Comscore Tracker

Cara RA Mulya Liansari Dokter RSJ Palembang Memanusiakan Manusia

Saat bersama pasien, ia merasakan kehangatan dan kenyamanan

Mengulik sosok muda, cekatan, loyalitas, inspirasi, dan bermanfaat terhadap khalayak ramai, tentu menarik untuk dibahas. Apalagi beragam pengalaman dan kisah hidupnya bisa menjadi contoh pembelajaran.

Terngiang kalimat 'belajar memanusiakan manusia', sebuah kutipan sederhana namun jarang diterapkan di era sekarang. Namun quote itu menginspirasi RA Mulya Liansari, dokter spesialis kejiwaan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Ernaldi Bahar, Palembang.

Ia sudah 12 tahun mengabdi untuk mengobati pasien. Mengawali karier sebagai seorang dokter umum pada 2009 lalu, ia baru menangani langsung pasien kejiwaan pada 2017. Perempuan satu ini sebelumnya memang sempat belajar ilmu psikiatri.

1. Sebut dokter kejiwaan di Sumsel masih minim

Cara RA Mulya Liansari Dokter RSJ Palembang Memanusiakan ManusiaSuasana di RS Ernaldi Bahar Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Menurutnya, banyak orang yang bercita-cita menjadi dokter. Namun tak banyak orang yang ingin menjadi dokter kejiwaan. Terbukti, Sumatra Selatan (Sumsel) khususnya Palembang masih memiliki sedikit dokter spesialis kejiwaan ketimbang spesialis dan bidang lain.

Ia bercerita alasan memilih spesialis kejiwaan sebagai abdi negara. Ketika bersama pasien-pasien dengan kelainan jiwa, ia merasa kehangatan dan kenyamanan yang menghadirkan rasa sosial serta toleransi.

"Dari dokter umum sudah ditempatkan di sini, sejak saya diterima CPNS. Banyak kesan berada di antara mereka. Terkadang saya merasakan kasihan dan miris," ungkap Mulya.

Baca Juga: Kisah Nakes RS Jiwa di Palembang Merawat Pasien Terjangkit COVID-19 

2. Kesulitan bukan sebagai penghalang untuk bermanfaat bagi orang lain

Cara RA Mulya Liansari Dokter RSJ Palembang Memanusiakan ManusiaSuasana di RS Ernaldi Bahar Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Bagi perempuan kelahiran Palembang pada 15 Juli 1981 ini, dirinya menangani pasien kejiwaan pertama kali saat bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Kala itu, pasiennya adalah seorang atlet pria jago bela diri yang mengalami perubahan perilaku dan mengidap skizofrenia.

"Usianya sekitar 20 tahunan, masih muda. Dia sering gelisah dan beberapa kali dirawat. Sempat putus obat tergantung kondisi, karena memang sering keluar dan masuk. Info terakhir, dia di tinggal di pesantren dan sering mengamuk hingga memukul orang, juga merusak barang," jelas dia.

Walau sering mengalami kesulitan menenangkan pasien gangguan jiwa, Mulya menganggap pekerjaannya adalah ibadah, berkah, dan memuliakan mahluk Tuhan lainnya. Ia sangat memegang teguh tidak ada kata perbedaan dan diskrimnasi terhadap orang-orang yang sakit jiwa.

"Karena semua penyakit pasti ada obatnya," ujarnya.

3. Pasien gangguan jiwa sering ditolak oleh keluarga

Cara RA Mulya Liansari Dokter RSJ Palembang Memanusiakan ManusiaSuasana di RS Ernaldi Bahar Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Walau pernah dipukul dan kena gampar secara tak sengaja saat pasien mengamuk, Mulya menyebut hal itu adalah dinamika dirinya untuk belajar menghargai sesama. Meski ada saja yang heran karena dirinya memutuskan menjadi dokter kejiwaan, Mulya bangga bisa bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan. Apalagi kata dia, pasien gangguan kejiwaan harus didampingi dan berada dalam lingkungan yang hangat.

Jika sudah demikiam, para pasien tidak merasakan kesepian atau terasingkan. Walau memiliki gangguan jiwa, ia menegaskan tidak semua pasiennya gila. Bahkan ada pasiennya yang mengidap skizofrenia.

"Sekarang masih banyak pasien yang bisa sembuh tapi ditolak keluarga dan masyarakat, karena label gangguan jiwa. Mindset ini yang harus diedukasi, pasien pun ingin hidup dan bahagia," ungkap alumni Universitas Sriwijaya dan Universitas Indonesia ini.

Tak jarang, kasus bunuh diri sering terjadi. Awalnya bermula dari depresi dan tidak ada yang mengetahui jika korban mengidap gangguan kejiwaan. Padahal bila publik teredukasi soal kejiwaan, tentu ada rasa prihatin terhadap mereka yang dianggap 'sakit' tersebut.

4. Sedih melihat anak kecil mengidap gangguan jiwa

Cara RA Mulya Liansari Dokter RSJ Palembang Memanusiakan ManusiaSuasana di RS Ernaldi Bahar Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Selama mengobati pasien gangguan jiwa, Mulya mengaku kian sabar dan makin sering belajar memahami dan memaklumi keadaan. Apalagi rasa syukur tak pernah putus terpanjatkan kepada Allah SWT, karena ia terlahir untuk bermanfaat membantu orang lain.

"Waktu masih sekolah, pernah punya pengalaman dicaci maki pasien. Marah-marah mereka, intinya jangan pernah diambil hati," kata dia.

Namun ada hal yang membuat Mulya begitu bersedih, ketika dirinya bertemu pasien anak-anak. Ia sempat menemui pasien berusia 6 tahun yang mengalami gejala kejiwaan. Beberapa lainnya mengidap autisme, epilepsi, menerima bisikan atau disebut waham.

"Makin sering ketemu pasien, rasanya makin berempati. Apalagi kalau ketemu gelandangan yang ada gejala psikotik. Karena dari ngobrol sudah keliatan ada gesture, bahasa tubuh, dan bicara gak nyambung. Meski memang butuh observasi lanjutan, tapi kita yang belajar kejiwaan pasti langsung tahu mereka sakit," jelasnya.

Baca Juga: Hari Kartini Sebagai Ajang Introspeksi Sikap dan Moral

Topic:

  • Deryardli Tiarhendi

Berita Terkini Lainnya