Comscore Tracker

Nasib Punti Kayu dan Danau OPI, Dulu Primadona Sekarang Sepi

Punti Kayu tak mempertontonkan hewan dilindungi sejak 2015

Pohon pinus yang mengitari Taman Wisata Alam (TWA) Punti Kayu Palembang membuat suasana kian asri. Konsep eco-tourism dengan udara sejuk, dapat dinikmati para pengunjung. Bahkan TWA Punti Kayu menjadi kawasan penyumbang oksigen terbesar di Palembang.

Punti Kayu yang memiliki lahan seluas 50 hektar, ditunjuk sebagai TWA melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan nomor 76/Kpts-II/ 2001 tanggal 15 Maret 2001, dan resmi ditetapkan sebagai TWA melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 9273/Kpts-II/2002.

"Sebenarnya Hutan Punti Kayu sudah ada sejak 1999. Tetapi penepatan menjadi TWA baru tahun 2002," kata Pengelola TWA Punti Kayu, Raden Azka kepada IDN Times, Sabtbu (8/1/2021).

1. Tersisa beberapa fauna di Punti Kayu

Nasib Punti Kayu dan Danau OPI, Dulu Primadona Sekarang SepiTaman Wisata Alam Punti Kayu Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Tak hanya menyuguhkan deretan pohon Pinus, TWA Punti Kayu Palembang juga dikelilingi ragam jenis flora seperti akasia, mahoni, talog, pulai, dan lainnya. Sedangkan fauna di sana menjadi habitat dominan sekawanan kera ekor panjang yang hidup bebas berkeliaran.

Beberapa tahun silam, TWA Punti Kayu bahkan menjadi lokasi favorit warga karena sempat menampilkan sirkus dan mempertontonkan hewan dilindungi seperti gajah, harimau, orang utan, dan buaya. Namun karena tidak diizinkan menampilkan fauna dilindungi, kini hanya tersisa beberapa satwa di sana.

"Kita sudah tidak lagi memelihara hewan yang dilindungi, karena sudah ada surat edaran dari BKSDA tahun 2014. Semua hewan dilindungi sudah ditarik pada 2015. Sekarang masih ada beberapa hewan seperti kuda, biawak, musang, kura-kura brazil, kelinci, domba dan sejumlah unggas unik," ungkapnya.

Baca Juga: Menantang Adrenalin Lewat Mini Offroad, Sensasi Baru di Punti Kayu 

2. Beberapa wahana dan spot di TWA Punti Kayu Palembang tutup sementara

Nasib Punti Kayu dan Danau OPI, Dulu Primadona Sekarang SepiTaman Wisata Alam Punti Kayu Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Akibat hewan dilindungi tidak boleh dipelihara di TWA Punti Kayu, eksistensi Ruang Terbuka Hijau (RTH) terbesar di Bumi Sriwijaya ini sempat meredup. Apalagi dalam dua tahun belakangan karena pandemik COVID-19 yang melanda Tanah Air.

Mencoba mengembalikan presensi, pengelola TWA Punti Kayu tidak saja menyuguhkan kebun binatang namun jembatan gantung, perahu bebek, perahu naga, dan outbond training agar bisa memanjakan semua pengunjung.

"Tapi untuk sarana flying fox dan kolam renang sementara ditutup karena ramai virus corona ini. Tapi ada spot foto dengan replika bangunan menjadi lokasi favorit pengunjung," timpal dia.

Baca Juga: Sudah Tahu Beda Waduk, Danau, dan Bendungan? Begini Penjelasannya

3. TWA Punti Kayu Palembang beroperasi setiap hari

Nasib Punti Kayu dan Danau OPI, Dulu Primadona Sekarang SepiPengelola Taman Wisata Alam Punti Kayu Palembang, Raden Azka (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Beralamat di Jalan Kolonel Burlian km 6,5 Kecamatan Alang-Alang Lebar, TWA Punti Kayu Palembang bisa ditempuh menggunakan kendaraan umum maupun pribadi. Beberapa angkutan massal yang dapat digunakan seperti bus, LRT, atau menggunakan jasa ojek online.

Sedangkan jam operasional TWA Punti Kayu Palembang dibuka setiap Senin-Minggu mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB, dengan tiket masuk untuk satu orang sebesar Rp25 ribu. Para pengunjung sudah dapat menikmati semua wahana di dalam kawasan Punti Kayu.

"Awalnya tiket masuk Rp10 ribu dan masuk spot lain bayar lagi, tapi karena pandemi kita include semua. Saat ini kita pun masih tertib protokol kesehatan untuk menjaga kesehatan bersama. Termasuk semua pegawai sudah divaksin," jelasnya.

4. TWA Punti Kayu bakal membuat miniatur Kerajaan Sriwijaya

Nasib Punti Kayu dan Danau OPI, Dulu Primadona Sekarang SepiTaman Wisata Alam Punti Kayu Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Pengelola TWA Punti Kayu Palembang bakal menambah wahana baru seperti replika atau miniatur peninggalan Kerajaan Sriwijaya, sebagai spot edukasi sejarah bagi pengunjung yang menekankan konsep kekinian alias instagramable.

"Sebenarnya rencana ini sudah dari tahun kemarin, tapi karena pandemi semua tertunda. Apalagi kita sempat tutup berbulan-bulan karena pembatasan. Mudah-mudahan 2022 ini target selesai menyeluruh," harap Raden.

Bahkan pada 2021, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel merencanakan pengembangan fasilitas semi wild di TWA Punti Kayu yang bertujuan memberikan informasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan satwa di luar habitat.

5. Danau OPI tak lagi ramai

Nasib Punti Kayu dan Danau OPI, Dulu Primadona Sekarang SepiWisata Danau OPI Jakabaring, Palembang. (IDN Times/ Deryardli Tiarhendi)

Wisata Danau OPI di Jakabaring, Palembang, sempat menjadi primadona. Setiap sore, danau seluas 250 hektar ini dikunjungi muda-mudi atau keluarga yang ingin bersantai. Tempat ini bertambah ramai ketika akhir pekan.

Puluhan pondok yang tersebar mengitari danau, menyuguhkan jagung bakar atau kelapa muda. Beberapa warga sekitar juga menyediakan wahana Banana Boat, perahu mini, dan sepeda air yang berbentuk bebek.

Namun sejak beberapa tahun belakangan, warga sudah meninggalkan Danau OPI sebagai daftar kunjungan. Meski ada satu atau doa orang yang datang, umumnya mereka adalah warga yang tinggal tak jauh dari lokasi.

Beberapa kali kejuaran Triathlon internasional, Danau OPI sempat dijadikan spot berlomba. Para atlet dari berbagai negara sempat menjajal Danau OPI untuk meraih gelar.

Baca Juga: Termasuk Sumsel, 10 Danau Terbesar di Indonesia yang Bikin Takjub

Topic:

  • Deryardli Tiarhendi

Berita Terkini Lainnya