Comscore Tracker

Menilik Eksistensi Jumputan di Palembang, Kain Motif Hasil Pencelupan

Motif titik tujuh jadi salah satu unggulan

Palembang, IDN Times - Kain jumputan tentu tak asing bagi masyarakat Sumatra Selatan (Sumsel), terutama di Palembang. Berbahan lembut serta memiliki ragam motif yang estetik dan cantik, jumputan tak kalah elegan dengan macam kain khas Sumsel lain, seperti songket, tajung, blongsong, prada dan batik jupri.

Proses pembuatan kain jumputan terbilang unik. Jumputan merupakan kerajinan tangan yang dibuat dengan cara menjumput (pungut dengan jari) bagian-bagian tertentu pada kain, kemudian menghasilkan motif sesuai pola yang digambar dari proses pencelupan pewarna alami maupun pewarna tekstil dari ikatan erat kain yang diikat.

Seiring perjalanan, kain jumputan kian tenar hingga mancanegara. Terbukti, eksistensi warisan budaya asal Sumsel itu, memecahkan rekor Muri dalam Event South Sumatra Millennial Road Safety Festival Maret 2019 dengan kategori kain terpanjang sedunia berukuran 1.117 meter yang saat itu dibentangkan di kawasan Pasar 16 Ilir dan Jembatan Ampera Palembang.

"Masuk kategori kain jumputan terpanjang di Dunia yang dikerjakan oleh 30-40 pengrajin. Mereka bekerja selama 24 jam penuh selama 10 hari," ujar Budayawan Sumsel, Vebri Al Lintani, kepada IDN Times, Minggu (4/10/2020).

Baca Juga: Kenalkan Kain Khas Palembang, Berinovasi Lewat Masker Motif Jumputan

1. Jumputan merupakan kain bermotif yang dibentuk menjelujur

Menilik Eksistensi Jumputan di Palembang, Kain Motif Hasil PencelupanIlustrasi kain jumputan khas Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Semula, kain jumputan dihasilkan dari bahan sutra, namun seiring perkembangan, jenis kain blaco, mori prima dan primissima bisa menjadi bahan utama pembuatan jumputan.

Syarat pembuatan kain jumputan harus mempunyai bahan sangat halus, lembut, dingin dan merupakan kain dengan warna dasar putih.

Berdasarkan makna, kain jumputan dihasilkan dari proses menjumput. Jumputan adalah motif kain tenun dengan ragam bentuk yang dibuat mengikuti penutupan bagian atau pola hias tertentu.

Secara harfiah, jumputan merupakan kain bahan polos putih yang digambar kemudian diikat dan dicelup pewarna sesuai yang diinginkan.

"Pengerjaan kain jumputan biasanya, dibuat dengan cara membuat jelujur pada benang kain sesuai pola yang kemudian dimasukkan larutan pewarna. Lebih baik pewarna alami karena lebih aman untuk kulit," kata Vebri.

2. Motif titik tujuh menjadi salah satu unggulan di kain jumputan

Menilik Eksistensi Jumputan di Palembang, Kain Motif Hasil PencelupanIlustrasi kain jumputan khas Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Secara teknik, kain jumputan dibentuk menggunakan sistem tie and dye, sritch and dye, rincek dan tritik. Teknik tersebut adalah membentuk, mengikat dan mencelup. Berdasarkan sejarah, pembuatan kain jumputan dengan proses pengikatan dan pencelupan pertama kali muncul di negara Tiongkok.

Kemudian karena perdagangan antar negara, teknik menjumput menyebar ke beberapa negara ASEAN, termasuk Indonesia karena adanya misi dagang yang dilakukan oleh saudagar-saudagar kaya, salah satunya berasal dari India.

Namun kisah lainnya, konon teknik jumputan berasal dari kebudayaan Bandhu yang kemudian berkembang hingga ke Mesir.

Sedangkan penyebutan teknik pembuatan kain jumputan di setiap wilayah berbeda-beda. Palembang, kain jumputan dinamai dengan kain pelangi karena motifnya yang bermacam dan indah. Sementara di Banjarmasin, kain ini dikenal dengan nama sasirangan dan masyarakat Jawa menyebut dengan istilah tritik.

