Harga Emas Palembang Masih Turun, Minat Warga untuk Jual Lebih Tinggi

Harga emas perhiasan di Palembang turun menjadi sekitar Rp13,6 juta per suku atau 6,7 gram, sementara emas batangan berada di Rp2,5 juta per gram.
Meski harga melandai, warga lebih banyak menjual emas daripada membeli karena memprioritaskan kebutuhan harian di tengah kenaikan harga pangan, sembako, dan BBM.
Penjualan emas disebut turun hingga 20 persen akibat ekonomi masyarakat yang sulit, sementara permintaan stagnan dan pasokan meningkat karena aksi ambil untung investor.
Palembang, IDN Times - Harga emas di Palembang pada akhir pekan tanggal 4 Oktober 2026 masih terpantau turun. Harga emas kini berada pada kisaran Rp13,6 juta per suku setara 6,7 gram untuk perhiasan. Sedangkan harga emas batangan di angka Rp2,5 juta per gram. Nilai itu, jika dibandingkan dengan awal tahun, terbilang paling rendah.
Walau harga emas saat ini masuk kategori melandai dan terus bergerak dengan tanda panah ke bawah, permintaan di pasar justru turut menurun dan tidak mengalami animo pembelian yang tinggi. Hal itu disebabkan oleh keadaan ekonomi masyarakat yang kurang baik.
"Memang turun, tetapi banyak masyarakat yang memilih untuk menjual emas ketimbang membeli," ujar Delta, salah satu pemilik toko emas di Kawasan Perumnas Palembang.
1. Harga pangan yang tidak terkendali sebabkan minat beli emas turun

Toko emas Makmur Jaya Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin) Dia menyampaikan, fenomena harga emas turun diikuti minat pembelian yang juga melandai dikarenakan warga sekitar lebih memilih memenuhi kebutuhan harian dibandingkan membeli emas untuk investasi.
"Karena kalau dulu kan emas turun, masyarakat ramai yang beli untuk investasi, tetapi sekarang mereka jual meskipun harganya turun. Ini pengaruh juga harga pangan yang tidak terkendali," kata dia.
2. Kondisi ekonomi masyarakat dalam kondisi sulit

Toko emas di Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin) Secara pendapatan rata-rata, akibat kondisi ekonomi yang tidak stabil dan keuangan masyarakat yang berada dalam keadaan minimum, kini nilai jual turun hingga 20 persen. Padahal katanya, bila ekonomi normal, saat harga emas turun, penjualan seharusnya meningkat.
"Kalau penjualan makin turun, mungkin karena kondisi ekonomi yang sekarang ini lagi susah, kebutuhan banyak, tapi pemasukan tidak bertambah. Sehingga mereka terpaksa menjual emas, karena seperti kita ketahui, sekarang harga sembako dan BBM semakin naik,” jelasnya.
3. Kondisi permintaan pasar cenderung stagnan

Toko emas Makmur Jaya Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin) Sementara itu, kata Awi, pemilik toko perhiasan di Kawasan Sako, Palembang, harga perhiasan cenderung landai karena kondisi profit taking. Yakni, investor menjual emas dalam jumlah banyak setelah harga naik tinggi dan penjualan besar-besaran membuat pasokan naik dan menekan harga.
"Kondisi permintaan pasar cenderung stagnan," jelasnya.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















