Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Momen Menko Polkam Dudung Hirup Kabut Asap Palembang: Masih Tebal

Kota Palembang
2 min read
Momen Menko Polkam Dudung Hirup Kabut Asap Palembang: Masih Tebal
Menkopolkam Dudung Abdurachman saat rapat koordinasi di Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)
  • Kabut asap akibat karhutla menyelimuti Palembang pada 15 Oktober 2026, mengganggu jarak pandang; Dudung Abdurachman menyaksikan langsung kondisi tebal saat meninjau posko Sematang Borang.

  • Asap di Palembang dilaporkan sebagian berasal dari OKI dan Banyuasin, dengan mayoritas karhutla terjadi di OKI. Dudung meminta pelaku pembakaran dan pihak lalai diproses tegas.

  • Konsentrasi PM2.5 Palembang berada pada kategori berbahaya, mencapai puncak 875,3 mikrogram per meter kubik pukul 08.00 WIB, meski kemudian turun menjadi 578,4 pada pukul 09.00 WIB.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Kabut asap kembali menyelimuti Kota Palembang, Kamis (15/10/2026). Kondisi tersebut menyertai memburuknya kualitas udara, dengan konsentrasi partikulat halus PM2.5 yang sempat menembus angka mendekati seribu dan masuk kategori berbahaya.

Menko Polkam Dudung Abdurachman yang melakukan kegiatan di Palembang mengaku mendapati kondisi asap akibat karhutla yang buruk hari ini. Dirinya menilai asap hari ini cukup tebal hingga menghalangi jarak pandang.

"Saya meninjau langsung posko di Sematang Borang dan kita lihat juga tadi pagi, kita masih merasakan bagaimana kabut asap yang masih cukup tebal." ungkap Dudung, Kamis (15/10/2026).

  1. 1. Asap terbawa angin ke Palembang

    Menkopolkam Dudung Abdurachman saat rapat koordinasi di Palembang
    Menkopolkam Dudung Abdurachman saat rapat koordinasi di Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)

    Dalam kegiatan itu, Dudung menyebut dirinya mendapat laporan mengenai kondisi asap yang melanda kota Palembang pagi ini. Sebagian asap diketahui berasal dari Ogan Komering Ilir (OKI) dan Banyuasin.

    "Berdasarkan laporan Danrem, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mayoritas terjadi di wilayah OKI," jelasnya.

  2. 2. Minta perusahaan dan masyarakat ditindak tegas

    Menkopolkam Dudung Abdurachman saat rapat koordinasi di Palembang
    Menkopolkam Dudung Abdurachman saat rapat koordinasi di Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)

    Dudung menyebut, proses penanganan hukum tidak boleh tebang pilih. Seluruh pihak yang lalai, ataupun melakukan kesengajaan membakar hutan harus diproses karena menimbulkan kerugian dan dampak buruk bagi masyarakat dan negara.

    "Begitu juga masyarakat yang dengan sengaja melakukan pembakaran harus mendapat penindakan tegas. Jika dibiarkan, kebakaran akan semakin meluas," ujar Dudung.

    Selain itu Dudung meminta aparat menindak tegas perusahaan yang terbukti sengaja membakar lahan atau lalai dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumsel. Dirinya meminta Pangdam II Sriwijaya dan Kapolda Sumsel tidak ragu memproses secara hukum perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran terkait karhutla.

    "Bagi Kapolda dan Pangdam, perusahaan-perusahaan yang sudah disegel harus ditindak tegas," ungkap Dudung.

  3. 3. Kondisi udara Palembang berada dalam kondisi berbahaya

    Menkopolkam Dudung Abdurachman saat rapat koordinasi di Palembang
    Menkopolkam Dudung Abdurachman saat rapat koordinasi di Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)

    Berdasarkan data BMKG, konsentrasi PM2.5 di Palembang pada pukul 06.00 WIB tercatat sebesar 805,6 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut sempat turun menjadi 560,1 mikrogram per meter kubik pada pukul 07.00 WIB, sebelum kembali meningkat hingga 875,3 mikrogram per meter kubik pada pukul 08.00 WIB.

    Memasuki pukul 09.00 WIB, konsentrasi PM2.5 tercatat turun menjadi 578,4 mikrogram per meter kubik. Meski mengalami penurunan dibandingkan satu jam sebelumnya, angka tersebut masih menunjukkan tingginya konsentrasi partikulat halus di udara Palembang.

    PM2.5 merupakan partikel polutan berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru. Tingginya konsentrasi partikel ini menjadi perhatian di tengah kabut asap yang menyelimuti ibu kota Sumatra Selatan tersebut.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More