Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tumpukan genteng hasil karya masyarakat.
Tumpukan genteng hasil karya masyarakat. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Intinya sih...

  • Program Gentengisasi Prabowo diharapkan mendorong penggunaan genteng tanah liat sebagai material atap rumah secara nasional.

  • Ketua DPD REI Sumsel menyambut baik program tersebut, namun menilai perlu perhatian khusus dan aturan jelas dalam penerapan.

  • Gentengisasi bisa memunculkan dampak baik dan mendorong keuntungan pelaku industri, tetapi proses aplikasinya membutuhkan waktu lebih lama dari pemakaian rumah dengan atap seng.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Palembang, IDN Times - Wacana gentengisasi yang digagas Presiden RI Prabowo Subianto beberapa waktu lalu direspons banyak pihak dari berbagai sektor, termasuk di Sumatra Selatan.

Salah satunya pendapat Real Estate Indonesia (REI) Sumsel yang menyebut bila gentengisasi bisa memunculkan efek untung-rugi serta memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing jika diterapkan di daerah-daerah.

Dari pernyataannya, Presiden Prabowo mengharapkan program tersebut bisa mendorong penggunaan genteng tanah liat sebagai material atap rumah secara nasional.

1. REI Sumsel sambut baik wacana gentengisasi

Menjemur Genteng (inin nastain/IDN Times)

Ketua DPD REI Sumsel Zewwy Salim, mengatakan, pihaknya menyambut baik atas program tersebut. Meski begitu, gentengisasi perlu mendapatkan perhatian khusus. Terutama dalam perkembangan industri perumahan dan melihat dari sisi pelaku terkait.

"Kita menyambut baik apa yang disampaikan pak Presiden Prabowo, tetapi secara umum harus benar-benar dilihat dari segi program prioritas," ujarnya.

Zewwy menyampaikan, sisi positif program Gentengisasi adalah mendorong semua bangunan di Indonesia terlihat layak. Apalagi katanya, banyak sekali infrastruktur di Indonesia terutama di pelosok kabupaten atau desa tidak memiliki atap rumah layak dan bahkan hanya tertutup seadanya.

"Yang mana rumah mereka atap rumahnya masih terbuat dari rumbia dan tertutup apa adanya," jelas dia.

2. Proses pemasangan genteng di properti butuh waktu lebih lama

Genteng siap dibakar (inin nastain/IDN Times)

Lebih lanjut Zewwy menilai, Gentengisasi bisa memunculkan dampak baik dan mendorong keuntungan pelaku industri. Tetapi ia tak menampik, dalam proses pelaksanaan program di lapangan bakal mengalami berbagai persoalan dan tantangan.

"Terdapat tantangan ke depan untuk mengimplementasikannya dan perlu aturan jelas dalam penerapan. Seperti fokus tujuan untuk rumah yang dibangun pengembang (properti) atau rumah warga tertentu," katanya.

Bicara dari teknis pembangunan, ia menyampaikan bahwa proses aplikasi pemasangan genteng membutuhkan waktu lebih lama dari pemakaian rumah dengan atap seng. Sebab, genteng di pasaran dijual dengan terbatas karena proses produksi pabrik alami dari pembuatan bahan tanah liat.

"Aplikasinya cukup lama dibanding seng, adanya stok terbatas dari pabrikan . Jika rumah itu memiliki progres pekerjaan yang harus dikejar kita harus menunggu," jelas dia.

3. Perumahan kini banyak memilih penggunaan seng metal ketimbang genteng

Deretan genteng produksi perajin asal Mayong Jepara tengah ditata oleh seorang penjual d toko Genteng Anugerah Genteng Medoho Gayamsari Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Dirinya pun menyayangkan kenapa Gentengisasi baru diwacanakan sekarang. Padahal jika memang ingin industri properti maju, upaya Gentengisasi harusnya sudah digagas sejak lama. Sehingga bisnis properti di daerah berkembang cepat.

"Saya melihat peran pemerintah sendiri baru sekarang terpikirkan. Jika sudah layak ya masyarakat memiliki hunian yang layak dan terjangkau dan keindahan, serta harga jual tinggi," katanya.

Sementara membahas inovasi properti di Sumsel, saat ini kondisi industri material terus berkembang. Ia mencontohkan, dalam dunia industri sudah banyak pembaruan terkait material bangunan.

"Sudah banyak genteng lama yang terbuat tanah liat tergantikan inovasi seng metal. Kenapa demikian? Karena genteng lama masih menggunakan bahan baku tanah liat, proses pengerjaan lama dan kelebihan menjadi sedikit. Tetapi memang secara kenyamanan, genteng tanah liat lebih adem dibanding seng metal dan lebih awet, tahan lebih lama," jelas Zewwy.

Lalu lanjutnya, alasan perumahan lebih banyak menerapkan penggunaan seng metal karena penanganan kerusakan lebih sederhana, cepat, praktis. Tetapi memang kata Zewwy, sisi negatifnya adalah seng metal cepat korosi atau karat apalagi di tempat yang sering turun hujan.

"Jadi menurut saya penggunaan gentengisasi disesuaikan dengan kondisi dan situasi. Lihat juga dari lingkungannya, apakah tepat penggunaan genteng untuk rumah. Jadi penggunaan genteng untuk lingkungan no isu, sejak zaman nenek moyang dahulu juga sudah digunakan," kata dia.

Editorial Team