"Banyak motif, ciri khas jumputan Palembang bentuk titik tujuh. Jadi, disebut jumputan titik tujuh itu ada motif berupa titik-titik kecil yang mengelilingi satu titik yang besar dan semuanya berada dalam satu lingkaran," terangnya. 

3. Kawasan pasar 16 Ilir jadi sentral penjualan jumputan di Palembang

Menilik Eksistensi Jumputan di Palembang, Kain Motif Hasil PencelupanIlustrasi kain jumputan Palembang berbahan pewarna alami dari tumbuhan (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Umumnya, teknik pembuatan kain jumputan di Palembang, jelas Vebri, lebih menerapkan metode strich and dye, yaitu membuat jelujur dengan benang pada bidang kain dengan mengikat pola yang telah ditentukan. Selanjutnya ditarik erat-erat sehingga berkerut-kerut, lalu dimasukkan ke dalam larutan pewarna kain.

Kain jumputan biasanya memiliki motif yang memenuhi seluruh bahan. Kain jumputan yang ada di Palembang biasanya menggunakan bahan sutera, dan memiliki berbagai macam motif, antara lain motif bintik tujuh, kembang janur, bintik lima, bintik sembilan, cuncung (terong), bintang lima, dan bintik-bintik.

Eloknya pesona kain jumputan ini memberi bukti masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya yang masih ada di Palembang dan bagi konsumen yang tertarik mengoleksi jumputan, dapat mengunjungi lokasi penjualan kain khas Bumi Sriwijaya di kawasan 26 ilir sebagai sentral pengrajin kaim tenun atau di pasar tradisional.

"Sekarang sudah banyak, tapi sentralnya di kompleks pertokoan Ramayana atau di pasar 16 ilir Palembang," kata dia.

4. Harga jual kain jumputan tergantung motif, bahan, hingga tingkat kesulitan

Menilik Eksistensi Jumputan di Palembang, Kain Motif Hasil PencelupanIlustrasi kain jumputan khas Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Karena pembuatan kain jumputan yang cukup rumit, untuk harga rata-rata di pasaran berkisar Rp250 ribu hingga jutaan rupiah. Harga ini tergantung bahan, tingkat kesulitan, serta model busana yang dijahit.

Keunikan jumputan terletak pada warna yang cerah dan bervariatif. Motif kain jumputan Palembang menggunakan dua atau tiga warna. Warna-warna tersebut umumnya adalah warna berani yang cukup kuat seperti merah, hijau, dan kuning.

Sedangkan dari motif, tidak terlalu banyak mengalami perubahan dan masih mempertahankan motif tradisional di antaranya kacang hijau, sasirangan atau titik tujuh.

"Dulu, teknik jumputan biasanya diaplikasikan pada kain sutra pelangi. Namun, peminat kain sutra pelangi biasanya lebih ke orang tua. Sehingga pengrajin kain jumputan Palembang pun melakukan inovasi," jelas Vebri.

Baca Juga: Kenalkan, Gambo Batik Khas Muba yang Jarang Diketahui Banyak Orang

5. Jumputan yang dibuat secara manual menghasilkan kain dengan kualitas lebih bagus

Menilik Eksistensi Jumputan di Palembang, Kain Motif Hasil PencelupanIlustrasi kain jumputan khas Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Menurut Ayla Kirana, salah satu pedagang kain jumputan di Jalan Brigadir Jendral Hasan Kasim Palembang, kini jumputan tak hanya diaplikasikan pada kain sutera pelangi, tetapi juga pada kain sutera kerut, katun, dan bahan silk.

Dia menambahkan, kualitas kain jumputan lebih tahan lama bila prosesnya dibuat secara manual, mulai dari melukis motif, menjahit jumputan, hingga mencelup warna.

Pembuatan jumputan dengan menggunakan mesin memang lebih cepat dan produksi lebih tinggi. Namun, menurut dia, kualitas secara manual akan membentuk motif jumputan yang lebih kuat ketimbang hasil pola motif yang dicetak.

