Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tradisi Jelang Imlek: Ritual Antar Dewa ke Langit dan Cuci Patung
Tradisi Jelang Imlek: Ritual Antar Dewa ke Langit dan Cuci Patung (IDN Times/Dokumen)

Intinya sih...

  • Ritual cuci patung di Kelenteng Tri Dharma Chandra Nadi menjadi tanda dekatnya perayaan Imlek. Pengurus klenteng menjelaskan bahwa ritual ini dilakukan sesuai keyakinan dan hanya boleh dilakukan setahun sekali menjelang Imlek.

  • Klenteng Tri Dharma Chandra Nadi merupakan kelenteng tertua di Palembang, berdiri sejak 1773. Selain ritual cuci patung, klenteng ini juga ramai dikunjungi umat Tionghoa jelang Imlek untuk berdoa.

  • Momen Imlek di kelenteng ini turut semarak dengan pemasangan lampion merah yang melambangkan kesejahteraan, ketenaran, dan kemakmuran. Kelenteng ini juga tidak menyediakan tradisi sesajian dari darah babi dan an

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Aroma dupa dan gantungan lampion warna merah jadi penanda kemakmuran di kelenteng tertua Bumi Sriwijaya, Kelenteng Tri Dharma Chandra Nadi atau Soei Goeat Kiong Palembang. Selain jadi simbol Imlek makin dekat, ragam aksesori di kelenteng itu pun menambah kemeriahan pergantian tahun baru China.

Tak hanya nuansa serba meriah dari warna merah, momen Imlek kian kental makin terasa ketika ritual cuci patung berlangsung di Kelenteng Tri Dharma Chandra Nadi. Ritual ini adalah kegiatan rutin yang dilakukan sesuai keyakinan.

1. Sebelum ritual cuci patung pengurus melakukan sembahyang

Menilik Ritual Cuci Patung Antar Dewa di Kelenteng Tertua Palembang (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Menurut Pengurus Klenteng Tri Dharma Chandra Nadi, Tjik Harun, cuci patung dan mengantar Dewa merupakan kebiasaan rohani yang dilakukan umat Konghucu Palembang. Apalagi, kegiatan ini selalu dilakukan saat mendekati perayaan Imlek.

"Kami sembahyang pada malam sebelum pencucian. Setelah Dewa-Dewi diyakini naik ke langit, barulah proses pencucian patung diperbolehkan. Jadi tidak boleh sembarangan. Setelah Dewa-Dewi berangkat (ke langit), berarti posisi rupang (patung) itu kosong. Barulah bisa kita bersihkan dan mulai diturunkan dari altar," ujarnya.

2. Pencucian patung berlangsung dari pagi hingga sore

Tradisi Jelang Imlek: Ritual Antar Dewa ke Langit dan Cuci Patung (IDN Times/Dokumen)

Diketahui, Klenteng Tri Dharma Chandra Nadi memiliki luas 7 hektar. Ketika jelang Imlek, rumah ibadah etnis Tionghoa paling tua di Kota Pempek ini selalu ramai dikunjungi umat untuk berdoa.

Kelenteng yang berada di kawasan 9/10 Ulu ini berdiri kokoh sejak 1773 pada masa Kesultanan Palembang Darussalam dan kolonial Belanda.

Tjik Harun bercerita, waktu proses cuci rupang atau patung, pakaian patung dewa yang lama wajib diganti dengan yang baru. Apalagi jika baju-baju para dewa dan dewi sudah kotor. Pergantian pakaian itu hanya boleh dilakukan satu tahun sekali menjelang Imlek.

Ketika bersih-bersih, cuci patung pun tak bisa dilakukan sembarangan. Proses pencucian menggunakan pembersih dan braso. Selanjutnya, patung-patung tersebut dibilas dengan air tujuh rupa yang sudah dicampur arak putih.

"Tujuannya agar patung kembali bersih dan wangi. Pencucian patung ini selesai sehari, biasanya dilakukan dari pagi sampai sore,” timpalnya.

3. Pemasangan lampion di kelenteng jadi pengharapan baru

Tradisi Jelang Imlek: Ritual Antar Dewa ke Langit dan Cuci Patung (IDN Times/Dokumen)

Tak hanya cuci patung, kemegahan momen Imlek di kelenteng tertua Palembang turut semarak dengan pemasangan lampion yang sering dimaknai dengan pengharapan baru. Merah mencolok menjadi warna dasar lampion sering diartikan sebagai simbol kesejahteraan, ketenaran, dan kemakmuran.

Fakta lain tempat ibadah ini adalah kelenteng tak menyiapkan tradisi sesajian dari darah babi dan anjing bagi para leluhur. Hal itu karena adanya kisah warga Tionghoa yang menikah dengan umat Muslim berkaitan dengan sejarah Pulau Kemaro dan Kampung Kapitan.

"Selaras legenda Putri Palembang, Siti Fatimah yang merupakan seorang muslim, menjadi istri seorang Pangeran Cina bernama Tan Bon An, sehingga untuk menghormati leluhur mereka yang muslim tidak dibolehkan untuk memakai darah binatang yang diharamkan di Islam," jelas dia.

Editorial Team