Demonstrasi mahasiswa di Palembang menuntut keseriusan pemerintah dalam penanganan karhutla (IDN Times/Rangga Erfizal)
Bagi mahasiswa, persoalan karhutla tidak berhenti pada asap yang mengganggu aktivitas masyarakat. Dampaknya menyentuh persoalan keselamatan, kesehatan, hingga keberlanjutan lingkungan. Karena itu, mereka meminta pemerintah tidak hanya bergerak ketika kebakaran sudah terjadi, tetapi memperkuat pencegahan dan memastikan persoalan lingkungan ditangani dalam jangka panjang.
Dalam pernyataan sikap BEM Unsri melalui Departemen Aksi dan Propaganda, mahasiswa menyampaikan lima tuntutan. Pertama, pemerintah diminta memperkuat pencegahan dan perlindungan kawasan gambut yang rawan terbakar, termasuk melakukan audit terhadap wilayah gambut.
Kedua, mahasiswa mendesak adanya transparansi anggaran Bantuan Presiden (Banpres) serta seluruh anggaran yang digunakan untuk penanganan karhutla. Ketiga, keselamatan dan kesehatan masyarakat yang terdampak asap diminta menjadi prioritas. Pemerintah juga didesak untuk memastikan kebutuhan kesehatan warga terpenuhi.
Keempat, mahasiswa meminta tindakan tegas terhadap korporasi yang terbukti terlibat dalam karhutla. Terakhir, mereka mendorong adanya pemantauan dan penanggulangan jangka panjang untuk memastikan proses pemulihan berjalan, termasuk kondisi lahan gambut dan potensi kebakaran berulang.
Bagi mahasiswa, kabut asap yang dirasakan masyarakat menjadi pengingat bahwa persoalan karhutla tidak cukup diselesaikan hanya dengan memadamkan api.