Comscore Tracker

Program KUR Bank Sumsel Babel Syariah Bantu UMKM Naik Kelas

Kisah sukses pelaku usaha di Palembang manfaatkan KUR

Palembang, IDN Times - Tiada usaha yang mengkhianati hasil dan tak ada pekerjaan tanpa rasa lelah. Begitu kata Ulin, seorang pengrajin asal Palembang. Sejak lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jawa Timur, dirinya merantau ke Bumi Sriwijaya dan memulai bisnis.

Butuh waktu tahunan hingga dirinya memiliki gudang sederhana di Jalan Residen Abdul Rozak, Lorong Pagar Gunung. Ia memulai Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sebagai pengrajin aksesori khas Kota Pempek. Ulin mengawali perjalanan usaha dengan bantuan Kredit Usaha Rakyat dari Bank Sumsel Babel (KUR BSB).

"Hasil karya tahun 2015 berupa gantungan kunci berbentuk buah-buahan. Selanjutnya, dari hanya minta (bahan mentah), akhirnya saya beli kayu-kayu dari depot pintu yang berasal dari pohon durian untuk buat miniatur. Pertamanya gantungan kunci itu saya jual di toko-toko, ternyata laku dan mulai melihat pasar," kata dia kepada IDN Times, Kamis (24/6/2021).

1. Pengrajin di Palembang berhasil jadi motivator berkat program KUR

Program KUR Bank Sumsel Babel Syariah Bantu UMKM Naik KelasUlinnuha Pengrajin kayu miniatur Jembatan Ampera Mellin Gallery Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Ulin mempunyai gudang kerajinan pembuatan aksesori berupa miniatur Jembatan Ampera. Kini, hasil karyanya sudah dikenal hingga Pulau Jawa, Kepulauan Bangka Belitung, dan daerah paling jauh di wilayah Timur seperti Sulawesi dan Kepulauan Nusa Tenggara.

"Awalnya bingung punya keahlian tapi tidak ada modal. Saya ditawari untuk mengembangkan usaha dengan meminjam kredit di perbankan. Cuma karena takut bunga besar, saya sempat tak berminat," kata dia.

Karena sering berkonsultasi dengan beberapa anggota asosiasi UMKM di Palembang, Ulin yakin dan akhirnya meminjam kredit perbankan. Ia mengajukan peminjaman di perbankan daerah. Selain perbankan daerah lebih mudah dalam persyaratan, keputusan mengambil kredit di BSB karena usulan sang rekan.

"Ada teman yang ambil KUR di BSB. Lihat perkembangan bisnis dia berjalan, saya ikut dan banyak tanya sekalian pengajuan KUR juga. Awalnya disuruh buat rekening, saya pilih yang syariah karena akad dan bunga lebih rendah. Saya ajukan Rp8 juta modal pertama," ungkapnya.

Usaha yang Ulin jalankan perlahan berkembang. Bahkan berkat bantuan KUR dari BSB, dirinya kini rutin memberi pelatihan bagi UMKM lain yang ingin memulai bisnis dengan modal perbankan.

"Kadang diundang untuk memotivasi teman-teman yang baru mau mulai usaha," timpal dia.

Baca Juga: Bank Sumsel Babel Target Penyaluran KUR Rp150 Miliar Hingga April

2. KUR Syariah di BSB bantu pengembangan usaha kuliner di Palembang

Program KUR Bank Sumsel Babel Syariah Bantu UMKM Naik KelasKisah Nenek Bersaudara di 13 Ulu, Lestarikan Kue Bingen Khas Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Tidak saja Ulin, pelaku usaha lain yang juga memanfaatkan program KUR BSB syariah adalah warga di Kampung Pandai 13 Ulu Palembang. Mayoritas masyarakat di kampung tersebut berdagang kuliner dan memanfaatkan program kredit untuk usaha.

Tenar dengan sebutan Kampung Pandai 13 Ulu, sebenarnya tempat itu adalah lokasi pelestari kue bingen atau kue tempo dulu. Berada di Lorong Waspada dan Jalan KH Azhari Kecamatan Seberang Ulu II, kebanyakan penjual kue bingen ini merupakan sepuh yang masih memiliki garis keturunan keluarga.

"Ada nenek-nenek yang buat kue bingen dari resep keluarga turun menurun dan melestarikannya. Uniknya, bagi yang mau beli harus langsung ke lokasi untuk jalin silaturahmi, ada dua rumah yang jual kue bingen ini," ujar inisiator Kampung Pandai 13 Ulu, Najma.

Kampung Pandai bisa dikatakan sebagai simbol budaya di Palembang karena melestarikan makanan asli Bumi Sriwijaya. Perbankan turut mendukung pengembangan Kampung Pandai 13 ulu dengan program Corporate Social Responsibility (CSR).

