Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Efek Dry Ice Hanya Bertahan 3-5 Jam, Palembang Tetap Diselimuti Kabut Asap
Kondisi kabut asap yang melanda kota Palembang menutup ikon kota Jembatan Ampera (IDN Times/Rangga Erfizal)
  • Kabut asap masih menyelimuti Palembang karena kebakaran di Tulung Selapan, Sungai Menang, dan Cengal, OKI, belum sepenuhnya padam serta asap terbawa angin.

  • Penyemaian dry ice membantu memperbaiki kualitas udara dan jarak pandang, sementara pemadaman darat terus dilakukan pada kebakaran gambut yang api dapat merambat di bawah permukaan.

  • Efek dry ice berlangsung sekitar 3–5 jam, sehingga operasi dua sorti harian dilakukan untuk mendukung penerbangan Bandara SMB II dan helikopter water bombing.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan masih menyelimuti Palembang meski operasi penyemaian dry ice dilakukan untuk memperbaiki kualitas udara dan jarak pandang.
  • Who?
    Tim Manggala Agni melakukan pemadaman di OKI, sementara Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan memantau kondisi atmosfer dan operasi dry ice.
  • Where?
    Kabut asap dirasakan di Kota Palembang, sedangkan kebakaran masih terjadi di Tulung Selapan, Sungai Menang, dan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir.
  • When?
    Kabut asap menyelimuti Palembang dalam dua hari terakhir hingga Rabu, 21 Oktober 2026. Operasi dry ice dilakukan dua sorti sehari, dengan sorti kedua dijadwalkan pukul 16.00 WIB.
  • Why?
    Asap masih terbawa angin dari kebakaran yang belum sepenuhnya padam di lahan gambut OKI. Api dapat merambat ke bawah permukaan tanah dan sulit dipadamkan.
  • How?
    Petugas memadamkan api dan membuat sekat di lokasi kebakaran, sementara dry ice disemai untuk mengurai lapisan inversi. Efek perbaikan atmosfer bertahan sekitar tiga hingga lima jam.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Palembang masih tertutup kabut asap karena hutan dan lahan di OKI terbakar. Petugas Manggala Agni memadamkan api di Tulung Selapan, Sungai Menang, dan Cengal. Mereka juga menebar dry ice dua kali sehari. Dry ice membantu udara dan pandangan lebih baik selama 3 sampai 5 jam. Api di tanah gambut masih susah padam.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti Kota Palembang dalam dua hari terakhir. Meski operasi penyemaian dry ice telah dilakukan, asap masih terbawa angin dari sejumlah wilayah yang mengalami kebakaran.

Berdasarkan data Manggala Agni, hingga Rabu masih terdapat tiga lokasi kebakaran di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), yakni Tulung Selapan, Sungai Menang, dan Cengal. Kebakaran yang belum sepenuhnya padam ini menjadi salah satu tantangan dalam penanganan kabut asap di Palembang.

"Tim Manggala Agni masih melakukan pemadaman di tiga wilayah di OKI, yakni Tulung Selapan, Sungai Menang, dan Cengal," ungkap Ferdian kepada IDN Times, Rabu (21/10/2026).

1. Operasi dry ice tetap dilakukan untuk bantu atasi kabut asap

Kondisi kabut asap di Palembang pagi ini (IDN Times/Rangga Erfizal)

Ferdian menegaskan, penyemaian dry ice di tengah penanganan karhutla bukan berarti upaya tersebut sia-sia. Operasi ini merupakan salah satu langkah untuk membantu memperbaiki kondisi atmosfer di Palembang, sementara petugas di darat tetap berfokus pada pemadaman kebakaran.

Menurutnya, penyemaian dry ice bertujuan membantu memperbaiki jarak pandang dan kualitas udara di Palembang. Upaya ini juga diharapkan dapat meningkatkan peluang terbentuknya awan hujan yang bisa mendukung penanganan karhutla.

"Perbaikan jarak pandang juga penting untuk mendukung operasi udara, terutama penerbangan helikopter dalam membantu pemadaman kebakaran," jelasnya.

