Comscore Tracker

Curhat Pekerja Seni Palembang: Bagai Hidup di Batu Karang

Stimulus tidak menjangkau seluruh pekerja seni

Palembang, IDN Times - Enam bulan sudah pekerja seni di Bumi Sriwijaya terpaksa berhenti nyeni akibat pandemik COVID-19. Mereka pun terpaksa banting stir mencoba pekerjaan lain untuk menghidupi keluarga. 

Kamsul A. Harla, pencipta sekaligus penyanyi lagu 'Ya Saman' ini, mengaku harus membuka link pergaulan dan menjalankan usaha lain agar dapat bertahap hidup. Sejak pandemik terjadi, pendapatannya kian menurun dari bidang kesenian.

"Jelas pasti terdampak seluruh lapisan masyarakat, apa lagi seniman yang bergantung pada karya, kondisi masyarakat luas dan kerumunan. Dengan kondisi seperti saat ini, seluruhnya jadi terbatas dan berdampak signifikan bagi pendapatan," ujar Kamsul A. Harla saat dihubungi IDN Times, Selasa (8/9/2020).

1. Seluruh acara yang bersifat komersil terhenti akibat pandemik

Curhat Pekerja Seni Palembang: Bagai Hidup di Batu KarangKesenian Palembang Dul Muluk (IDN Times/DKP)

Kamsul menuturkan, kondisi pandemik membuat kehidupan seniman terutama dirinya yang hidup dari berkarya makin susah dan pas-pasan. Tawaran acara yang biasanya berdatangan, berubah kosong sejak pandemik. Acara profesional yang bersifat komersil bahkan terhenti. Dirinya hanya mengisi acara-acara yang bersifat sukarela, seperti acara keluarga atau teman.

"Sebelum pandemik sudah hidup di batu karang, apa lagi dengan keadaan sekarang makin lebih ke dalam," ujar dia.

Kamsul tidak membantah jika sudah ada beberapa bantuan sosial yang ia terima. Hanya saja, bantuan itu tidak menyelesaikan persoalan. Menurutnya, stimulus itu hanya bersifat sementara, sedangkan pandemik terus terjadi hingga saat ini. Bantuan sembako yang diterimanya berjangka satu kali untuk enam bulan.

"Sembako sempat, cuma tidak menyelesaikan masalah. Para seniman harus menghadapi kondisi ini berbulan-bulan," jelas dia.

Baca Juga: Terdampak Corona, Seniman Bandung Minta Pemerintah Buat Sistem Khusus!

2. Harapan para seniman untuk hidup layak sejak sebelum pandemik

Curhat Pekerja Seni Palembang: Bagai Hidup di Batu KarangKamsul A Harlan seniman Kota Palembang (IDN Times/istimewa)

Kamsul melihat, pemerintah hanya memberi janji mengenai kehidupan layak untuk para seniman. Sejak sebelum pandemik, janji itu sudah diobral oleh pemerintah. Banyak seniman sebelum pandemik memutar cara agar bertahan hidup, seperti berjualan untuk menyambung hidup dan menunjang kesenian.

"Saat ini pemerintah harus memikirkan bagaimana seniman bisa lebih baik, itu kan harapan dari puluhan tahun oleh para seniman," jelas dia.

Baca Juga: Ngadu ke Mahfud, Butet Kecewa Cara Menteri Jokowi Perlakukan Seniman

3. Seni bergantung keramaian terhalang kondisi pandemik

Curhat Pekerja Seni Palembang: Bagai Hidup di Batu KarangSeniman Palembang tampil dalam Artnormal (IDN Times/DKP)

Ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP), Iqbal Rudianto menuturkan, pandemik COVID-19 membuat semua sendi kehidupan lesu, termasuk ekonomi. Kegiatan kesenian yang ditunjang keramaian tak bisa bertahan, sehingga gairah pekerja seni belum memberikan angin segar.

"Kita menyesuaikan kesenian di era pandemik dengan melakukan pertunjukkan digital dan media sosial. Masih banyak kreatifitas yang bisa dilakukan, mau tidak mau pekerja seni menyesuaikan di era kenormalan baru," jelas dia.

Baru-baru ini, DKP yang membawahi enam jenis kesenian seperti Sastra, Tari, Teater, Musik, Film dan Seni Rupa, melakukan pertunjukkan terbatas bertajuk Artnormal. Tujuannya, menjaga semangat pekerja seni di Palembang.

"Artnormal kita lakukan selama tiga hari demi menyemangati pekerja seni. Kami berinisiatif untuk mengadakan webinar dan gelar karya, yang di dalamnya kita berdiskusi terkait menyikapi pandemik dan kenormalan baru. Alhamdulillah pekerja kreatif masih bekarya seperti biasa," jelas dia.

4. Berbagai stimulus belum menjangkau semua pekerja seni

Curhat Pekerja Seni Palembang: Bagai Hidup di Batu KarangKesenian Wayang Palembang (IDN Times/DKP)

Dari data DKP, Iqbal mencatat ada 2.000 lebih pekerja seni di Kota Palembang. Selama ini, sudah ada upaya dari pemerintah pusat membantu pekerja seni agar bertahan hidup di situasi pandemik.

"Kalau total keseluruhan bantuan belum semua menjangkau pekerja seni, namun ada juga pekerja seni juga yang mampu, mereka masih bisa survive dan tidak mau menerima bantuan. Bantuan diberikan ke teman-teman yang mau dan membutuhkan," jelas dia.

Terhitung sudah lima kali penyaluran bantuan untuk pekerja seni. Pertama, DKP berhasil menyuarakan kondisi pekerja seni dengan inisiatif mencari donatur dan rekanan yang mau memberikan bantuan. Dalam penggalangan dana itu terkumpul 425 paket sembako dan sejumlah uang.

"Bantuan kedua dan ketiga, kita mendapat bantuan dari tokoh publik dan politikus. Kita menghargai niat tokoh ini membantu, meringankan kondisi pekerja seni," ungkapnya.

Lalu ada juga dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi kreatif (Kemenparekraf) atau Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)/

"Untuk pemerintah daerah kita sempat berkoordinasi, tetapi bantuan khusus pekerja seni belum ada. Jadi sifat bantuan dicampur dengan bansos yang disalurkan Dinsos. Pekerja seni diminta mendaftar ke Ketua RT masing-masing," jelas dia.

5. Cara lain bertahan hidup di tengah pandemik

Curhat Pekerja Seni Palembang: Bagai Hidup di Batu KarangAcara Art normal dewan kesenian Palembang baru-baru ini (IDN Times/DKP)

Cara lain yang dilakukan pekerja seni di Palembang untuk mendapat stimulus, mereka mengikuti kegiatan seni dari rumah yang diadakan pemerintah pusat. DKP mengirim empat video kesenian Palembang seperti Dul Muluk, Monolog, Musik Batang Hari Sembilan dan Wayang Palembang.

Video tersebut diseleksi. Bagi yang berhasil terpilih bakal mendapat stimulus dari pusat sebesar Rp1 juta. Hal itu menurut Iqbal menjadi motivasi pekerja seni untuk berkarya di tengah pandemik.

"Empat komite yang kita kirimkan masuk 200 video yang diseleksi pemerintah. Para pelaku seni yang terpilih mendapat stimulus. Ini juga termasuk usaha yang kita lakukan untuk bertahan di tengah pandemik," tutup dia.

Baca Juga: 18.802 Mahasiswa di Sumsel Mendapat Bantuan Rp1 Juta untuk 2 Semester

Topic:

  • Rangga Erfizal
  • Deryardli Tiarhendi

Berita Terkini Lainnya