"Karena minat pengajuan KUR warga di sini lumayan, pihak BSB pernah berkunjung dan melihat lokasi serta potensi pengembangan usaha. Menurut mereka di sini bisa jadi wisata kuliner, sehingga BSB juga mendanai fasilitas kampung di sini. Salah satunya pintu gerbang dan dukungan peralatan masak," tambah dia.

3. Bank Sumsel Babel salurkan total KUR senilai Rp550 miliar

Program KUR Bank Sumsel Babel Syariah Bantu UMKM Naik KelasDirektur Utama BSB Achmad Syamsudin (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Berdasarkan data yang diterima IDN Times, program KUR di BSB tahun 2021 mencapai Rp550 miliar dengan kenaikan penyaluran bagi nasabah dari tahun sebelumnya senilai Rp350 miliar pada 2021. Jumlah itu merupakan penyaluran KUR dari BSB syariah dan BSB konvensional.

"Dengan persentase 30 persen dari Rp550 miliar adalah KUR syariah, dan sisanya konvensional dengan penyaluran KUR menyeluruh masih proses on target dengan serapan sementara Rp300 miliar, dan Rp50 miliar terserap oleh nasabah untuk KUR syariah," ujar Direktur Utama BSB, Achmad Syamsudin.

Ia mengatakan, pihaknya turut mendukung pengembangan UMKM di Palembang dengan mendorong penjualan produk ke luar negeri. Sejauh ini, BSB telah berkoordinasi bersama Pemerintah Kota (Pemkot) untuk ekspor kuliner daerah ke Australia.

"Pembinaan UMKM kuliner kita harus tumbuh berjangka panjang dan berkelanjutan. Berdasarkan seleksi sementara, produk paling potensial adalah kerupuk dan kemplang," timpal dia.

Kendati penyaluran KUR syariah masih minim dibandingkan pertumbuhan perbankan konvensional, Syamsudin menyebut, angka penyerapan pengajuan kredit nasabah masih stabil dan tidak ada penurunan yang signifikan.

"Antara konvensional dan syariah hanya soal minat dan penguatan sosialisasi. Terkait masalah atau hambatan penyaluran, saat ini tidak ada kendala besar. Hanya saat pengajuan untuk pendataan memang terkadang cukup lama karena proses screening," jelas dia.

Ia melanjutkan, data penyaluran KUR pada April 2021 terserap Rp150 miliar dari total pencapaian selama 2021 senilai Rp550 miliar. Pihaknya pun terus mengejar penyaluran untuk memenuhi kebutuhan UMKM, termasuk memperbesar jaringan syariah.

4. Market share pertumbuhan ekonomi syariah di Sumsel masih minim peminat ketimbang perbankan konvensional

Program KUR Bank Sumsel Babel Syariah Bantu UMKM Naik KelasIlustrasi ekonomi syariah. (forshei.org)

Menurut ekonom di Sumatra Selatan (Sumsel), Sri Rahayu sekaligus dosen ekonomi di Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP), ada beberapa hal yang membuat ekonomi syariah lebih minim peminat ketimbang pertumbuhan ekonomi perbankan konvensional.

Yakni pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia memiliki market share yang lebih rendah dibandingkan perbankan konvensional. Secara nasional, market share syariah masih di angka 9,96 persen dari total produk keuangan yang ditawarkan kepada masyarakat.

"Artinya masyarakat belum sepenuhnya memilih keuangan syariah," kata dia.

Kemudian perihal penyaluran kredit kepada UMKM berbasis syariah, fakta di lapangan menyebutkan proses pemberian kredit mempunyai kebijakan agunan berbeda dengan sistem konvensional. Meski penyaluran dana kredit syariah non agunan, tetapi bukan berarti perbankan bisa melepas uang begitu saja kepada masyarakat.

"Tetap ada jaminan-jaminan tertentu yang tidak dinilai oleh bank atau lembaga keuangan konvensional. No collateral bukan berarti no guarantee," timpalnya.

Selain itu, keterbatasan kualitas SDM yang mumpuni turut memengaruhi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Tanah Air. Ditambah faktor competitiveness atau daya saing produk dan layanan keuangan syariah yang masih rendah.

"Hal ini diakibatkan dari akses produk yang terbatas, harga produk yang kurang kompetitif, maupun kualitas yang lebih rendah," ungkap dia.

Terakhir, keuangan syariah masih minim karena literasi keuangan syariah yang masih rendah dibandingkan konvensional. Secara angka nasional, pertumbuhan ekonomi syariah baru mencapai 8,93 persen.

"Karena masyarakat syariah kebanyakan di daerah yang aksesnya pun secara fisik sulit," tandasnya.

Baca Juga: Pondasi Belum Maksimal, Faktor Ekonomi Syariah di Sumsel Rendah

Topic:

  • Deryardli Tiarhendi

Berita Terkini Lainnya