Ferdian menjelaskan, penanganan karhutla dilakukan melalui dua upaya yang berjalan beriringan. Petugas di darat terus berupaya memadamkan api di lokasi kebakaran, sedangkan penyemaian dry ice dilakukan untuk membantu memperbaiki kondisi atmosfer.

"Kedua langkah ini berjalan beriringan untuk mendukung penanganan karhutla di Sumsel," katanya.

2. Kebakaran di lahan gambut OKI sulit dipadamkan

Kondisi kabut asap di Palembang pagi ini (IDN Times/Rangga Erfizal)

Ferdian menjelaskan, kebakaran di OKI terjadi di kawasan ekosistem gambut. Kondisi tersebut membuat pemadaman lebih sulit, terlebih ketika api membakar vegetasi semak belukar dan merambat hingga ke bawah permukaan tanah.

Di lahan gambut, asap masih mengepul meski petugas telah menyiramkan air ke lokasi kebakaran. Jika api sudah menjalar ke lapisan gambut di bawah permukaan, proses pemadaman membutuhkan penanganan lebih lanjut agar api benar-benar padam.

"Khusus untuk gambut, karena menghasilkan asap, perlu penanganan lebih detail, apalagi kalau sudah ada api di bawah permukaan," ungkap Ferdian.

Dalam proses pemadaman, Manggala Agni memprioritaskan penanganan di bagian kepala api agar kebakaran tidak semakin meluas. Setelah api berhasil dikendalikan, petugas memperluas sekat untuk membatasi penyebaran api.

Sementara itu, pemadaman di bagian tengah dan belakang dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi kebakaran dan bahan bakar yang tersisa di area tersebut. Menurut Ferdian, keberhasilan pemadaman juga bergantung pada ketersediaan sumber air dan kondisi di lapangan, termasuk kecepatan angin.

"Penanganan di kawasan gambut ini juga bergantung pada kecukupan sumber air, tidak serta-merta pada kondisi kecepatan angin dan gangguan lain," jelasnya.

3. Efek dry ice bertahan 3–5 jam, operasi dilakukan dua kali sehari

Kondisi kabut asap di Palembang pagi ini (IDN Times/Rangga Erfizal)

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, mengatakan hasil pemantauan BMKG menunjukkan adanya perubahan kualitas udara di Palembang setelah operasi penyemaian dry ice dilakukan. Berdasarkan grafik pemantauan per jam, perubahan tersebut terlihat cukup signifikan dibandingkan dengan kondisi sebelum operasi.

Menurutnya, dry ice merupakan karbon dioksida (CO2) yang dibekukan hingga bersuhu sekitar minus 70 derajat Celsius. Dalam operasi ini, material tersebut digunakan untuk membantu mengurai lapisan inversi atmosfer yang berada pada ketinggian sekitar 6.000–7.000 kaki dan dapat memerangkap asap di dekat permukaan.

Namun, efek operasi tersebut tidak berlangsung sepanjang hari. Wandayantolis menjelaskan, dampaknya terhadap kondisi atmosfer hanya bertahan sekitar tiga hingga lima jam, sehingga penyemaian perlu dilakukan kembali untuk membantu menjaga jarak pandang.

"Jika dari grafik per jam yang harian, cukup signifikan. Efeknya berlangsung sekitar 3–5 jam," jelasnya.

4. Dry ice bisa meningkatkan jarak pandang

Kondisi kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kota Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)

Operasi ini dilakukan untuk membantu memperbaiki jarak pandang yang terganggu oleh kabut asap karhutla. Kondisi tersebut penting bagi kelancaran penerbangan komersial di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, sekaligus mendukung operasional helikopter water bombing dalam upaya pemadaman kebakaran di Sumatera Selatan.

Untuk itu, penyemaian dry ice dijadwalkan berlangsung dalam dua sorti setiap hari. Sorti pertama dilakukan menjelang siang, sedangkan sorti kedua dijadwalkan menjelang sore untuk membantu mempertahankan efek perbaikan kondisi atmosfer. Wandayantolis mengatakan, pada hari tersebut sorti pertama telah dilaksanakan, sementara sorti kedua dijadwalkan pada pukul 16.00 WIB.

"Makanya biasanya ada sortie kedua (operasi dry ice). Sortie satu sekarang sudah jalan, sortie kedua pukul 16.00 WIB," ungkapnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article