Di sisi lain, jumputan yang berkualitas jelek, biasanya kurang diminati konsumen. Terkadang kalau secara instan menggunakan mesin pencetakan, sistem pewarnaan menjadi cepat luntur sehingga membuat pembeli egan mengambil jumputan tersebut meski motifnya tampak rapi.

Maka itu, sambung Ayla, pedagang perlu menjaga kualitas. "Terutama dalam hal pewarnaan agar tidak luntur juga pada motif dan warna," ujar designer asal Palembang itu.

6. Kulit jengkol bisa menjadi pewarna alami kain jumputan loh

Menilik Eksistensi Jumputan di Palembang, Kain Motif Hasil PencelupanProses pembuatan kain jumputan khas Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Dari informasi yang diterima IDN Times, kain jumputan merupakan bagian dari kain songket yang menjadi kain istimewa pada masa Kesultanan Palembang Darussalam.

Namun seiring waktu, kain jumputan makin berinovasi dan modern sesuai permintaan pasar dan konsumen. Bahkan saat ini, banyak pengrajin menggunakan bahan pewarna alami untuk menghasilkan kain jumputan yang lebih aman bagi kulit.

Salah satu yang dilirik adalah memanfaatkan limbah yang tidak terpakai, seperti kulit jengkol. Banyak yang gak tahu, limbah jengkol ini bisa menghasilkan warna lembut untuk pewarnaan utama kain jumputan loh.

Pemanfaatan limbah jengkol ini juga dilakukan pemilik Butik Palembang Sege, Maruk Yulianto atau lebih dikenal Cahya Sege. Berawal dari banyaknya kulit jengkol di sekitar rumah, ia memilih memanfaatkan limbah tersebut sebagai pewarna alami untuk kain jumputan yang dia produksi.

Meski warna yang dihasilkan tidak terlalu beragam, namun limbah jengkol memiliki ciri khas yang tidak didapat dari pewarna sintetis.

"Awalnya pewarna alami dari duku, durian, kayu tanaman kelengkeng dan manggis. Tapi, karena stok buah-buahan tergantung musim, makanya pilih kulit jengkol karena mudah didapat," kata Maruk Yulianto.

7. Limbah jengkol dapat dicampur dengan bahan lain agar warna lebih pekat

Menilik Eksistensi Jumputan di Palembang, Kain Motif Hasil PencelupanLimbah jengkol pewarna alami kain jumputan khas Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Ia menerangkan, pembuatan pewarna dari kulit jengkol cukup mudah dilakukan. Kulit jengkol yang dikumpulkan direndam dalam air khusus, yakni air hujan atau air murni hasil penyulingan. Biasanya, Maruk Yulianto menggunakan air conditioner (AC).

Komposisinya, satu kilogram bahan pewarna direndam dalam dua liter air selama 24 jam.

Setelah perendaman dilakukan, air bersama bahan kemudian dipanaskan hingga mendapat setengah dari jumlah air. Dari 20 liter menjadi 10 liter. Hasil pemanasan itulah yang akan dijadikan pewarna.

Untuk mengatur kepekatan warna, pewarna dicampur dengan bahan lainnya sebagai pelekat warna. "Seperti kapur, tawas, gula merah, dan tunjung atau besi dua sulfat," terang Maruk Yulianto.

Sedangkan bahan tawas atau kapur menghasilkan warna yang lebih muda. Untuk warna abu-abu, dicampur menggunakan tunjung.

Selanjutnya, kain bisa dicelupkan ke dalam bahan tersebut atau disiramkan. Namun, ia lebih memilih melakukan penyiraman bahan berulang-ulang ke kain jumputan yang akan diwarnai.

"Kalau pengrajin lain biasanya dicelupkan. Tetapi saya lebih memilih melakukan penyiraman berulang kali. Disiram lalu ditiriskan dua jam lalu disiram lagi sampai warna yang kita inginkan sudah terbentuk. Biasanya sampai 9 kali siram," jelas pemilik instagram @plg_sege itu.

