Sriwijaya FC latihan (IDN Times/Feny Maulia Agustin)
Akibat situasi buruk karena krisis keuangan, banyak dampak negatif yang diperoleh tim. Salah satu yang sangat terasa adalah situasi internal manajemen klub yang tidak bisa mencari pemain profesional. Bahkan, perencanaan tim dilakukan secara darurat dan jangka pendek, tanpa visi pembangunan jelas.
Struktur kepelatihan Sriwijaya FC juga bisa dibilang jauh dari ideal. Salah satu indikasi paling nyata adalah minimnya staf pelatih pendukung, termasuk absennya pelatih khusus untuk posisi tertentu seperti penjaga gawang.
Manajemen yang tidak stabil ini, memicu pergantian pelatih dan pemain dalam waktu singkat, sehingga tim tidak pernah memiliki fondasi taktik dan chemistry yang solid. Akibat situasi tak pasti, internal manajemen SFC tidak bisa menciptakan suasana kerja kondusif, baik bagi pemain lokal maupun pemain berpengalaman yang seharusnya menjadi tulang punggung tim.
Imbas lain yang kini dialami SFC usai tak memiliki sponsor, adalah penurunan prestasi drastis hingga membuat klub kehilangan identitas. Sriwijaya FC sekarang menjadi tim yang mudah ditembus dan kehilangan arah permainan.
Rentetan kekalahan, kebobolan dalam jumlah besar, serta posisi juru kunci klasemen menjadi pemandangan yang berulang. Apalagi, kekalahan 0-15 pada akhir Januari lalu bukan sekadar hasil buruk dalam satu pertandingan, melainkan refleksi dari kerusakan sistematik di tubuh klub secara mental.
Singkatnya klub ini perlahan gulung tikar dan hilang arah. Ancaman degradasi bukan saja tentang turun kasta, tetapi menyangkut kelangsungan hidup klub sebagai entitas profesional. Karena, bagi klub yang punya sejarah panjang dan basis suporter besar, bayangan degradasi bisa jadi arti kebangkrutan fungsional. Yakni, kondisi klub masih adala secara administratif, tetapi tidak lagi mampu menjalankan perannya sebagai organisasi sepak bola profesional.