan cepat hingga layar berganti-ganti dalam sekian detik.
2. Pantau Api bisa diakses umum

Laman website Pantau Api hasil karya M. Rizky Pribadi (IDN Times/Feny Maulia Agustin) Rizky bercerita bahwa website Pantau Api, hasil karyanya, bisa dibuka secara umum lewat laman pantauapi.my.id. Namun kelemahannya, data ringkasan secara menyeluruh hanya bisa diolah melalui PC miliknya. Sebab untuk dapat diakses publik, Rizky membutuhkan PC berkualitas tinggi.
"Semua dana sendiri jadi tidak semua bisa diakses. Kalau memang ada dananya, ada hibah, bisa dikembangkan (pantau api) untuk mencegah karhutla berulang dan bisa dimitigasi bersama dari berbagai pihak," kata dia.
Di sudut ruang lantai 1 Kampus MDP, Rizky menyampaikan, latar belakang dirinya menciptakan Pantau Api berawal dari keresahan diri melihat kondisi karhutla yang terus berulang dan sudah dirintis sejak setahun belakangan.
"Sebenarnya ini hasil penelitian, karena kita sudah tahu, kalau di Palembang bencananya kalau tidak kabut asap ya banjir. Ini penelitian sudah setahun," kata dia.
3. Pantau Api diolah dari data satelit dengan generate AI

Dosen Universitas MDP sekaligus Kepala Program Studi Informatika, Dr. M. Rizky Pribadi, S. Kom., M. Kom (IDN Times/Feny Maulia Agustin) Tujuannya sederhana, lanjut Rizky, jangan sampai karhutla di lahan gambut berulang terjadi. Karena gambut sangat mudah terbakar di saat musim kering, kemarau seperti sekarang. Gambut kedalaman kurang dari 1 meter yang terbakar kata dia, membutuhkan hingga 20 kilogram air agar sumber apinya hilang dan padam.
Harapannya, apa yang dirinya ciptakan di kampus, bisa membantu pemerintah dan stakeholder lain.
Sambil mengobrol santai tapi serius, sepuluh jari Rizky pun kembali menari. Di sisi kanan, buka tab data satelit dan di kiri, buka log laporan. Melalui dashboardnya, Rizky menampilkan data satelit yang telah diolah lewat sistem coding dengan generate AI (kecerdasan buatan).
"Tujuannya, dapat memantau prediksi kabut asap dari data satelit yang diolah dengan AI. Data ini bisa memprediksi potensi asap per jam terutama untuk Kota Palembang dan kabupaten lain di Sumsel," jelasnya.
4. Berharap Pantau Api bisa membantu semua orang

Universitas Multi Data Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin) Dirinya memperbesar lagi peta Sumsel yang menampilkan berbagai titik merah sumber api. Telunjuknya kembali menunjuk layar, obrolan makin panjang. Kata Rizky, arah angin dari OKI dominan membawa polutan udara ke Palembang.
"Jadi kita tahu, udara yang bagus saat kabut asap, jam berapa ke luar rumahnya. Sejauh ini saya baru share di medsos. Data ini diolah dari satelit langsung, termasuk NASA dan data-data publik," kata dia.
Ia kembali ke dashboard utama dan menunggu data loading. Saat keseluruhan informasi muncul, jarinya menggeser scroll ke bawah, mengecek grafik konsentrasi asap.
"Ya, harapannya, pantau api ini bisa membantu siapa pun sebelum titik api datang lagi. Karena semuanya bisa dicegah dengan tindakan dan aksi," jelas Rizky




















![[OPINI] Menjalani Tugas dengan 'Enjoy', Bukan Nirempati tapi Menjaga Waras dalam Kerja Penuh Tekanan](https://image.idntimes.com/post/20260823/whatsapp-image-2026-08-23-at-07_ba9d8e4f-23bc-47bf-97d1-1d68726a7e32.jpeg)

