Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Hotspot Sumsel Capai 1.505 Titik, Udara Palembang dan PALI Berbahaya

Kota Palembang
3 min read
Hotspot Sumsel Capai 1.505 Titik, Udara Palembang dan PALI Berbahaya
Sebaran hotspot Sumsel pada Minggu (27/9/2026). (Dok SiPongi Kemenhut)
  • Jarak pandang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II berjarak 900 meter dengan kondisi berasap

  • Rendahnya jarak pandang di wilayah OKI menghambat proses pemadaman menggunakan helikopter water bombing

  • Saat ini satgas gabungan terus bergerak melakukan pemadaman dan penanganan untuk mencegah api meluas

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Palembang, IDN Times - Meski sejumlah wilayah di Sumatra Selatan (Sumsel) sempat diguyur hujan, sebaran hotspot dan kabut asap masih menorehkan angka cukup tinggi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumsel melaporkan jumlah hotspot atau titik panas kembali di angka 1.505 titik berdasarkan data Sipongi pada Minggu (27/9/2026) pukul 05.00 WIB.

Dalam 24 jam terakhir, sebaran hotspot paling tinggi berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dengan 1.014 titik dan 74 kejadian karhutla dalam sehari. Hingga 26 September, angka tersebut melampaui catatan tertinggi pada Agustus sekaligus sepanjang 2026. Bahkan, jumlah bulanan menjadi yang tertinggi sejak 2015 dengan mencatat angka 60.039 titik.

  1. 1. Indikator kualitas udara Palembang dan PALI kategori berbahaya dan sangat tidak sehat

    Tangkapan layar kondisi Indeks Standar Pencemaran Udara Sumatera Selatan pada Minggu, 27 September 2026.
    Kondisi Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) Sumsel pada Minggu (27/9/2026). (Dok. DLHP Sumsel)

    Tak hanya itu, laporan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) dari data DLHP Sumsel menunjukkan Kota Palembang berada di level hitam (berbahaya), yakni dengan nilai PM10 di angka 342 dan PM2,5 dengan angka 345. Disusul Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir di level merah (Sangat Tidak Sehat), yakni dengan nilai PM10 di angka 159 dan PM2,5 di angka 219. Data tersebut diakses pada Minggu (27/9/2026) pukul 06.00 WIB.

    Hampir seluruh wilayah di Sumsel terdeteksi kabut asap dan jarak pandang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II berjarak 900 meter dengan kondisi berasap pada pukul 05.30 WIB. Akibatnya, pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum bisa dilanjutkan karena minimnya ketersediaan awan konvektif atau potensial untuk dilakukan penyemaian.

  2. 2. Penanganan intensif pemadaman karhutla dilakukan di Kabupaten OKI

    Situasi kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan pada Minggu, 27 September 2026, berdasarkan dokumentasi BPBD Sumsel.
    Situasi karhutla Sumsel pada Minggu (27/9/2026). (Dok. BPBD Sumsel)

    Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan secara umum kondisi kejadian karhutla di Sumsel bersifat fluktuatif dan asap terdeteksi serta dirasakan di beberapa wilayah, terutama di Kota Palembang. Penanganan intensif dilakukan di Kabupaten OKI karena lahan yang terbakar saat ini berkarakteristik gambut sehingga menyulitkan pemadaman.

    "Rendahnya jarak pandang di wilayah OKI menghambat proses pemadaman menggunakan helikopter water bombing. Selain itu, ketersediaan sumber air yang terbatas dan akses menuju lokasi kebakaran yang sulit menghambat petugas pemadaman darat dalam melaksanakan pemadaman," ujarnya.

  3. 3. Total luas lahan terbakar sekitar 290,26 hektare dalam sehari

    Tim Manggala Agni Daops Sum-XVII/OKI saat berjibaku melakukan pemadaman.
    Tim Manggala Agni Daops Sum-XVII/OKI saat berjibaku melakukan pemadaman. (Dok. Manggala Agni)

    Sudirman menambahkan, beberapa lokasi di OKI yang jadi fokus penanganan yakni Tulung Selapan, Pangkalan Lampam, Pampangan, Tanjung Lubuk, Pedamaran Timur, Air Sugihan, Cengal, dan Sungai Menang. Saat ini, satgas gabungan terus bergerak melakukan pemadaman dan penanganan untuk mencegah api meluas serta mengurangi dampak asap terhadap masyarakat.

    "Total luas lahan terbakar sekitar 290,26 hektare dan yang belum dipadamkan ada 68,7 hektare. Penanganan dilakukan melalui patroli darat dan udara, operasi pemadaman darat, water bombing, operasi modifikasi cuaca, monitoring hotspot serta sosialisasi pencegahan karhutla," jelas Sudirman.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More