- 29 September, jumlah hotspot tercatat sebanyak 2.643
- 30 September, jumlah hotspot 2.589
- 1 Oktober, jumlah hotspot 2.758
- 2 Oktober, jumlah hotspot 2.521
- 3 Oktober, jumlah hotspot 1.821
- 4 Oktober, jumlah hotspot 2.197
- 5 Oktober, jumlah hotspot 2.512
Efek Karhutla, Standar Pencemaran Udara Palembang Masih di Kategori Bahaya

Palembang mencatat kualitas udara paling buruk pada Selasa pagi, dengan PM2,5 sebesar 548 dan PM10 1.142, sehingga menjadi satu-satunya wilayah Sumsel berstatus berbahaya.
PALI dan Prabumulih masuk kategori sangat tidak sehat, sementara Ogan Ilir, Musi Banyuasin, dan Musi Rawas berada pada kategori tidak sehat berdasarkan data ISPU pukul 06.00 WIB.
Pada 5 Oktober, Sumsel mencatat 2.512 hotspot dan 53 kejadian karhutla; penanganan difokuskan pada enam wilayah, dengan total 85 kejadian menjadi prioritas.
Palembang, IDN Times - Kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatra Selatan (Sumsel) berada dalam kondisi buruk pada Selasa (6/10/2026) pagi. Berdasarkan laporan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) pukul 06.00 WIB, satu wilayah masuk kategori berbahaya, dua sangat tidak sehat, dan tiga lainnya tidak sehat.
Palembang menjadi wilayah dengan kondisi udara terburuk. Konsentrasi PM2,5 mencapai 548, jauh melewati ambang kategori berbahaya yang berada di atas 300.
Berikut kondisi ISPU dan perkembangan karhutla di Sumsel yang dirangkum IDN Times dari data Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Sumsel serta data hotspot dan kejadian karhutla.
1. Palembang masuk kategori berbahaya

Kondisi kabut asap di kota Palembang yang tiba-tiba gelap ditutupi polusi kebakaran hutan dan lahan (IDN Times/Rangga Erfizal) Palembang menjadi satu-satunya wilayah yang masuk kategori berbahaya pada Selasa pagi. PM2,5 tercatat mencapai 548, sedangkan PM10 berada di angka 1.142. Angka tersebut menunjukkan tingginya konsentrasi partikel pencemar di udara Palembang. Kondisi ini bahkan berada jauh di atas batas kategori berbahaya.
Selain Palembang, dua wilayah lain berada dalam kategori sangat tidak sehat, yakni PALI dan Prabumulih. PALI mencatat PM2,5 sebesar 292 dengan PM10 183. Sementara Prabumulih memiliki PM2,5 211 dan PM10 128. Kedua wilayah tersebut menjadi daerah dengan kualitas udara terburuk setelah Palembang.
Kondisi udara tidak sehat juga terpantau di Ogan Ilir, Musi Banyuasin dan Musi Rawas. Musi Rawas mencatat PM2,5 sebesar 176, kemudian Ogan Ilir 167 dan Musi Banyuasin 157.
2. Kondisi titik panas, kejadian, dan wilayah yang jadi prioritas

Kabut asap yang menyelimuti kota Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal) Perkembangan titik panas atau hotspot di Sumsel masih cukup tinggi dalam sepekan terakhir. Pada 5 Oktober 2026 tercatat sebanyak 2.512 hotspot. Angka ini turun dibandingkan 1 Oktober yang mencapai 2.758 titik.
Beikut jumlah hotspot mulai 29 September -5 Oktober 2026:
Di sisi lain, jumlah kejadian karhutla dalam tujuh hari terakhir menunjukkan tren menurun meski masih terjadi puluhan kasus setiap hari. Pada 1 Oktober, tercatat 76 kejadian menjadi angka tertinggi. Kemudian turun menjadi 70 pada 2 Oktober, 68 pada 3 Oktober, 58 pada 4 Oktober dan 53 kejadian pada 5 Oktober. Sebelumnya, tercatat 69 kejadian pada 29 September dan 70 kejadian pada 30 September.
Data ini menunjukkan meski jumlah kejadian harian mulai menurun, sejumlah wilayah masih membutuhkan penanganan karena kebakaran dan titik panas masih ditemukan dalam jumlah cukup tinggi.
Saat ini penanganan karhutla difokuskan di OKI, Muara Enim, Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Ilir dan Palembang. Total terdapat 85 kejadian yang menjadi fokus penanganan di enam wilayah tersebut.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