8. Pewarnaan alami dari tumbuhan memerlukan lima tahap pembuatan jumputan

Menilik Eksistensi Jumputan di Palembang, Kain Motif Hasil PencelupanIlustrasi pembuatan kain jumputan Palembang berbahan pewarna alami dari tumbuhan (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Senada dengan Maruk, owner Galeri Wong Kito Anggi Fitrilia di Kecamatan Ilir Barat 2 Palembang, lebih memilih pewarnaan alami dalam pembuatan kain jumputan. Biasanya, ia memakai zat warna dari tumbuhan serat-serat pohon, dan larutan dari serbuk kayu-kayuan.

"Ada lima tahap membuat jumputan, mulai dari pembuatan motif, proses mordan kain, proses pembuatan jumputan, proses pembuatan zat warna alam pada tumbuhan dan proses pewarnaan jumputan," kata dia.

Dalam proses pembuatan kain jumputan, sambungnya, hal terpenting adalah menyiapkan alat dan bahan seperti pensil, cutter, jarum kasur, paku payung, pendedel dan lainnya, serta menyediakan bahan.

Meliputi karton padi/ karpet (untuk pembuatan motif), hingga bahan pewarna (gambir, secang, tingi, tegaran, indigo) yang nantinya difiksasi dengan tawas, kapur, dan tunjung.

"Pembuatan motif harus benar-benar di perhatikan, biasanya yang dilukis motif lupis, titik tujuh, sumping, gelombang dan banyak lagi sesuai permintaan," sambung dia.

9. Gambir bisa menjadi bahan alami pewarna kain jumputan

Menilik Eksistensi Jumputan di Palembang, Kain Motif Hasil PencelupanIlustrasi pewarnaan bahan alami di kain jumputan Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Kemudian untuk proses pewarnaan kain jumputan, Anggi melakukan pencelupan pada motif secara manual. Karena semakin sering dicelupkan, warna bahan alami makin bagus.

Sedikitnya, kata dia, butuh 10 hingga 20 kali pencelupan agar warna yang dihasilkan bisa bagus. Makanya, untuk menyelesaikan satu kain jumputan bisa satu minggu. 

Bahan alami yang digunakan bisa menghasilkan warna-warna berbeda, misal gambir jadi warna hitam, orange, hijau, lumut dan kuning. Jika menggunakan tegaran, bisa menghasilkan warna kuning dan cokelat.

"Kalau dari serbuk mahoni menghasilkan warna cokelat muda dan cream. Sedangkan serat secang menghasilkan warna pink, ungu dan peach. Ada lagi warna dari fermentasi daun indigo vera yang menjadi warna biru dan hijau," terangnya.

Anggi menjelaskan, pembuatan kain jumputan yang diproduksinya sama seperti teknik pembuatan kain jumputan pada umumnya. Hanya saja, kain jumputan Galeri Wong Kito berbeda dari bahan dasar pewarnaan kain.

"Cuma kita pakai pewarna alami. Sempat dulu pake warna tekstil tapi beralih ke pewarna alami. Karena, ternyata larutan dengan pewarna tumbuhan ini menciptakan warna natural dan lebih berwarna kalem tidak terlalu mencolok," jelas dia.

10. Cara membuat kain jumputan ala Galeri Wong Kito

Menilik Eksistensi Jumputan di Palembang, Kain Motif Hasil PencelupanIlustrasi kain jumputan khas Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Berikut cara pembuatan kain jumputan ala Galeri Wong Kito:

Alat: 
1. Pensil 2. Mistar 3. Cutter 4. Jarum Kasur 5. Paku Payung 6. Pendedel 7. Sarung Tangan 8. Baskom Besar 9. Baskom kecil (ember) 10. Jemiuran 11 .Triplek 

Bahan: 1. Karton Padi/ Karpet (untuk pembuatan motif) 2. Bahan Kain (Viskos) 3. Tali Rapia 4. Bahan Pewarna  (gambir, secang, tingi, tegaran, indigo) 5. Fiksasi (tawas, kapur dan tunjung) 

1. Proses Pembuatan Motif: 

- Pilih Gambar yang akan dilukis untuk menjadi motif pada kain

- Ukur dan Potong karton Padi (karpet) sesuai dengan ukuran gambar motif yang diinginkan 

