Sumsel Bakal Uji Coba Teknologi Dry Ice untuk Atasi Kabut Asap

Pemerintah Sumsel akan menguji teknologi dry ice untuk mengurai lapisan inversi atmosfer yang menahan asap karhutla di sekitar Palembang.
Dry ice berupa CO2 bersuhu sekitar minus 70 derajat Celsius dapat memicu hujan dari awan potensial atau membongkar lapisan inversi pada ketinggian 2.000ā3.200 meter.
Sumsel menjadi daerah percontohan usulan BMKG yang disetujui Presiden, dengan BNPB direncanakan terlibat untuk menangani asap meski titik api dan luas kebakaran menurun.
Palembang, IDN Times - Pemerintah akan menggunakan teknologi dry ice untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di beberapa titik lokasi. Teknologi ini diharapkan dapat membantu mengurai lapisan atmosfer yang membuat asap bertahan di sekitar wilayah Palembang.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, menjelaskan bahwa dry ice merupakan karbon dioksida (CO2) yang dibekukan hingga suhu sekitar minus 70 derajat Celsius. Teknologi ini digunakan untuk mengurai lapisan udara di ketinggian sekitar 6.000ā7.000 kaki yang membuat asap terjebak dan sulit menyebar.
"Lapisan inversi ini menghambat penyebaran asap. Dengan hilangnya lapisan inversi, asap bisa tersebar jauh. Dengan hilangnya lapisan inversi juga, peluang naiknya uap air membentuk awan jadi lebih maksimal," ungkap Wandayantolis, Rabu (14/10/2026).
1. Dry ice bekerja dengan membongkar lapisan inversi

Pemadaman di kawasan Muara Medak (Dok: Tim Satgas Karhutla) Wandayantolis menjelaskan, penggunaan dry ice memiliki mekanisme yang berbeda dengan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Dalam OMC, penyemaian dilakukan dengan memanfaatkan awan yang berpotensi menghasilkan hujan. Sementara itu, dry ice dapat membantu proses pembentukan hujan melalui pendinginan awan secara mendadak.
"Jika ada awan potensial, pendinginan mendadak karena dry ice menyebabkan butiran awan membeku menjadi kristal es, sehingga menjadi lebih berat dan menjadi mudah jatuh. Saat melewati lapisan lebih hangat, kristal es ini mencair menjadi hujan," jelasnya.
Teknologi dry ice direncanakan diterapkan pada ketinggian sekitar 2.000ā3.200 meter. Apabila tidak terdapat awan yang berpotensi menghasilkan hujan, teknologi ini ditujukan untuk mengurai lapisan inversi, yakni kondisi atmosfer yang membuat asap terjebak dan sulit menyebar.
"Tanpa adanya awan, dry ice lebih pada membongkar lapisan inversi agar awan tidak terperangkap di tempat tersebut," jelasnya.
2. Sumsel jadi percontohan penggunaan dry ice

Gubernur Sumsel Herman deru menemui massa Demonstrasi mahasiswa di Palembang menuntut keseriusan pemerintah dalam penanganan karhutla (IDN Times/Rangga Erfizal) Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan, provinsi ini akan menjadi lokasi percontohan penerapan teknologi dry ice untuk membantu menangani kabut asap. Usulan tersebut disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan telah memperoleh persetujuan Presiden.
Pelaksanaannya direncanakan melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Teknologi tersebut menjadi alternatif penanganan asap yang masih bertahan di atmosfer, meskipun kebakaran di sejumlah lokasi mulai berkurang.
"Penerapan teknologi dry ice menjadi salah satu upaya yang disiapkan untuk mengatasi persoalan asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah, meskipun luas kebakaran dan jumlah titik api di lapangan menunjukkan penurunan," kata Herman Deru.
3. Penanganan asap berbeda dengan pemadaman karhutla

Kondisi kabut asap yang melanda kota Palembang menutup ikon kota Jembatan Ampera (IDN Times/Rangga Erfizal) Herman Deru menilai, penanganan karhutla di Sumsel tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman api. Pemerintah juga perlu mencari solusi untuk mengatasi asap yang masih tertahan di atmosfer setelah kebakaran berhasil dikendalikan.
Kondisi ini membuat masyarakat tetap merasakan dampak kabut asap meskipun aktivitas pemadaman menunjukkan hasil. Karena itu, upaya mengendalikan sumber api dan mengurangi konsentrasi asap perlu dilakukan dengan pendekatan berbeda.
āKadang-kadang, meskipun hotspot dan titik api di lapangan sudah berkurang, sisa asap ini masih terperangkap. Jadi, persoalan asap harus kita bedakan dengan persoalan apinya sendiri,ā jelas Herman Deru.





















