Aksi Teatrikal tanam sawit dan makan MBG tetap berlanjut di tengah kabut asap (IDN Times/Rangga Erfizal)
Kritik mahasiswa tidak hanya disampaikan melalui orasi. Dalam aksi tersebut, mereka juga menampilkan sejumlah pertunjukan teatrikal untuk menggambarkan persoalan yang terjadi di tengah kabut asap Sumsel.
Salah satu teatrikal menampilkan anak sekolah yang tetap masuk sekolah di tengah kondisi udara yang dinilai mahasiswa belum aman. Mereka mengkritik kebijakan pemerintah yang masih memberlakukan aktivitas sekolah saat kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah.
Mahasiswa menduga kebijakan tersebut tidak terlepas dari pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tetap berjalan. Mereka mempertanyakan kebijakan yang menurut mereka tetap memaksakan aktivitas anak-anak di sekolah ketika kualitas udara sedang buruk.
"Banyak anak-anak yang ingin mendapatkan ilmu dan belajar dengan nyaman. Namun, sejak September sampai sekarang, banyak sekali kebakaran yang menyebabkan tingginya polusi di Sumsel," ujarnya.
Teatrikal lainnya menggambarkan seseorang yang membakar lahan. Setelah lahan terbakar, area tersebut kemudian digambarkan digunakan untuk menanam kelapa sawit. Melalui adegan tersebut, mahasiswa mengkritik praktik pembukaan lahan dengan cara membakar yang menurut mereka masih terjadi.
Mereka menilai penanaman sawit di lahan bekas kebakaran menjadi persoalan yang perlu diawasi oleh pemerintah, terutama ketika pembukaan lahan dilakukan dengan cara membakar.
Mahasiswa meminta pemerintah tidak hanya fokus memadamkan api ketika karhutla sudah terjadi. Mereka juga mendesak adanya pengawasan dan penindakan terhadap aktivitas pembukaan lahan yang berpotensi memicu kebakaran.
"Kebakaran bisa terjadi karena faktor alam, kelalaian, kebodohan, dan keempat, karena ketidaktahuan. Semua faktor tersebut harus menjadi bahan evaluasi agar kejadian yang sama tidak terus berulang," katanya.