- Jeplak Gambar dan pmdahkan pada kain padi (karpet) 

- Kemudian dilubangi gambar tersebut dengan menggunakan cutter agar dapat menjeplakan motif pada kain yang akan diproses menjadi jumputan 

- Motif gambar yang dinginkan selesai siap untuk dijadikan contoh motif 

2. Proses Mordan Kain : 

- Kain dicuci dengan TRO (detergen bubuk) dicuci, dibilas dan tiriskan 

- Kemudian panaskan 3 liter air setelah uap mengepul masukkan 3 sdm bubuk tawas dan soda ash 1/4 sdm hingga mendidih 

- Kemudian masukkan hingga terendam dan rebus hingga 1 Jam, kemudian diamkan 12-24 Jam.

- Setelah itu bilas dengan TRO (detergen bubuk) dan air bersih dan keringkan dengan dijemur.

3. Proses Pembuatan Jumputan:

- Bahan di letakkan pada triplek dan sisi ujungnya direkatkan dengan paku payung agar tidak bergeser ketika motif dilukis (dijiplak) 

- Lukis motif berdasarkan gambar yang diinginkan

- Setelah itu dijelujur dengan menggunakan tali rapiah yang dibelah menjadi gulungan kecil agar muat pada jarum (tali dipastikan tidak putus ketika dijelujur dan panjang disesuaikan agar tidak ada sambungan ditengah ketika menjumput) 

- Setelah semua motif gambar dijelujur kemudian dilanjutkan dengan menjumputnya satu-satu sampai selesai 5. Kaon selesai dijumput dan siap untuk diwarnai pewarna alam 

4. Proses Pembuatan zat warna alam pada tumbuhan: 

- Tanaman zat penghasil warna dicuci (jika dalam keadaan kurang bersih) 

- Untuk tanaman zat warna (secang, tingi, ketapang, jengkol, jelawe, tegaran dll) dengan perbandingan 1 kg direbus dengan 6 liter air dan disusutkan menjadi 3 liter agar warna lebih kental dan pekat 

- Setelah itu dinginkan dan masukkan kedalam wadah (drigen) 

- Zat warna siap digunakan

5. Proses Pewarnaan Jumputan: 

- Kain yang telah selesai di jumput kita rendamkan sambil dipijat-pijat agar Serat kain menyerap dengan zat pewarna

- Setelah itu ditiriskan sampai air tidak menetes, kemudoan dicelupkan lagi beberapa kali sesuai warna yang kita iginkan (semakin sering dicelup maka warna semakin pekat) 

- Kemudian difikasi dengan tawas, kapurdan tunjung (Pilih salah satu) untuk mengunci warna yang dihasilkan oleh zat warna alam tersebut 

- Memberikan fiksasi dengan tunjung akan memberikan efek warna gelap, sedangkan tawas dan kapur memberikan efek warna natural.

Misal Pewarnaan dengan tanaman zat warna 

Secang : Tunjung ---------Ungu 

Tawas ----------Pink Muda 

Kapur ----------Pink fanta

Gambir: Tunjung ----------Kehijauan, abu-abu, Hitam 

Tawas --------Kuning muda 

Kapur ---------Kuning Gading, Orange, Coklat 

- Setelah di fiksasi dan warna sesuai dijemur sampai dengan cara diangin-anginkan 

- Untuk memberikan efek beberapa warna salah satu sisi kain kita bungkusdan dilanjutkan dengan pewarnaan kembali 

- Setelah kering Jumputan dibuka dengan menggunakan Pendedel secara perlahan agar kain tidak robek 

- Setelah semua dibuka jumputannya dan motifpun terlihat kita lanjutkan dengan pencucian kain jumputan tersebut sampai wama air cucian menjadi jernih. 

- Kain Jumputan dianginkan sampai kering, kemudian difinishing dan kain siap untuk dijual.

Baca Juga: Bahtera Sriwijaya Penghubung Sumsel-Babel Dirancang Seperti Suramadu

Topic:

  • Feny Maulia Agustin
  • Ita Lismawati F Malau

Berita Terkini Lainnya