Situasi di salah satu hotel Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
Nando sudah dari tahun 2000 bergelut di sektor perhotelan. Katanya, banyak lika-liku sepanjang ia berkarir. Termasuk mengalami tantangan industri, seperti saat kondisi karhutla hingga menyebabkan kabut asap.
"Ini (kabut asap) terparah selama saya (kerja) di hotel. Ada dampaknya (karhutla terhadap sektor perhotelan) termasuk okupansi (tingkat keterisian)," katanya membuka obrolan.
Dia bercerita, dampak asap dan karhutla memengaruhi tren pra-reservasi. Khususnya di pemesanan someday pick up (istilah pemesanan tamu di waktu tertentu).
"Sangat berdampak, sangat berdampak dari tren pra-reservasi tentunya. Kita ada namanya trennya di someday pick up. Biasanya kita bisa mengoptimalkan di 40-45 persen di hari yang sama. Namun, dikarenakan kabut asap, khususnya dari akhir September hingga di bulan Oktober ini, kita hanya bisa mendapatkan dari sisi trennya 20-25 persen, sangat berdampak di bisnis perhotelan, terutama di Batiqa Hotel Palembang," jelasnya.
Lebih lanjut ia menyampaikan, strategi hotel untuk meningkatkan kunjungan tamu dengan cara menawarkan berbagai promo menarik.
"Strategi dari sisi kita sendiri, bagaimana untuk meningkatkan kunjungan dan juga pendapatan. Strategi sudah kita rancang, dalah satunya promotion yang kita lakukan yang kita jalankan di sosial media saat ini adalah promo di Sunday dan Monday Deals," kata Nando.
Dia menyampaikan, tamu hotel tak saja mendapatkan fasilitas room only. Tetapi juga menerima benefit lain seperti layanan breakfast dengan tambahan signature drink kopi khas Batiqa.
"Kita memberlakukan promosi tersebut. Harapannya yang kita alami sebagai masyarakat Palembang, kasus karhutla semoga bisa teratasi dengan baik sehingga perekonomian bisa optimal lagi di sisi bisnis dan kita bisa back to normal sama-sama menghirup udara segar," katanya.