Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Karhutla Sumsel Kembali Naik usai Hujan, 507 Titik Panas Terdeteksi
Proses penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah Sumatra Selatan dalam upaya pemadaman (Dok: Manggala Agni)
  • Hujan di Sumsel pada 21-22 September 2026 sempat menekan titik panas, dari 1.378 pada 20 September menjadi 160 titik pada 23 September.

  • Cuaca panas membuat lahan cepat mengering dan kembali terbakar; titik panas melonjak menjadi 507 pada 24 September, lalu terdeteksi 376 titik pada 25 September.

  • Asap dari ratusan titik api terbawa angin ke Palembang, menyelimuti sejumlah kawasan; konsentrasi PM2.5 mencapai 515 mikrogram per meter kubik pada pukul 11.00 WIB.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Jumlah titik panas karhutla di Sumatra Selatan kembali meningkat menjadi 507 titik pada 24 September 2026 setelah sebelumnya turun pascahujan. Asap juga menyelimuti sejumlah kawasan di Palembang.
  • Who?
    Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang Siswanto menyampaikan pemantauan titik panas. Warga Palembang terdampak kabut asap dan kualitas udara berbahaya.
  • Where?
    Titik panas terdeteksi di Sumatra Selatan. Kabut asap terpantau di Kota Palembang, termasuk Kenten, Veteran, Jalan Sudirman, Merdeka, Ampera, dan sekitar Masjid Agung.
  • When?
    Hujan terjadi pada 21–22 September 2026. Titik panas turun menjadi 160 pada 23 September, naik menjadi 507 pada 24 September, dan tercatat 376 titik pada 25 September 2026.
  • Why?
    Lahan yang terbakar cepat mengering kembali ketika cuaca panas setelah hujan, sehingga titik api kembali meningkat. Asap dari wilayah terbakar terbawa angin menuju Palembang.
  • How?
    Ratusan titik api menghasilkan asap yang bergerak mengikuti angin. Pada sekitar pukul 09.00 WIB, asap menebal di Palembang; konsentrasi PM2.5 pukul 11.00 WIB mencapai 515 mikrogram per meter kubik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Hujan di Sumatra Selatan sempat membuat kebakaran hutan dan lahan berkurang. Tapi setelah cuaca panas, tanah cepat kering dan api muncul lagi. Ada 507 titik panas pada 24 September. Asap dari tempat yang terbakar terbawa angin ke Palembang. Sekarang udara di Palembang jadi berbahaya dan asapnya tebal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Sumatra Selatan (Sumsel) pada 21-22 September 2026 sempat memberikan dampak terhadap menurunnya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, kondisi tersebut hanya bertahan sementara karena lahan kembali terbakar sesudah hujan.

"Karena lahan yang terbakar cepat mengering kembali saat cuaca panas, jumlah titik api melonjak sehari setelahnya," ungkap Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, kepada IDN Times, Jumat (25/9/2026).

1. Hujan sempat efektif tekan titik panas

Pemadaman Karhutla di kawasan Gambut di Desa Kota Bumi, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir (OKI) ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

Siswanto menjelaskan, hujan yang sempat melanda Sumsel dinilai efektif menekan karhutla, dilihat dari penurunan titik panas. Pada 19 September 2026, terpantau 1.204 titik panas dan meningkat menjadi 1.378 titik pada 20 September.

Setelah hujan, jumlahnya turun drastis menjadi 160 titik pada 23 September. Namun, sehari berselang, jumlah titik panas kembali melonjak.

"Pada 24 September, titik panas kembali naik drastis menjadi 507 titik panas. Lalu hari ini sudah terdeteksi 376 titik panas," ungkap dia.

2. Asap dari kabupaten bergerak ke Palembang

Karhutla yang melanda kawasan Kertapati Palembang (ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI)

Menurutnya, kembali meningkatnya titik panas tersebut juga berdampak pada munculnya asap di sejumlah wilayah, termasuk Palembang. Ratusan titik api yang kembali menyala menghasilkan asap dalam jumlah besar.

"Asap tersebut kemudian dapat terbawa oleh pergerakan angin dari wilayah yang terbakar menuju daerah seperti Palembang," jelasnya.

3. Kualitas udara sempat berbahaya

Proses penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah Sumatra Selatan dalam upaya pemadaman (Dok: Manggala Agni)

Diberitakan sebelumnya, kabut asap di Kota Palembang semakin terasa menjelang siang, Jumat (25/9/2026). Kondisi ini terjadi setelah pada pagi hari udara masih terlihat relatif normal dan aktivitas warga berjalan seperti biasa.

Memasuki sekitar pukul 09.00 WIB, asap mulai terlihat lebih tebal di sejumlah kawasan. Pantauan IDN Times, kabut tersebut terjadi merata di seluruh Kota Palembang. Kondisi tersebut membuat jarak pandang berkurang dan udara terasa kurang nyaman saat dihirup.

Sejumlah kawasan seperti Kenten, Veteran, Jalan Sudirman, kawasan Merdeka hingga Ampera Palembang mulai diselimuti asap tebal. Kondisi serupa juga terlihat di sekitar Masjid Agung Palembang hingga sepanjang Jalan Jenderal Sudirman. Sejumlah objek dari kejauhan tampak lebih samar karena tertutup kabut asap.

Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan tingginya konsentrasi PM2.5. Berdasarkan data kualitas udara yang dikeluarkan IQAir pada pukul 11.00 WIB, konsentrasi PM2.5 di Kota Palembang tercatat mencapai 515 mikrogram per meter kubik. Data tersebut menempatkan kualitas udara Palembang pada kategori berbahaya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article