Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Hotspot Sumsel Melesat Naik 1.210 Titik, Sehari Terjadi 76 Karhutla
Kondisi hotspot Sumsel pada Kamis (15/10/2026). (Dok. SiPongi)

  • BPBD Sumsel mencatat 1.210 hotspot pada 15 Oktober 2026, naik dari 891 titik sehari sebelumnya; total sejak Januari hingga 13 Oktober mencapai 98.332 titik.
  • Dalam 24 jam terakhir terjadi 76 karhutla, terutama di OKI dan Muba. Banyak titik panas berada di lahan gambut, sementara pemadaman udara terkendala jarak pandang rendah.
  • Kabut asap membuat kualitas udara Palembang, PALI, dan Prabumulih berstatus berbahaya. OMC belum dilakukan karena tidak ada awan potensial, meski satgas terus menangani karhutla.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    BPBD Sumsel mendeteksi 1.210 titik panas dalam 24 jam dan mencatat 76 kejadian karhutla. Asap tebal turut menyebabkan kualitas udara berbahaya di Palembang, PALI, dan Prabumulih.
  • Who?
    BPBD Provinsi Sumsel, satgas gabungan, Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman, serta masyarakat di wilayah terdampak kabut asap terlibat dalam situasi ini.
  • Where?
    Titik kebakaran terbanyak berada di Ogan Komering Ilir dan Musi Banyuasin. Dampak kualitas udara tercatat di Palembang, PALI, Prabumulih, Ogan Ilir, dan Musi Rawas.
  • When?
    Data 1.210 hotspot tercatat pada Kamis, 15 Oktober 2026 pukul 05.00 WIB. BPBD mencatat 76 karhutla dalam 24 jam terakhir.
  • Why?
    Sebagian besar titik panas terdeteksi di lahan gambut. Operasi modifikasi cuaca pada 14 September belum dilakukan karena tidak ada awan yang potensial.
  • How?
    BPBD dan satgas gabungan memperkuat penanganan lapangan. Pemadaman udara dengan helikopter water bombing di OKI belum optimal akibat jarak pandang rendah, sementara pemadaman darat terkendala lokasi gambut yang jauh.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Palembang, IDN Times - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumsel melaporkan jumlah hotspot atau titik panas di angka 1.210 titik berdasarkan data Sipongi pada Kamis (15/10/2026) pukul 05.00 WIB. Catatan tersebut melesat naik dari sehari sebelumnya yang sempat menyentuh angka 891 titik.

Secara kumulatif, jumlah hotspot Sumsel sejak 1 Januari hingga 13 Oktober berada di angka 98.332 titik. Jumlah tersebut melampaui catatan tertinggi sepanjang 2026, bahkan sejak tahun 2015.

Tingginya angka hotspot ini bersama dengan banyaknya kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dalam 24 jam terakhir, BPBD mencatat total 76 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumsel dengan titik firespot terbanyak berada di Ogan Komering Ilir (OKI) dan Musi Banyuasin (Muba).

1. Kualitas udara Palembang, PALI dan Prabumulih di level berbahaya

Kondisi Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) Sumsel pada Kamis (15/10/2026). (Dok. DLHP Sumsel)

Akibatnya, kondisi kualitas udara di tiga wilayah tercatat pada level berbahaya karena nilai ISPU PM2.5 di atas angka 300. Ketiga wilayah tersebut, yakni Kota Palembang, memiliki konsentrasi PM2.5 mencapai 553 µg/m³. Kemudian, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) mencatat konsentrasi polutan PM2.5 mencapai 524 µg/m³. Lalu, posisi ketiga ditempati oleh Prabumulih dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 265 µg/m³.

Asap tebal menyelimuti hampir seluruh wilayah Sumsel, terutama ketiga wilayah tersebut. Sementara dua wilayah lainnya berada di zona merah atau kategori sangat tidak sehat. Keduanya, yakni Ogan Ilir dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 210 µg/m³ dan Musi Rawas dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 242 µg/m³.

2. Terdeteksi 1.210 titik hotspot dalam 24 jam terakhir

Petugas BPBD saat berjibaku memadamkan api di wilayah Talang Jambe. (Dok. BPBD Sumsel)

Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan kondisi karhutla di Sumsel masih menjadi perhatian bersama. Berdasarkan pemantauan terbaru, terdeteksi 1.210 titik hotspot dalam 24 jam terakhir, dengan beberapa wilayah mengalami peningkatan aktivitas kebakaran dan dampak asap.

"Tingginya jumlah hotspot tersebut menjadi perhatian, terutama karena sebagian besar titik panas terdeteksi di wilayah lahan gambut," ujarnya.

Selain itu, penanganan intensif di Kabupaten OKI dilakukan karena saat ini lokasi terbakar merupakan lahan gambut yang jauh dari jangkauan tim darat.

"Pelaksanaan pemadaman udara menggunakan helikopter water bombing belum optimal dikarenakan jarak pandang yang rendah," ungkapnya.

3. OMC belum dilaksanakan karena tidak ada awan yang potensial

Tim satgas udara melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan menyemai NaCl dari pesawat. (Dok. BPBD Sumsel)

Pihaknya juga belum melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) pada 14 September karena tidak ada awan yang potensial. Sebelumnya, OMC dilaksanakan di lima wilayah dengan 5 sortie. Lokasi penyemaian NaCl ini difokuskan pada beberapa wilayah seperti:

  1. Taman Nasional Sembilang, Banyuasin seluas 7 hektare

  2. Lalan, Muba seluas 3 hektare

  3. Talang Kelapa, Banyuasin seluas 4 hektare

  4. Gelumbang, Muara Enim seluar 5 hektare

  5. Tulung Selapan, OKI seluas 4 hektare

"BPBD Sumsel bersama seluruh unsur satgas gabungan terus memperkuat upaya penanganan di lapangan. Kami juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap karhutla," ucap Sudirman.

Curated For You

Editorial Team

Related Article