Palembang, IDN Times - Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan dry ice di Sumatra Selatan untuk mengurangi konsentrasi asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dilanjutkan hingga 25 Oktober 2026.
"Melalui OMC dengan dry ice, kami mencoba memengaruhi kondisi atmosfer agar lapisannya melemah dan pergerakan udara jadi lebih baik. Harapannya, konsentrasi asap di dekat permukaan dapat berkurang," ujar Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan, Thomas Nifinluri dalam siaran pers yang diterima, Sabtu (17/10/2026).
Sumsel Lanjutkan Modifikasi Cuaca Dry Ice hingga 25 Oktober 2026

Take a Deeper Read
1. Dry ice diarahkan untuk membantu melemahkan lapisan inversi atmosfer
Diketahui, mekanisme dry ice dilakukan perdana di Sumsel dan menjadi tanggung jawab Kementerian Kehutanan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Penggunaan dry ice dalam OMC diarahkan untuk memengaruhi kondisi suhu atmosfer dan membantu mengganggu kestabilan lapisan inversi.
"Dalam kondisi tertentu, asap karhutla dapat terperangkap di dekat permukaan akibat lapisan inversi," ujar Thomas.
Lebih lanjut dia menyampaikan, penggunaan dry ice diarahkan untuk membantu melemahkan lapisan inversi atmosfer yang membuat asap tertahan dan menumpuk di dekat permukaan.
Lapisan inversi terjadi ketika udara yang lebih hangat berada di atas udara yang lebih dingin di dekat permukaan sehingga menghambat pergerakan udara ke atas dan menyebabkan asap serta polutan terperangkap di lapisan bawah atmosfer.
2. Hari pertama 800 kg dry ice disemai di wilayah Palembang
Pada hari pertama operasi, satu sortie penerbangan dilakukan dengan menyemai 800 kilogram dry ice di sekitar wilayah Palembang. Memasuki hari kedua, operasi dilanjutkan dengan rencana dua sortie penerbangan yang pelaksanaannya tetap menyesuaikan kondisi cuaca dan perkembangan atmosfer.
Berdasarkan pemantauan, kondisi jarak pandang di Palembang pada pagi 17 Oktober 2026 menunjukkan perbaikan dibandingkan kondisi sebelumnya. Perbaikan jarak pandang tersebut membantu pelaksanaan operasi Satgas Udara.
Namun kata Thomas, perkembangan akan terus dipantau dan dievaluasi bersama kondisi atmosfer selama pelaksanaan OMC. "OMC dilaksanakan secara adaptif mengikuti dinamika atmosfer," ujarnya.
Apabila lapisan inversi mulai menipis dan terdapat potensi pertumbuhan awan hujan, operasi dapat dikombinasikan dengan penyemaian garam (NaCl) untuk mendukung pembentukan hujan. Penentuan bahan semai dan pelaksanaan penerbangan disesuaikan dengan kondisi atmosfer yang berkembang.
3. Penanganan karhutla dilakukan secara terpadu
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, mengatakan, penanganan karhutla harus memperhitungkan dampak yang dirasakan masyarakat
Ia menyampaikan, penanganan karhutla dilakukan secara terpadu. Satgas Darat, termasuk Manggala Agni, terus melakukan pemadaman untuk mengendalikan sumber api dan asap di lokasi kebakaran.
"Satgas Udara mendukung penanganan dari udara, sementara OMC menjadi salah satu langkah pendukung untuk merespons kondisi atmosfer dan membantu mengurangi dampak asap," kata dia.
Curated For You
- Dipa Andika Bongkar Soal Perizinan dan Produksi Operasi Pesta Copet di Pestapora04 Sep 2026, 08:59 WIB
- Sumsel Uji Coba Dry Ice Penanganan Asap Karhutla, Apa Hasilnya?17 Oct 2026, 13:36 WIB
- Mengendus Harumnya Bisnis Nilam Indonesia yang Terbang ke Luar Negeri03 Oct 2026, 10:00 WIB
- BPBD Sumsel Klaim Udara Membaik Usai Penyemaian Dry Ice Dilakukan16 Oct 2026, 18:49 WIB
- Setelah Operasi Dry Ice, Apa Dampaknya pada Kualitas Udara Palembang? 16 Oct 2026, 09:44 WIB