Deretan genteng produksi perajin asal Mayong Jepara tengah ditata oleh seorang penjual d toko Genteng Anugerah Genteng Medoho Gayamsari Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)
Dirinya pun menyayangkan kenapa Gentengisasi baru diwacanakan sekarang. Padahal jika memang ingin industri properti maju, upaya Gentengisasi harusnya sudah digagas sejak lama. Sehingga bisnis properti di daerah berkembang cepat.
"Saya melihat peran pemerintah sendiri baru sekarang terpikirkan. Jika sudah layak ya masyarakat memiliki hunian yang layak dan terjangkau dan keindahan, serta harga jual tinggi," katanya.
Sementara membahas inovasi properti di Sumsel, saat ini kondisi industri material terus berkembang. Ia mencontohkan, dalam dunia industri sudah banyak pembaruan terkait material bangunan.
"Sudah banyak genteng lama yang terbuat tanah liat tergantikan inovasi seng metal. Kenapa demikian? Karena genteng lama masih menggunakan bahan baku tanah liat, proses pengerjaan lama dan kelebihan menjadi sedikit. Tetapi memang secara kenyamanan, genteng tanah liat lebih adem dibanding seng metal dan lebih awet, tahan lebih lama," jelas Zewwy.
Lalu lanjutnya, alasan perumahan lebih banyak menerapkan penggunaan seng metal karena penanganan kerusakan lebih sederhana, cepat, praktis. Tetapi memang kata Zewwy, sisi negatifnya adalah seng metal cepat korosi atau karat apalagi di tempat yang sering turun hujan.
"Jadi menurut saya penggunaan gentengisasi disesuaikan dengan kondisi dan situasi. Lihat juga dari lingkungannya, apakah tepat penggunaan genteng untuk rumah. Jadi penggunaan genteng untuk lingkungan no isu, sejak zaman nenek moyang dahulu juga sudah digunakan," kata dia.