Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Banyak Warga Berobat Saat Kabut Asap, Cermin Besarnya Beban Penyakit

Kota Palembang
3 min read
Banyak Warga Berobat Saat Kabut Asap, Cermin Besarnya Beban Penyakit
Epidemiolog Universitas Sriwijaya (Unsri) Iche Andriyani Liberty (Dok: Pemprov Sumsel)

  • Epidemiolog Unsri menilai tingginya warga berobat saat kabut asap mencerminkan besarnya beban penyakit, bukan otomatis bukti penanganan dampak kesehatan karhutla efektif.
  • Paparan asap berisiko memicu gangguan pernapasan dan kardiovaskular, termasuk pneumonia, asma, PPOK, serta penurunan fungsi paru; anak-anak, lansia, ibu hamil, dan pekerja luar ruang perlu perhatian.
  • Pemerintah perlu memantau pneumonia, asma, PPOK, kunjungan IGD, dan rawat inap bersama data PM2.5/PM10, serta memastikan respons meningkat seiring risiko dan pajanan polusi menurun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Palembang, IDN Times - Banyaknya warga yang berobat saat kabut asap menyelimuti Sumatera Selatan, tidak serta-merta menunjukkan penanganan dampak kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berjalan efektif.

Epidemiolog Universitas Sriwijaya (Unsri), Iche Andriyani Liberty, mengatakan tingginya jumlah warga yang mendapat pengobatan justru menggambarkan besarnya beban penyakit yang terjadi di tengah paparan asap.

"Keberhasilan tidak seharusnya ditunjukkan oleh berapa banyak masyarakat yang mendapat pengobatan gratis. Karena banyaknya orang yang berobat justru dapat mencerminkan besarnya beban penyakit," ungkap Iche kepada IDN Times, Selasa (6/10/2026).

  1. 1. Dampak kesehatan tak hanya ISPA

    Ilustrasi Anak penyakit ISPA.
    Ilustrasi Anak penyakit ISPA. (IDN Times/Anjani Asra)

    Iche menjelaskan, kabut asap akibat karhutla perlu dilihat sebagai environmental exposure atau pajanan lingkungan yang memengaruhi populasi. Risiko kesehatan tidak hanya ditentukan oleh keberadaan asap, tetapi juga intensitas, durasi, frekuensi pajanan, serta kondisi kelompok yang terpapar.

    "Dampak yang terjadi tidak selalu Inspeksi Saluran Pernapasan (ISPA) tetapi juga gangguan pernapasan dan kardiovaskular, termasuk pneumonia, eksaserbasi asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hingga penurunan fungsi paru," jelasnya.

    Semakin lama karhutla tidak tertangani dan kabut asap terjadi, akan berpengaruh kepada kesehatan masyarakat. Partikel PM2.5 menjadi salah satu perhatian utama karena ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel masuk jauh ke saluran pernapasan.

    "Untuk itu kelompok rentan harus diperhatikan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit paru dan jantung, serta pekerja luar ruang perlu mendapat perhatian lebih," jelasnya.

  2. 2. Pemerintah perlu pantau pneumonia hingga rawat inap

    Demonstrasi mahasiswa di Palembang menuntut keseriusan pemerintah dalam penanganan karhutla
    Demonstrasi mahasiswa di Palembang menuntut keseriusan pemerintah dalam penanganan karhutla (IDN Times/Rangga Erfizal)

    Menurut Iche, pemantauan dampak kesehatan akibat kabut asap juga tidak seharusnya berhenti pada jumlah kasus ISPA. Data kesehatan seperti pneumonia, asma, PPOK, kunjungan ke instalasi gawat darurat (IGD), hingga angka rawat inap perlu dipantau berdasarkan waktu, lokasi, dan kelompok masyarakat.

    "Surveillance tidak boleh berhenti pada ISPA. Kita sebenarnya perlu memantau health outcome-nya seperti pneumonia, asma/PPOK, kunjungan IGD, dan rawat inap," ujarnya.

    Ia mengatakan peningkatan kasus penyakit juga tidak bisa langsung disimpulkan hanya berdasarkan kondisi ketika asap muncul.

    Secara epidemiologis, perlu dilihat hubungan antara tingkat pajanan polusi dengan perubahan kondisi kesehatan masyarakat. Salah satunya dengan membandingkan data PM2.5 atau PM10 berdasarkan waktu dan lokasi dengan health outcome.

    "Untuk mengetahui apakah kasus meningkat harus dilihat dari apakah incidence rate ISPA meningkat setelah peningkatan PM2.5, berapa besar excess risk-nya, kelompok umur mana yang paling terdampak, berapa peningkatan kunjungan IGD, berapa kasus pneumonia, dan berapa hospitalisasi," katanya.

  3. 3. Respons harus mengikuti peningkatan risiko

    Kondisi kabut asap di kota Palembang yang tiba-tiba gelap ditutupi polusi kebakaran hutan dan lahan
    Kondisi kabut asap di kota Palembang yang tiba-tiba gelap ditutupi polusi kebakaran hutan dan lahan (IDN Times/Rangga Erfizal)

    Iche menilai evaluasi penanganan karhutla juga perlu melihat apakah respons pemerintah telah mengikuti peningkatan risiko kesehatan masyarakat.

    Menurutnya, ukuran keberhasilan intervensi bukan sekadar banyaknya layanan kesehatan yang disediakan, tetapi apakah pajanan masyarakat terhadap polusi menurun dan peningkatan beban penyakit (excess morbidity) dapat dicegah.

    "Apakah eskalasi respons sudah mengikuti eskalasi risiko, atau baru meningkat setelah dampak kesehatan dan kualitas udara menjadi ekstrem?" katanya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More